Sepotong Perjalanan ke Alam Rimba

Oleh: Siti Utari Rahayu, S.Si

Sebuah catatan perjalanan ke Hutan Besitang, 20-22 Desember 2013

Hari ini hujan turun dengan cukup deras, membasahi bumi Allah yang sudah basah oleh rezeki-rezeki. Aku bergegas membenahi ransel yang akan kubawa menjelajah hutan di alam Besitang. Dengan berbekal doa dan kepercayadirian, aku pun beranjak ke sekolah dengan menggunakan becak motor.

Sesampainya di sekolah, berbagai urusan yang berhubungan dengan pembuatan nilai siswa mulai mengepungku, ditambah lagi amanah untuk mengatur siswa-siswi mengikuti kegiatan lomba.  Tetapi, semua amanah itu aku tangguhkan saat zuhur tiba. Aku dan beberapa orang siswa akan pergi menjelajah alam di Besitang. Guru yang mengikuti kegiatan ini hanya 3 orang dengan 33 orang siswa. Dengan mengendarai satu bus dan tiga mobil pribadi, kami berangkat ke Besitang. Sebenarnya, acara yang hendak dilakukan disana adalah English Camp, hanya saja kali ini sekolah bekerja sama dengan OIC (Orang Utan Information Centre) dalam pelaksanaannya.

Kami tiba di Stabat saat Ashar menjemput, segera saja kami singgah di mesjid untuk melaksanakan shalat Ashar. Disana anak-anak juga banyak yang membeli bakso bakar untuk mengisi perut mereka yang ternyata sudah cukup kosong. Di halaman mesjid yang berumput, aku duduk dan mendengarkan cerita anak-anak mengenai pertandingan futsal yang baru saja mereka menangkan. Selepas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Nyatanya, waktu yang kami tetapkan terlalu molor sehingga kami tiba di Besitang pukul 19.00 WIB, malam sudah datang dan kegelapan menyelimuti bumi Allah, apalagi kami berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Ternyata kami harus melewati hutan dan kebun kelapa sawit yang berjarak 1,5 km dengan berjalan kaki dalam kegelapan malam yang mencekam. Dan yang lebih memperparah situasi, sepatu yang kami kenakan tidak cocok untuk berjalan di atas trek yang berlumpur dan sebagian besar anak tidak membawa senter. Sebenarnya, melewati trek yang berlumpur dalam gelap tidak masalah bagiku, lalu bagaimana dengan anak-anak? Tetapi, satu hal yang membuatku merasa cukup kesal adalah aku tidak memakai sepatu yang cocok untuk ke gunung, sungguh menyebalkan.

Sekitar pukul 21.00 WIB, kami tiba di pondok yang dimaksudkan, anak-anak langsung saja mengantri di kamar mandi untuk membersihkan badan dan lumpur di tubuh mereka. Aku hanya menukar baju di sebuah kamar, dan kami pun mengadakan briefing untuk kegiatan besok.

Paginya, kami berjalan-jalan sebentar di hutan primer di sekitar pondok. Pak Ari dan Pak Panut sebagai tuan rumah memberikan beberapa pengetahuan mengenai habitat Orang Utan ini. Pekerjaan mereka di Besitang ini adalah untuk merestorasi kembali hutan yang rusak karena kebakaran hutan atau karena pembukaan perkebunan kelapa sawit secara illegal. Restorasi artinya menanam kembali hutan yang rusak dengan syarat tanaman yang ditanam adalah tanaman asli hutan tersebut. Hutan yang sudah mereka perbaiki selama 5 tahun ada beberapa hektar (hitungan aslinya aku sudah lupa), masih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan hutan yang telah dirusak.

Salah satu tujuan kami diundang ke Besitang ini adalah untuk mengenal habitat hutan dan menanamkan rasa cinta lingkungan. Di daerah sekitar pondok ini, kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, jadi berbagai sampah dipisah tempat pembuangannya, untuk sampah organik dapat dijadikan pupuk, sedangkan sampah plastik harus dibawa keluar dari hutan ketika meninggalkan hutan. Dan yang paling menarik, sampah plastik minuman atau pop mie dikumpulkan untuk dijadikan tempat penanaman bibit tanaman.

Kegiatan selanjutnya adalah menuju hutan sekunder untuk mencari bibit tanaman yang akan ditanam di hutan primer. Ketika masuk hutan, kaki harus dilindungi dengan kaus kaki dan sepatu, sebaiknya juga menggunakan krim penolak nyamuk untuk menghindari pacat atau lintah. Trek yang kami jalani tidaklah sulit, namun penuh dengan pacat yang kadang menampak-nampakkan dirinya di tengah jalan. Anak-anak sebagian ada yang menjerit kecil ketika melihat pacat, namun sebagian lain malah memainkan pacat tersebut di tangannya. Tanah di sekitar hutan tersebut berwarna merah dan sangat licin jika terkena air, namun, semakin kami berjalan ke dalam hutan, tanahnya semakin hitam dan mudah dijalani. Ternyata tanah merah tersebut awalnya adalah tanah hitam yang subur, tetapi adanya penanaman pohon kelapa sawit menjadikan tanah menjadi tidak subur karena pohon kelapa sawit sangat banyak mengambil nutrisi tanah.

Disana, kami mendapati biji yang bersayap merah, ternyata biji tersebut dari tanaman Meranti, kami pun mengambil biji tersebut dengan cukup banyak. Sepulangnya dari mengambil benih tanaman hutan, kami bersiap untuk menanam benih tersebut di polibag atau plastik bekas aqua dan pop mie. Tanah yang dipergunakan harus tanah di sekitar hutan, agar tanaman tersebut dapat dengan mudah beradaptasi ketika ditanam di hutan. Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kompos dari kotoran gajah. Ada cerita menarik mengenai kotoran gajah ini, ternyata kotoran gajah ini jika masih baru dikerluarkan si gajah sangat berbahaya karena mengandung berbagai bakteri. Pak Ari menceritakan kepada kami bahwa daerah di sekitar dadanya pernah terkena penyakit seperti kurap yang sangat parah akibat terkena sedikit kotoran gajah yang hendak dijadikan pupuk, tetapi penyakit tersebut sekarang sudah sembuh. Anak-anak mendengarkan dengan hikmat dan sedikit bergidik.

Sebelum menanam bibit yang baru dicari dari hutan, kami harus memisahkan bibit tanaman menjalar dengan bibit tanaman kayu. Bibit tanaman menjalar tidak dapat ditanam di hutan primer karena dapat merusak tanaman lain dengan lilitannya. Selepas pilah-pilih akhirnya kami mulai menanam bibit dalam polibag-polibag kecil. Beberapa anak tidak mau berpastisipasi karena merasa kelelahan dan merasa kegiatannya kurang menarik, tentu saja aku tak membiarkan mereka begitu saja. Kuambil beberapa polibag dan plastik aqua dan kusodorkan kepada mereka hingga mau tidak mau mereka mulai menanam polibag tersebut.

Oh ya, selain Pak Panut dan Pak Ari, rombongan kami juga ditemani oleh beberapa mahasiswa biologi Unimed, yaitu Indah, Sima, dan seorang lelaki yang aku tak tahu namanya, juga sepasang bule dari Prancis yang ingin membuat film dokumentari mengenai kerusakan lingkungan hutan, bule perempuan namanya Ms.Jennet, dan bule laki-laki namanya Mr.Imannuel.  Aku juga mengajak Ms.Jennet untuk sedikit bercerita tentang negaranya, tentu saja yang membuatku sedikit terkejut adalah bahwa di Prancis, simbol-simbol agama tidak diperbolehkan ada di semua institusi termasuk sekolah dan yang lebih mengejutkan adalah bahwa pelajaran agama tidak diajarkan di sekolah!

Siang harinya, anak-anak melakukan kegiatan surfing di padang ilalang. Sebagian besar anak mengira bahwa kegiatan surfing ini adalah kegiatan meluncur di atas ilalang, ternyata kegiatan surfing adalah kegiatan membabat ilalang dengan menggunakan sebilah papan bertali yang memang kelihatan seperti papan surfing. Anak-anak pun berlomba-lomba melakukan kegiatan surfing yang awalnya kurang mereka sukai ini. Setelah cukup banyak ilalang yang dibabat, mendung mulai menampakkan diri hingga kami harus bersegera menyudahi kegiatan surfing. Akhirnya, kami pun memulai kegiatan lain, yaitu menanam pohon di sekitar tempat yang akan direstorasi. Beberapa lubang sudah dipersiapkan oleh Tim OIC dan kami hanya menanam dari polibag, anak-anak pun dengan semangat melakukan kegiatan ini hingga hujan turun dan kami pun berlari kembali ke pondok.

Malamnya selepas makan malam dan beristirahat, ada presentasi kecil yang dilakukan oleh Dita dan Sasa membahas mengenai Kekerasan Sexual, mereka membawakan presentasinya dalan bahasa Inggris, karena memang kegiatan ini adalah kegiatan yang menunjang pembelajaran bahasa Inggris. Presentasi berlangsung dengan sangat baik. Selepasnya kami menonton bola dan beristirahat. Keesokan harinya, kami bergegas untuk mengepak-ngepak barang untuk pulang ke Medan.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari perjalanan yang singkat ini, yang pertama selalulah berusaha serius dan memperhatikan segala pemberitahuan yang diberikan kepada kita, sebagai contoh karena tidak menghiraukan pemberitahuan tentang perlengkapan yang dibawa, kami menjadi kesusahan dalam berjalan masuk ke hutan. Yang kedua, berusalah untuk tegar dalam segala situasi, ada banyak anak-anak yang jatuh ketika berjalan keluar hutan disebabkan trek yang licin akibat hujan, tetapi setiap kali terjatuh anak-anak tertawa dan mereka malah bangga dengan banyaknya mereka jatuh, walau baju kotor berlumpur tetapi mereka telah belajar untuk hidup tegar dan tanpa rasa takut. Perjalanan seperti ini sangat berkesan dan sangat dinanti.

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: