Pengajaran dengan Menggunakan Nurani

Oleh: Siti Utari Rahayu

Akhir-akhir ini zaman terasa sangat berat oleh teknologi. Secepat apapun kita mengejar teknologi itu, teknologi itu juga semakin cepat meninggalkan kita. Hingga sebagai seorang guru yang wajib memajukan generasi penerus bangsa, kita cenderung memacu anak untuk menangkap semua kemajuan tersebut, beban kurikulum yang berat lantas kita sandangkan saja pada mereka. Apalagi untuk mata pelajaran yang masuk ke dalam UN. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kurikulum kita sudah terlanjur seperti itu. Seperti kata pepatah, “Daripada kita mengutuki kegelapan, lebih baik berusaha menyalakan lilin”. Hal yang mungkin kita benahi adalah cara kita menyampaikan pelajaran tersebut kepada anak-anak, sesempit apapun waktu mengajar kita.

Anak-anak tetaplah anak-anak, mereka hanya tahu bermain dan bermain, saya pernah membaca pada sebuah buku bahwa karena anak-anak hanya tahu bermain, maka kita pun perlu mencari metode pembelajaran yang bermakna “main” bagi anak-anak tersebut. Hal tersebut bukanlah hal yang gampang, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil dilakukan. Apapun metode pembelajaran yang kita lakukan, ada satu hal yang perlu kita masukkan dalam metode tersebut, yaitu emosi positif dan nurani.

Adasatu cerita menarik yang bersangkutan dengan “mengajar dengan nurani”. Cerita tentang seorang guru yang sangat kesal dengan seorang siswa yang susah sekali menangkap pelajaran karena malas belajar. Siswa tersebut tidak seperti siswa lainya yang masih mau mencatat dan mendengarkan pelajaran, siswa ini tidak pernah mau mencatat dan selalu melamun ketika guru menerangkan. Sangking kesalnya akhirnya guru tersebut tidak mau memberikan nilai tambah padanya hingga nilai rapor anak tersebut berada di bawah KKM, atau dengan kata lain siswa tersebut tidak lulus pelajarannya. Semua guru sudah tahu bahwa anak tersebut malas kemungkinan besar diakibatkan karena perceraian orang tuanya, dan ibunya yang tak sempat mengajari mereka dirumah. Tetapi, sang guru hanya ingin memperingatkan sang Ibu agar peduli pada pendidikan anaknya.

Namun, pada suatu malam yang dipenuhi gerimis, suatu kejadian mengubah keputusan guru tersebut. Saat itu pukul 21.00 WIB di jalanan yang sepi, titik-titik air hujan kecil tapi pasti, menghujami tiap benda yang ada di jalanan tersebut. Termasuk tubuh dua anak manusia yang saling bergandengan. Sang kakak lelaki tampak mengandeng adiknya dengan sikap penuh tanggung jawab. Mereka berjalan menuju sebuah apotek besar. Baju sekolah yang telah kuning warnanya tampak tergantung sekenanya pada badan kecil mereka, tas lusuh tersampir begitu saja pada pundaknya. Mereka seperti dua anak yang baru pulang sekolah. Ternyata sang guru melihat kedua anak manusia yang tak lain adalah anak muridnya tersebut. Demi melihat sikap sang kakak yang penuh tanggung jawab menggandeng adiknya pulang ke rumah, sang guru pun luluh lantak hatinya. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB sedang anak tersebut belum dijemput orang tuanya. Padahal sekolah sudah dibubarkan sejak pukul 17.00 WIB. Anak-anak ini dengan penuh keberanian pulang, sang kakak yang masih kecil harus merasakan kerasnya kehidupan dan berbuat dewasa mendahului umurnya. Sang guru pun segera menghampiri mereka, mengantarkan pulang, dan meluluskan nilai anak tersebut.

Itulah yang dimaksudkan dengan memakai nurani dalam mengajar. Ketika memasuki ruangan kelas memang sebaiknya guru mengerti kondisi kejiwaan anak dan tidak memaksakan anak-anak tersebut bergerak bagai robot. Dan marah ketika ternyata ada anak yang tidak mengerti pelajaran. Ini memang berat, ya tugas guru memang berat. Karena semuanya berhubungan dengan manusia-manusia kecil yang siap menjadi apapun.

Bukan artinya kita menjadi lemah dan lembut tanpa ketegasan. Tetapi mungkin yang diperlukan adalah kelembutan yang tegas. Prinsip “Tarik-Ulur” agaknya dapat mewakili kelembutan yang tegas ini. Guru memang seharusnya memberikan energi-energi positif ketimbang energi-energi negative. Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah penyadaran anak terhadap hidup dan kehidupan melalui terapi-terapi energi positif. Kesabaran mutlak diperlukan. Apalagi para guru yang sudah lama menjadi guru, mungkin sudah lebih mampu mengendalikan emosi dan bersikap lebih sabar lagi.

Tulisan ini tak lain tak bukan hanya sebuah opini dan kesimpulan atas apa yang penulis rasakan dan alami. Tujuannya hanyalah sebagai pengingat bagi diri penulis sendiri agar penulis sebagai guru baru yang penuh kekurangan ini dapat mengingati prinsip yang tertulis ini. Jika ada yang kurang, penulis mohon saran dan diskusinya. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi.

Tag:,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: