Ayah…Ibu…Tolong Lindungi Aku!

Oleh: Siti Utari Rahayu

Lebaran dan silaturahim memang memberikan berkah tersendiri. Begitu juga dengan lebaran kali ini, saya berkunjung ke rumah salah satu dosen di universitas saya bersama dengan salah seorang kakak senior. Kakak itu kebetulan tinggal di kompleks perumahan yang sama sehingga kami bercerita tentang anak-anak di sekitar kompleks tersebut. Pembicaraan kemudian menuju ke topik “masalah-masalah anak dan remaja”, salah satu hal yang menjadi masalah yang kami bicarakan adalah seputar Game Online dan penyalahgunaan Internet.

Lalu  Ibu tersebut menceritakan bahwa pada suatu ketika temannya yang berasal dari London datang untuk suatu keperluan di Medan (Dosen saya ini pernah tinggal dan belajar di UK). Temannya tersebut membutuhkan internet untuk membuka email, namun karena pada saat itu, ibu itu belum memasang internet di rumah, temannya itu pun pergi ke warung internet. Begitu pulang dari internet, temannya itu sudah pucat. Dengan nafas naik-turun dia menanyakan apakah ibu itu memperbolehkan anaknya pergi ke warnet tersebut. Ibu itu mengatakan, “Tidak.”. Temannya itu menggangguk-angguk sambil mengatakan, “You’re right. Protect your children!”

Ternyata orang London tersebut sangat terkejut melihat kondisi warnet yang dimasukinya. Ada banyak anak-anak kecil yang bermain game kekerasan dengan kondisi warnet yang gelap bercampur asap rokok yang tiada henti. Juga speaker besar yang melantunkan lagu-lagu yang tidak cocok untuk anak-anak. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia mengatakan hal seperti ini tidak ada di London!!

Bayangkan saja se-jahiliyah apa bangsa kita! Bahkan negara seperti London yang mayoritas manusianya tidak mengerti agama bahkan ada yang tidak beragama ternyata lebih “Berotak” dibandingkan dengan negara kita yang mengaku bahwa “Ketuhanan yang Maha Esa” adalah prinsip negara dan bangsa yang nomor satu. Apa yang salah dengan negara ini?

Mungkin walaupun mulut kita asyik berkicau tentang “Ketuhanan yang Maha Esa”, namun hati dan kita pikiran kita masih melantunkan “Bisnis dan Bisnis” sebagai prinsip dasar perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak, bahkan anak-anak pun dijadikan komoditi yang sangat berharga. Game Online secara sengaja atau tidak sengaja ternyata telah melumpuhkan otak anak bangsa setidaknya 3 dari 10 anak di suatu daerah. Saya memang tidak mempunyai data statistik yang cukup kuat untuk mengatakan hal tersebut, tetapi saya berani menuliskan hal tersebut berdasarkan kenyataan yang ada di lingkungan sekitar saya. Bahkan, anak kelas 1 SD sudah “mahir” dalam bidang Game Online ini.

Ketika anak-anak sudah candu dengan Game Online ini, mereka akan cenderung malas belajar dan memikirkan berbagai cara untuk dapat terus memenuhi “kebutuhan” dalam bermain Game. Otak mereka memang menjadi cerdik, tetapi kecerdikan itu dipergunakan untuk mencari berbagai cara mendapatkan uang dalam membiayai “kebutuhan” bermain Game Online. Saya berani menuliskan pernyataan seperti ini berdasarkan cerita teman saya yang seorang guru SD. Dia menceritakan bahwa ada anak muridnya yang berani mencuri uang tabungan temannya juga berakting berbohong demi mendapatkan uang untuk dapat bermain Game Online satu malaman. Sungguh tragis, bukan?

Dan yang lebih tragis lagi, para pemilik warnet Game Online ini tidak memarahi anak-anak di bawah umur yang masuk ke warnet mereka, bahkan walau mereka tahu bahwa pada saat itu masih pada jam sekolah atau sudah larut malam. “Inilah bisnis!!” Mungkin begitulah dalam pikiran mereka. Bahkan, para pemilik warnet memang kebanyakan membidik “pasar anak-anak” sebagai suatu peluang usaha yang cukup menjanjikan, maka banyak didirikan warnet Game Online di dekat sekolahan. Kelurahan, Kecamatan, Pemerintah Kota, Kabupaten, Provinsi, bahkan mungkin Pusat ternyata tidak “aware” terhadap hal ini hingga ijin pendirian Game Online tetap dapat keluar, walau berada di daerah sekolahan.

Bermain Game Online, apalagi yang beredar di berbagai warnet di Indonesia ini bukanlah suatu hal yang wajar karena Game tersebut banyak mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Selain itu, anak-anak yang sudah terbiasa bahkan kecanduan bermain Game tersebut cenderung malas belajar, atau kalau pun belajar, ya belajar asal tamat saja. Padahal kita mengharapkan anak-anak ini sebagai generasi emas yang mempunyai visi dan misi dalam membangun Agama dan Bangsanya.

Orang tua juga seharusnya memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Saya melihat kebanyakan kasus terjadipada anak-anak yang kurang perhatian dari orang tuanya, karena kadang orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Guru juga seharusnya lebih memberikan perhatian bahkan penyuluhan mengenai keburukan Game Online ini. Pemerintah juga seharusnya lebih memberikan perhatian terhadap masalah pembangunan Game Online dan peraturan yang ketat mengenai Warnet, kalau perlu diadakan penyidakan yang intensitasnya cukup banyak.

Pendidikan yang baik di suatu negara memang faktor utama yang diperlukan dalam pembangunan, tetapi saya melihat alokasi pembiayaan yag dilakukan pemerintah sepertinya belum efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Ini semua karena selama ini sepertinya kita hanya melihat faktor-faktor internal pendidikan, seperti bagaimana cara guru mengajar yang efektif, dsbg. Tetapi kita sering mengabaikan faktor-faktor eksternal dunia anak yang menurut saya mengambil porsi terbanyak dalam penentu keberhasilan anak. Sepertinya kita perlu menghentikan sejenak penyuluhan tentang KB dan beralih ke penyuluhan tentang “Pengaruh Buruk Game Online dan Pornografi Pada Anak” kepada seluruh rakyat Indonesia.

Saya melihat ada banyak hal yang masih belum dibahas dalam artikel ini, mungkin saya akan menyambungnya lagi di lain kesempatan. Artikel amatir ini saya tuliskan hanya sebagai curahan hati atas kesedihan saya melihat kondisi di Indonesia. Jika ada kesalahan atau kata yang menyinggung saya mohon maaf.

Tag:, , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

2 responses to “Ayah…Ibu…Tolong Lindungi Aku!”

  1. LINK WISATA says :

    Reblogged this on linkwisata.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Posts of the Week #2 | KOLOR INI - 31/08/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: