Hujan di Mesjid Raya

Oleh: Siti Utari Rahayu

Medan, 16 Januari 2011 pukul 10 kurang beberapa menit. Langit cerah, jalanan padat, debu mulai naik, lampu merah menyala di Simpang Amaliun, aku pun menghentikan sepeda motor yang kunaiki, tepat di barisan depan.

“Koran!!Koran!!” Teriak seorang pengasong sambil menjajakan sebuah koran. Aku yang tengah memandangi lampu lalu lintas pun tak luput dari pengasong itu. “Korannya, Bang!” Tawar pengasong itu. Sebenarnya aku tak begitu suka membaca koran, tetapi karena melihat semangatnya, maka kubeli koran yang ditawarkannya. Walaupun harga koran itu hanya Rp.1000,- tetapi dia kelihatan sangat senang dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Ah, tak banyak orang yang bersemangat dan menghargai hidup seperti pengasong ini.

Lampu hijau menyala, aku belok ke arah kanan, hendak menuju Perpustakaan Daerah Medan. Tetapi begitu sampai di depan Mesjid Raya Medan, handphone di kantong celanaku bergetar. Aku pun meminggir ke trotoar depan mesjid Raya, ternyata Adli, temanku menelpon.

“Halo!”

“Halo, Rendi, udah dimana?” Tanyanya, terdengar suara berisik di sekitar tempatnya menelpon.

Udah di depan Mesjid Raya, kenapa?”

“Oh, tunggu aku di situ ya! soalnya aku hari ini naik angkot1, nggak naik kereta2, jadi  harus jalan lagi dari Simpang Amaliun. Kira-kira 10 menitan lagi aku nyampek, Bolehkan kalau aku nebeng?”

“Bolehlah! Tapi cepat ya! ” jawabku singkat, padahal aku agak kesal juga mendengarnya.

“Oke, sampai nanti! Makasih ya!”

Tit..tit..tit…Sambungan terputus, akhirnya aku memarkirkan sepeda motorku di tempat biasanya orang memarkir kendaraan di luar pagar Mesjid Raya. Aku menjadi semakin kesal karena aku tak tahu harus menunggu dimana. Padahal jarak antara Simpang Amaliun dengan Perpustakaan Daerah hanya beberapa ratus meter saja, tetapi kenapa Adli berat sekali untuk berjalan. Sepuluh menit pula katanya, menunggu satu menit saja tak jarang membuat orang sempoyongan, kutukku dalam hati.

Akhirnya aku menunggu di sepeda motorku saja. Kupandangi Mesjid Raya di belakangku, tempat ini merupakan salah satu situs bersejarah di Kota Medan sehingga menjadi tempat tujuan wisata terutama wisata religi. Banyak turis-turis asing sepertiMalaysiadatang ke tempat ini, bahkan turis dari negara-negara barat.

Sayangnya aku sendiri tak pernah masuk ke Mesjid Raya karena aku tidak beragama islam. Sebenarnya aku sangat ingin masuk dan melihat tempat itu, seperti ada magnet di tempat itu yang menarik hatiku. Setiap hari jum’at siang, tempat ini ramai sekali, orang shalat jum’at sampai mencapai teras, sungguh luar biasa. Hal itu sering kulihat ketika aku pulang dari Perpustakaan Daerah. Dulu kupikir tempat ini selalu ramai ketika waktu shalat tiba, ternyata tidak. Ketika melihat ramainya orang shalat jum’at, ada sedikit perasaan kecut di hatiku, tetapi anehnya rasa itu dibarengan dengan sedikit perasaaan damai, entah kenapa. Mungkin karena aku sering berteman dengan orang islam.

Sambil menunggu, aku pun mulai membaca koran yang tadi kubeli. Setelah beberapa menit membaca, aku mulai bosan, semua berita di koran sama saja dari hari ke hari, tentang pejabat A yang korupsi, penjahat B yang merampok, dan seterusnya, sungguh membosankan. Aku pun membuka tasku, aku ingin melihat buku apa yang bisa kubaca. Lalu, aku mengambil sebuah buku berjudul “Hidup dalam Naungan Al-Qur’an”, buku ini milik Adli, dia meninggalkannya di kamarku. Karena penasaran, maka buku itu pun aku baca. Walaupun aku non-muslim tetapi harus kuakui bahwa buku itu memberiku sedikit motivasi, apalagi dalam ayat-ayat Al-Qur’an-nya, sebagian memang aku tak mengerti maknanya, tetapi banyak ayat yang dengan tegas memotivasi seseorang.

Setelah merasa penat, kulirik jam tangan. Ternyata sudah lebih dari 20 menit aku menunggu, menyebalkan. Kuhubungi Adli, tak diangkatnya, mataku pun berkeliaran ke sekeliling tempatku menunggu, mungkin dia sudah turun dari angkot dan sedang mencariku pula, tapi tak ada. Pandanganku pun tertahan pada seorang turis barat atau sering disebut bule yang berjalan sambil menyapa pedagang kakilima di trotoar, sungguh ramah, tidak seperti turis yang lain.

Dia mengamat-amati Mesjid Raya dari luar, tepat beberapa meter di depanku. Dari dekat aku dapat melihat wajahnya yang bersih, bahkan terkesan bersinar walaupun sedikit berjenggot. Dia memakai kaos oblong warna biru muda dipadu dengan celana ponggol coklat yang besar, sebuah ransel besar tergantung di bahunya yang tegap, secara keseluruhan dia mirip backpacker. Tiba-tiba dia menghampiriku, jangan-jangan dia merasa tak senang aku pandangi, gawat.

“Assalamu’alaikum, Brother!” Katanya sambil tersenyum menyalamiku.

Walaikumsalam,” jawabku spontan dan asal saja sambil menjabat tangannya. Sepertinya dia tidak marah karena kuperhatikan, untung saja. Tapi, kenapa dia mengucapkan salam? Islamkah dia?

My name is Ahmad, and You, Brother?” Tanyanya sambil tersenyum. Dari namanya aku semakin yakin dia ini orang islam, mungkin mualaf. Dan pasti dia mengira bahwa aku ini orang islam. Ah, biarlah.

“Rendi,” jawabku singkat saja. Aku tak tahu harus berbicara apa lagi, jujur saja selain gugup aku juga tak lancar berbahasa inggris.

“Apakah saya mengganggu?” Tanyanya lagi dengan bahasa Indonesia yang bercampur logat inggris, pasti dia sudah lama tinggal diIndonesiasehingga dapat berbahasaIndonesia.

“Ah, tidak, saya hanya sedang menunggu teman saja, Mister sendirian saja? Apa yang bisa saya bantu?” Tanyaku mencoba mencairkan suasana, dia tersenyum.

“Yah! Saya sendirian saja ke Medan. Oh, ya just call me Brother Ahmad. Saya hanya ingin berinteraksi dengan orang Medan, saya dengar bahasa Indonesia di Medan cukup berbeda dengan bahasa Indonesia di Jakarta,” katanya masih dengan logat Inggris. Sungguh orang yang ramah.

“He he he. Iya, tapi hanya beberapa kata saja. Brother sudah lama tinggal diIndonesia?” Aku mulai sok akrab.

“Ya, baru lima tahun lah, saya tinggal di Jakarta sambil mengajar bahasa Inggris, saya suka Indonesia, mayoritas penduduknya Islam, jadi tak susah cari makanan halal.”

Brother Ahmad mualaf ya?” Tanyaku makin sok akrab, kudengar orang barat tak suka masalah pribadinya diungkit, tetapi aku penasaran.

“Ah, tidak. Saya ini asli orang islam, orang tua saya asli orang aljazair, but kami tinggal di Inggris. By the way, buku kamu sepertinya bagus,” katanya sambil memperhatikan buku itu. Aku tersenyum saja sambil menyerahkan buku itu padanya. Dia mengambilnya dan memperhatikan isinya.

“Yah, kita memang harus hidup dalam naungan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an itu petunjuk hidup manusia. Bayangkan saja jika kita hidup tanpa tujuan hidup, seperti berlayar tanpa tahu hendak kemana berlabuh. Walaupun kita sudah tahu tempat berlabuh tetapi jika tak ada petunjuk seperti gugusan bintang dan ilmu pelayaran, maka celakalah kita ketika diterjang badai atau tersasar tak tentu arah. Begitu pula dengan hidup yang tak dapat di prediksi ini,” katanya, aku seperti mendapat ceramah dari seorang guru spiritual terbaik.

“Tetapi, saya pun pernah lupa kepada Allah dulu karena pergaulan yang kurang baik. Saya dulu tidak suka beribadah, bahkan rukun islam tak pernah saya jalankan, kecuali syahadat saat belajar shalat ketika saya kecil. Saya hidup hanya untuk uang dan kesenangan. Bahkan saya menikahi wanita non-muslim. Namun berkat hidayah Allah pula saya dapat kembali ke jalannya,” dia mulai bercerita dengan serius. Aku pun mendengarkannya dengan baik. Dia melanjutkan ceritanya,”Saya masih tak sadar akan kesalahan saya sampai suatu saat bisnis perabotan memasak saya mengalami kerugian, istri saya meminta cerai, padahal kami baru menikah selama 6 bulan, untungnya dia belum hamil. Saat itu saya sangat membenci kehidupan saya. Saya pun tinggal lagi dengan orang tua saya, dan saat mendengar ibu saya membaca Al-Qur’an saya merasa sangat damai. Saya kembali membuka Al-Qur’an dan membaca terjemahannya. Saya dapati satu ayat dalamsuratA-Baqarah yang kira-kira berbunyi, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu”. Demi membacanya saya tersadar bahwa selama ini saya mungkin telah salah jalan, kesenangan hidup yang saya sukai jelas telah menjauhkan saya dari Allah dan buruk bagi saya. Sejak itu saya sadar dan mulai bangkit kembali hingga saya melanjutkan kuliah dalam bidang bahasa, dan tahun 2005 teman saya meminta saya untuk menggantikannya sebagai pengajar bahasa inggris di Indonesia.” Dia tersenyum dan aku terkesima.

“Ya, saya rasa beberapa ayat dalam Al-Qur’an memang dapat memotivasi seseorang, saya tak tahu harus berkata apa, tetapi banyak sekali prinsip-prinsip islam yang ternyata baik bagi kehidupan ini, misalnya ekonomi syariah. Saya sendiri telah sedikit mempelajarinya di kampus. Tetapi, kadang saya bingung kenapa ada orang-orang islam yang suka berbuat kasar seperti pemboman, bagaimana menurut Brother Ahmad?” Tanyaku. Tetapi belum sempat dia menjawab, tiba-tiba gerimis turun, cukup deras, padahal hari masih terang akan sinar matahari.

“Gerimis, sebaiknya kita masuk ke mesjid!” Ajaknya, dia masih belum menyadari bahwa aku non-muslim. Aku sebenarnya enggan, tetapi kuturuti saja langkahnya, gerimis mulai bertambah deras.

Aku pun memasuki mesjid dengan perasaan kacau, antara segan, takut, dan gugup, tetapi ada sedikit perasaan senang dan damai, apalagi ketika duduk didalamnya, bersebelahan dengan Brother Ahmad. Perasaan yang bercampur-baur ini membuatku ingin mengaku bahwa aku non-muslim, tapi aku takut dianggap mempermainkannya, mungkin saja dia nanti menghujatku habis-habisan, mau lari aku tak bisa karena di luar hujan mulai turun dengan deras, gawat.

“Bagaimana tadi?” Tanyanya mengejutkanku.

Hmm…Begini…Sebenarnya….Aku ini bukan orang islam,” akhirnya aku mengaku. Dia tampak terkejut, lalu tersenyum. “Subhanallah!! Ini semua takdir, semoga Allah memberimu hidayah,” katanya.

Aku diam saja, tetapi merasa lega karena tak dimarahi. Handphone-ku bergetar, SMS dari Adli, “Udah dimana?”

“Dalam mesjid,” balasku.

Medan, 16 Januari 2011 pukul 11 kurang beberapa menit. Langit cerah, tetapi hujan turun dengan deras, Adli entah dimana, aku di dalam mesjid merasa damai, di sebelahku duduk seorang muslim yang hangat, dan rasanya tak penting lagi jawaban atas pertanyaanku tadi.

Medan, Februari 2011

1  Angkutan Kota, salah satu transportasi umum diKotaMedan.

2 Sepeda motor, dalam bahasa sehari-hari orangMedan mengatakan sepeda motor     sebagai kereta.

Tag:, , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: