Persaudaraan Dalam Iman*

Oleh: Siti Utari Rahayu

*Tulisan ini adalah suatu makna yang kutangkap dalam Seminar Salim A.Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah, 24 Maret 2012 di Fakultas Kedokteran USU, Medan.

Suatu sore yang menjanjikan ilmu, aku menapakkan jejakku pada sebuah seminar yang memukau. Seminar dan Bedah Buku Salim A. Fillah yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhuwah”. Bukunya sendiri sudah kubeli dan selalu kunikmati di dalam angkutankota. Karena tak ingin membuang ilmu yang kuperoleh begitu saja dalam tong ingatan, maka aku akan menuliskan beberapa point dari seminar yang kuikuti tersebut.

Secara keseluruhan, buku tersebut memiliki tiga point penting, yaitu:

Iman itu adalah hubungan

Hubungan bersama iman

Baik iman maupun hubungan membutuhkan ikhtiar

Iman, yang jika didefinisikan berarti pembenaran dengan hati, diucapkan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh. Ukuran iman seseorang itu yang tahu hanya Allah, dia tak terlihat dalam perbuatannya atau lisannya karena tiada orang yang tahu apakah itu ikhlas atau hanya riya saja. Namun, salah satu parameter yang dapat dipergunakan dalam menentukan ukuran iman yaitu pada kualitas hubungannya dengan sesama. Seperti dalam hadist Rasulullah SAW, tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya. Dengan adanya iman dan hubungan yang didasari iman ini maka keadaan yang tercipta adalah keadaan yang aman, nyaman dan bermanfaat. Salah satu perbuatan yang dapat dilakukan dengan mudah dalah hal ini adalah tersenyum, tentu saja bukan senyum mengejek atau senyum sinis, tetapi senyum yang “Merak Hati”, atau senyum yang merasuk sampai ke hati.

Mengenai senyum ini, Ustadz Salim bercerita tentang temannya yang suka tersenyum. Hingga pada suatu saat, ada seorang lelaki yang mendatanginya sambil mencium-cium tangannya, berterima kasih kepadanya. Temannya ini tentu saja bingung dengan kejadian ini, maka dia pun menanyakan kepada lelaki itu, hal apakah gerangan yang membuat lelaki itu sampai demikian rupa. Lelaki itu pun bercerita bahwa sebelum bertemu dengan teman Salim ini, dia hendak bunuh diri karena perasaan tertekan dan minder yang luar biasa, dia mengira tak ada orang yang menyenanginya. Namun, setelah mendapat senyuman dari teman Salim ini, dia menjadi berubah pikiran, senyuman itu seperti menerangi hatinya dan memberi jalan buat mengubah perasaan mindernya itu. Alhasil dia pun membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Satu lagi hal yang dapat memotivasi seseorang untuk tersenyum, yaitu senyum itu menunjukkan kesimetrisan wajah kita, dan itu berarti menunjukkan kecantikan yang sesungguhnya. Karena berdasarkan penelitian, bahwa kecantikan yang sebenarnya adalah kesimetrisan. Demikian hebatnya manfaat dari senyuman yang Merak hati, semoga saja kita semua dapat mengikuti jejak teman Ustadz Salim ini.

Selanjutnya, Salim menjelaskan kembali bahwa sesuatu yang baik itu adalah benar isinya, indah caranya, bermanfaat, dan tepat waktunya serta berpahala. Sesuatu yang benar belum tentu baik, contohnya adalah gibah, mungkin saja apa yang dibicarakan itu memang benar kejelekan seseorang, tetapi nyatanya pembicaraan itu tidak baik untuk orang yang dibicarakan dan yang membicarakan. Demikian juga dalam memberikan nasehat kepada orang lain, atau dalam memperlakukan orang lain, mungkin kita berpikir bahwa cara kita memperlakukannya itu benar dan baik baginya, nyatanya orang tersebut tidak menyukai sikap kita kepadanya.

Hal selanjutnya yang dipaparkan Salim adalah bahwa hubungan itu harus didasari oleh iman, jika hubungan tidak didasari oleh iman maka yang terjadi adalah tali logam yang diputar-putar hingga melukai orang lain dan dapat membelenggu diri sendiri. Hal ini dikisahkan Salim sebagai  hubungan yang terjadi antara Ubay dan Uqbah. Persahabatan mereka memang sangat erat ibarat tali baja, tetapi karena tidak didasari oleh iman, persahabatan itu menjadi tali yang mengikat leher mereka dan menjauhkan mereka dari pertolongan Allah. Bagaimana bisa demikian? Begini ceritanya: Panas terus bernyala dan partikel-partikel udara yang ringan membawa gelombang bunyi dari bacaan Al-Qur’an seorang lelaki yang mulia, Muhammad SAW. Gelombang itu merambat hingga menggetarkan gendang telinga seorang lelaki Arab yang bersembunyi, dialah Uqbah ibn Abi Mu’aith. Ternyata energi yang dibawa gelombang bunyi tersebut sangat besar hingga turut pula menggerakkan hatinya untuk mengamini apa yang tersirat dalam bunyi tersebut. Segeralah dia menemui sahabatnya, Ubay bin Kholaf buat menariknya juga dalam Islam. Kakinya yang melangkah tergesa segera terhenti dan menerbangkan pasir di sekitar tanahnya. Ubay ada disana, namun dia memalingkan wajahnya, lalu katanya, “Demi Allah, haram mukaku melihat mukamu”. Uqbah terkejut, apa gerangan yang terjadi pada sahabatnya itu? “Aku tahu! Engkau telah mencuri dengar bacaan Muhammad, dan engkau tertarik dengan agama yang dibawanyakan??!”, lanjut Ubay dengan tatapan marah. Uqbah terdiam, haruskah dia mengikuti kata hatinya dan menjauhi sahabatnya, atau haruskah dia membohongi dirinya demi sahabatnya. “Persahabatan lebih penting!” Katanya mantap. Dia berusaha meyakinkan Ubay bahwa hal yang dikatakannya tidaklah benar, sayangnya Ubay tetap tak percaya. Untuk meyakinkan Ubay, Uqbah pun bergegas mengambil tinja unta dan menyiramkannya ke tubuh Nabi Muhammad SAW. Demikianlah kisah yang mengambarkan bagaimana hubungan yang tidak didasari iman itu dapat membawa ke kehancuran diri.

Selanjutnya hubungan dengan sesama manusia yang dijalin dengan ikatan iman tersebut membutuhkan ikhtiar dari pelakunya hingga dapat terjadi suatu dekapan yang mesra, bermanfaat, baik, dan berpahala yang dikatakan Salim sebagai Dekapan Ukhuwah.

Medan, 26 Maret 2012.

Tag:, , , , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

One response to “Persaudaraan Dalam Iman*”

  1. zui says :

    saya mencintai mu karena Allah wahai sahabatku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: