MENILAI SESEORANG

Oleh: Siti Utari Rahayu

 Hari ini udara cukup ringan, tidak begitu mendung, tidak pula begitu panas. Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah took buku nasional, aku ingin mencari buku tentang tes GMAT/GRE. Biasanya ketika masuk ke toko tersebut, tas sandang boleh dibawa, tetapi kali ini aku harus menitipkan tasku, sebenarnya tidak masalah karena tasku cukup berat untuk terus disandang.

Setelah puas melihat harga, akhirnya aku memutuskan pulang dengan membeli kamus saku. Sudah menjadi keinginanku untuk mengurangi pemakaian plastik, oleh karena itu, begitu aku membayar buku, aku meminta agar tidak usah dibungkus plastik.Sebelumnya kulihat pejaga kasir melakukan sesuatu dengan kamusku tersebut. Aku agak heran, ada apa memangnya dengan kamus tersebut? Namun, setelah dia menyerahkannya kembali kepadaku, keherananku hilang. Alhasil, aku keluar dengan hanya membawa kamus kecil tersebut.

Sesampainya di tempat penitipan tas, ada dua hal yang membuat keherananku bertambah-tambah. Seorang ibu dapat masuk tanpa menitipkan tasnya, memang dari gaya pakaiannya sangat ketara bahwa ibu tersebut berasal dari kalangan menengah keatas. Sangat berlainan dengan gaya pakaianku yang konvensional. Keheranan yang kedua adalah satpam yang kebetulan sedang berada di tempat penitipan tas memintaku untuk menunjukkan kamus tersebut, Ada apa sih dengan kamus ini? Setelah memperhatikan beberapa saat, dia memintaku menyerahkan struk bukti pembayaran, dan aku pun menyerahkannya. Lalu, dia mengatakan, “Maaf ya Mbak, lain kali minta diplastikkan saja bukunya.” Oh, aku baru mengerti, dia menyangka bahwa aku mencuri buku tersebut. Aku tertawa kecil dan berlalu.

Dari dua keherananku tersebut, aku jadi berpikir bahwa ternyata selama ini orang-orang Indonesia banyak menilai seseorang dari apa yang dipakainya. Kewaspadaan memang mutlak perlu, tapi apakah ada orang sebodoh itu, orang yang membawa buku yang dicurinya secara terang-terangan, bahkan ke tempat penitipan tas? Kalau memang berniat mencuri, buku itu dapat saja dimasukkan ke kantong karena ukurannya kecil. Jadi, semua prasangka itu bisa jadi karena pakaianku hari itu begitu mengasal. Seperti jemuran berjalan sehingga orang-orang yang terbiasa melihat orang kaya mencurigaiku sebagai orang yang memang perlu dicurigai (Jangan-jangan mereka menganggapku seperti orang-orang yang sering datang ke rumah-rumah untuk meminta-minta?)

Namun, sudah menjadi keputusanku akan tetap tidak meminta plastik ketika berbelanja kalau aku berbelanja buku di toko itu lagi (Itu pun kalau aku mau, karena aku tahu toko yang lebih murah). Biar saja satpamnya capek mengatakan, “Maaf ya Mbak, lain kali minta diplastikkan saja bukunya.” setiap aku datang. Sampai ketemu Om Satpam!!

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: