Tak Perlu Marah-Marah

Oleh: Siti Utari Rahayu

Minggu depan, anak-anak kelas 9 akan mengadakan Assembly, sebuah drama kecil. Untuk itu, saya sebagai walikelas harus melatih anak-anak tersebut. Karena ini adalah penampilan perdana maka rekan kerja saya tak mau hasilnya berantakan sehingga Jum’at lalu kami sudah berbagi peran untuk anak.

 

Masalah yang kami hadapi adalah sikap anak-anak kelas 9 yang masih terlalu kekanak-kanakan. Hampir semua siswa lelaki susah untuk disuruh memasuki ruangan, dan jika sudah masuk ke ruangan untuk briefing mereka lebih memilih ribut dan bercerita kesana-kemari. Saya sendiri sering sekali marah jika suasana tidak kondusif, hasilnya memang anak-anak akan diam, namun hanya untuk beberapa menit, dan efek samping lainnya, terdapat aura negatif di sekitar ruangan jika kemarahan sudah ditimbulkan.

 

Namun, saya melihat rekan kerja saya lebih memilih untuk meninggalkan marah dan merepet, tetapi melanjutkan diskusi peran dan memang akhirnya anak-anak lelaki itu diam dengan sendirinya. Kami juga sudah mengangkat bagian keamanan untuk mengamankan anak-anak yang ribut. Ketua keamanan itu tentu saja kami pilih dari anak yang ribut dan mempunyai kekuatan untuk mengatur teman-temannya.

 

Selepas makan siang, kami ingin mengadakan kembali briefing dengan anak-anak. Setelah menyuruh anak-anak masuk ke ruangan dengan sedikit suara tinggi, saya memasuki ruangan dan melihat anak-anak duduk dengan tidak kondusif. Rekan kerja saya membiarkan saja hal tersebut, dia masih berkutat dengan laptopnya untuk menyusun naskah drama, saya pun turut duduk di sampingnya.

“Bagaimana ini, Bu? Anak-anak sangat ribut,” ucap saya.

“Biarkan saja mereka, kita lihat, mereka sadar atau tidak,” jawab rekan kerja saya

Kami pun membiarkan anak-anak itu bercerita kesana kemari. Tetapi, lama-kelamaan mereka sadar dan ketua keamanan langsung mengatur anak-anak lelaki itu untuk diam dan akhirnya suasana pun menjadi kondusif. Setelah kondusif, rekan kerja saya memberikan motivasi bahwa ini acara mereka bukan acara kami sehingga jika mereka selalu tidak kondusif maka yang rugi adalah mereka. Singkat saja motivasinya dan tanpa ledakan kemarahan. Akhirnya briefing dan pembagian peran dapat kami lakukan dengan baik.

 

Saya melihat bahwa memang tidak perlu sering meledakkan marah dan merepet, anak-anak SMP sebenarnya sudah dapat melihat kondisi walau kadang mereka tidak dapat menahan emosi mereka untuk bercerita dan membuat keributan. Saya ingin mencontoh trik ini, dengan diam saat anak-anak ribut dan memperhatikan mereka, setelah suasana kondusif baru saya lanjutkan. Saya ingin mengurangi marah dan merepet, lebih baik jika kita memberi suasana positif dan menebarkan senyum. Semoga saya dapat melakukannya.

Tag:,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: