Guru Kelas

Oleh: Siti Utari Rahayu

Menjadi guru kelas atau yang lebih dikenal sebagai walikelas memanglah bukan pekerjaan gampang, tetapi bukan pula pekerjaan yang sulit atau dengan kata lain pekerjaan ini adalah pekerjaan yang susah-susah gampang. Pekerjaan ini dapat menjadi susah jika kita tidak dapat mengambil hati anak-anak, sedangkan perkejaan ini menjadi gampang jika kita dapat berkomunikasi dengan baik, baik dengan anak-anak maupun dengan orang tua atau wali murid.

 

Sebagai walikelas, kita membutuhkan banyak keterampilan dan menurut saya faktor terpenting dari hal ini adalah kecerdasan emosi. Komunikasi yang baik sebagai salah satu bagian dari kecerdasan emosi merupakan hal yang penting. Disini saya melihat walikelas harus dapat melakukan komunikasi dua arah yang seimbang. Selain memberikan masukan dan nasehat kepada anak-anak, walikelas juga harus banyak mendengarkan apa yang disampaikan anak-anak dengan emosi yang stabil. Jika tidak demikian, maka anak akan merasa diperlakukan dengan tidak adil. Hal ini saya alami sendiri dari pengakuan seorang anak yang merasa dirinya disalahkan karena sang guru tidak mendengarkan terlebih dahulu akar permasalahannya dan langsung menghukum.

 

Selain itu, sebagai walikelas kita harus dapat bersahabat dengan anak-anak sekaligus menunjukkan bahwa kita juga mempunyai power terhadap mereka. Bersikap tegas itu sangat diperlukan, tetapi humor juga merupakan hal penting yang tidak boleh dilupakan. Keduanya harus berjalan dengan seimbang. Dan salah satu saran dari saya yang mungkin ada benarnya, jika menghadapai kenakalan anak-anak, kita tidak perlu terlalu sering menunjukkan emosi negatif, dengan sedikit bersabar dan diam, beberapa atau bahkan semua anak sudah dapat mengerti kekesalan kita dan mereka pun turut diam. Namun, jika trik tersebut tidak berhasil, kita harus tegas setegas-tegasnya agar mereka tidak melupakan kejadian itu dengan menghindarinya. Perhatian juga mutlak diperlukan. Mengenai hal ini saya mempunyai pengalaman ketika saya menjadi walikelas VII, saya memiliki seorang murid yang sangat manja dan kebetulan pula dia sedang sakit yang sering kambuh ketika jam pelajaran berlangsung. Sehingga ketika belajar, dia meminta saya untuk memulangkannya, awalnya saya sering memulangkannya. Namun, saya melihat lama-kelamaan ini menjadi kebiasaan tidak baik yang dapat menjalar ke anak yang lain. Apalagi ketika sang anak menolak untuk masuk sekolah dengan alasan sakit yang sebenarnya masih dapat diantisipasi di sekolah. Hal ini masih berlangsung walaupun saya sudah berkomunikasi dengan orang tuanya, bahkan sang ibu sudah merasa geram dengan anaknya tersebut. Akhirnya saya mencoba untuk berkomunikasi dengan wakil kepala sekolah dan memanggil anak tersebut. Nyatanya anak tersebut masih belum berubah. Sebenarnya saya mengetahui satu cara yaitu dengan berbicara berdua dengan anak tersebut, tetapi selama ini saya tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Karena jika satu anak saya panggil, anak yang lain akan ingin tahu dan turut mendengarkan. Akhirnya, saya izin tidak mengawas shalat dhuha dan berbicara berdua dengannya, saya banyak mendengarkan pendapatnya dan ternyata anak tersebut menjadi lebih terbuka . Akhirnya dengan sedikit bujukan dan janji, anak tersebut mengerti dan semangat sekolah kembali. Nah, disitulah arti pentingnya perhatian yang saya maksudkan. Anak-anak butuh diperhatikan, oleh karena itu sekarang saya mencoba untuk lebih perhatian lagi, misalnya mengucapkan pujian ketika anak-anak sudah melakukan tugasnya dengan baik, misalkan tentang potongan rambutnya yang rapi, jilbabnya yang panjang, pakaiannya yang rapi, bahkan ulang tahunnya.

 

Hal penting lainnya adalah berkomunikasi dengan baik dengan orang tua murid. Saya mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan berkenaan dengan hal ini, pengalaman ini terjadi ketika saya baru pertama kali menjadi walikelas. Saat itu, sekolah kami mengadakan pertandingan antara kakak kelas dan adik kelas. Pertandingan itu diadakan dalam rangka MOS OSIS dan diadakan pada hari sabtu saat murid lain sedang libur. Ternyata saat pertandingan, salah seorang murid dari kelas saya tangannya terkilir, kami pun segera membawanya ke dukun patah dan diobati, saat itu saya juga berusaha menghubungi orang tuanya dan ternyata nomor handphone yang ada pada saya tidak aktif, saya pun ke kantor untuk meminta nomor handphone yang lain, juga tidak aktif. Akhirnya kami menunggu sang murid dijemput. Ketika dia dijemput kami meinta maaf kepada ayahnya yang menjemput dan ayahnya mengatakan tidak apa-apa. Nyatanya, setelah sang ibu mengetahui anaknya agak sedikit patah tulang dan harus dironsen, dia mendatangi sekolah dan meminta pertanggungjawaban sekolah melalui kepala sekolah. Dan, dapat ditebak bahwa saat itu saya mendapat teguran di rapat guru. Sejak saat itu saya selalu berusaha lebih maksimal lagi dalam berhubungan dengan orang tua murid. Memang sangat penting untuk berkomunikasi dengan orang tua murid, karena dengan jalinan komunikasi ini, sang anak akan terpantau keadaannya,baik di rumah maupun di sekolah. Komunikasi yang sering saya lakukan adalah melalui SMS dan telpon. Apalagi untuk beberapa anak yang sedikit bermasalah.

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: