Perjalanan dan Pelajaran

Oleh: Siti Utari Rahayu

            Pada setiap tapak yang kita jejakkan tersingkap berbagai gejala alam sebagai ayat-ayat Allah, itulah hal yang kupercayai. Kepercayaan itu terus mengikutiku pula bagai anak ayam yang selalu mengikuti induknya. Hingga takdir berpetualang ke negeri orang menemuiku, aku harus menerima kenyataan dari kepercayaanku itu. Aku harus menemukan berbagai ayat-ayat Allah pada setiap rasa yang kurasakan, pada setiap ruang yang terluang, dan pada setiap kesan yang mengesankan.

Mulai dari pagi yang sepagi-paginya, saat ayam-ayam belum lagi dikeluarkan dari kandangnya, aku harus keluar dari rumah temanku guna pergi ke bandara, suatu tempat yang spesial. Mengapakah harus kukatakan spesial? Karena bandara adalah kandang dari makhluk mati yang ajaib: Pesawat Terbang.

Ini memang bukan kali pertama aku menaiki pesawat terbang, namun selalu ada perasaan yang berbeda ketika berada di atas pesawat terbang. Yaitu perasaan bersalah karena selama ini hanya menaiki pesawat tanpa berpikir apapun tentang teknologi pesawat terbang. Baiklah, sebaiknya perasaan bersalah itu dibalas dengan pemikiran yang mendalam berdampingan dengan berbagai referensi bacaan. Pertama-tama kuamati pesawat terbang Air Asia itu, terbuat dari logam apakah badan pesawat ini? Mungkinkah logam yang digunakan sama dengan logam badan pesawat darat (Angkot) seri Rahayu 103 Jurusan Pancur Batu? Usut punya usut, ternyata badan pesawat terbuat dari logam yang ringan yaitu campuran logam aluminium, titanium, molibdenum, manggan, besi dan beberapa logam lainnya yang dikenal sebagai aluminium alloy. Logam-logam ini dipilih karena ringan tetapi kuat.

Manusia makan untuk hidup, begitu pula dengan pesawat terbang, sebagai makhluk ajaib penghuni bandara, pesawat memerlukan makanan sebagai sumber energi yaitu minyak yang kita kenal sebagai Avtur (Aviation kerosene) yang merupakan minyak tanah dengan spesifikasi yang diperketat, terutama mengenai titik uap dan titik beku. Energi yang dilepas dari avtur ini dipakai untuk menggenjot piston dan turbin agar kendaraan tersebut bisa melaju. Jika pesawat bermesin piston menggunakan aviation gasoline alias avgas, sedangkan pesawat penyandang mesin turbin menggunakan aviation kerosene. Turbin? Piston? Hhhh…Semakin dipikirkan ternyata semakin kompleks saja hal-hal yang harus kubahas.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pramugari yang menyuruh seluruh penumpang memasang sabuk pengaman karena pesawat akan lepas landas. Suatu pertanyaan menyusup kembali ke kepalaku, bagaimanakah pesawat dapat terbang? Jawabannya ada di buku fisika Giancoli jilid I tentang fluida, tepatnya tentang materi Prinsip Bernoulli. Silahkan Anda buka jika ingin mengetahuinya! Apa? Anda tak mempunyai bukunya? Baiklah-baiklah akan kujelaskan secara singkat dan tanpa rumus. (Dengan ketiadaan rumus ini, kuharapkan pembaca semua tidak langsung berhenti membaca dan melipat-lipat artikel ini, atau bahkan menjadikannya origami).

Pesawat yang maju menembus udara menyebabkan udara akan  “mengalir” di sekitar sayap pesawat, bagian atas dan bagian bawahnya. Dengan bentuk yang melengkung di atas, maka aliran udara di atas sayap membutuhkan jarak yang lebih panjang dan membuatnya “mengalir” lebih cepat dibandingkan dengan aliran udara di bawah sayap pesawat. Berdasarkan prinsip Bernoulli, kecepatan udara yang lebih cepat di atas sayap, menyebabkan tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tekanan udara yang “mengalir” di bawah sayap. Tekanan di bawah sayap yang lebih besar inilah yang akan “mengangkat” sayap pesawat dan disebutgayaangkat / lift.  Karena itu, kecepatan pesawat harus dijaga sesuai dengan rancangannya. Jika kecepatannya turun maka lift nya akan berkurang dan pesawat akan jatuh. Dan untuk bergerak ke depan (baik di darat maupun di udara), pesawat memerlukan daya dorong yang di hasilkan oleh tenaga penggerak atau yang biasa di sebut dengan mesin (engine). Tenaga penggerak ini terbagi menjadi dua, turbin atau piston.

Berbicara soal kecepatan, berapakah kecepatan pesawat yang tercepat saat ini? Ternyata Pesawat Boeing 747 dapat terbang dengan kecepatan 909 km/Jam. Tetapi, ternyata Air Asia ini menggunakan pesawat Airbus yang berkecepatan 871 km/jam.

Tunggu dulu, mengapa telingaku menjadi sakit, apa karena aku terlalu sibuk berpikir dan tidak mendengarkan arahan pramugari yang menjelaskan tentang penggunaan sabuk pengaman itu? Oh, ternyata telingaku menjadi sakit karena adanya perbedaan tekanan udara antara lingkungan sekitar dengan telingaku. Hal ini disebut sebagai Oklusi Tuba atau adanya sumbatan pada saluran tuba yang berada di telinga. Untuk lebih jelasnya silhkan Anda search di Mbah Google saja! Karena aku sekarang sedang bersiap mendarat!

Untuk tidak menghabiskan kertas dan tinta print, maka aku berinisiatif untuk menuliskan semua kegiatan secara umum dalam bentuk sebagai berikut:

Menunggu Bus –>Naik Bus–>Turun Bus–>Berjalan-jalan–>Menunggu Bus lagi–>Naik bus lagi–>turun bus lagi–>jalan-jalan lagi–>dst.

Walaupun secara skematis, kegiatannya tampak singkat, tetapi secara keseluruhan kegiatan ini sangat menyenangkan, dibumbui pula dengan aroma-aroma khasMalaysia, Singapura, dan Malaka. Bumbu apakah  itu?

  1. Ketika makan di Garden Food Malaysia, aku tetap memilih makanan “Nasi Padang” sebagai santap pagi itu (Walaupun sebenarnya aku hanya membeli sekerat “Telur Mate”). Ketika hendak membayar makanan istimewa itu, aku dan temanku harus berhadapan dengan seorang lelaki yang penampilannya mengingatkanku pada pengamen jalanan di Simpang Sekambing. Ya lelaki itu adalah pegawai kasir yang dengan seenaknya mengatakan, “Cepat sikit!!” ketika kami hendak membayar makanan itu. Tetapi tenang saja, kami tetap membayarnya dengan slow motion. Jangan mentang-mentang kami cuma beli “Telur Mate” seharga RM.1,5 ya!
  2. Karena kami belum pernah membeli karcis kereta api di mesin otomatis maka pembelian karcis MRT (Mass Rapid Transportation) menjadi sangat merepotkan. Tak ada tempat yang dikatakan sebagai loket atau petugas kereta api sebagai tempat bertanya! Yang ada hanyalah beberapa buah mesin yang berbunyi jika tombol-tombolnya ditekan hingga keluarlah tiket berwarna hijau yang bertuliskan “Standard Ticket”. Beberapa orang mengantri di loket-loket mesin itu. Dari hal ini dapat kusimpulkan: Jika hendak berlayar ke negeri orang yang sudah terlampau maju, bekalilah diri dengan dua macam bahasa: Bahasa Inggris dan Bahasa Mesin. Berlatihlah untuk sering-sering berkomunikasi dengan mesin sejak sekarang, banyak-banyaklah bergaul dengan mesin-mesin otomatis.
  3. Kami menemukan adanya jurang budaya yang terlanjur kami masuki: Tak ada gayung atau pun ember pada toilet hostel, bahkan penyemprot air yang sangat kecil.  Pelajaran berikutnya: Bagi Anda yang berasal dari sebuahkotakecil yang ada di negara dunia ketiga yang selalu bergaul dengan sumur, ember dan teman-temannya ketika mandi, kusarankan untuk selalu menyediakan gelas plastik berukuran sedang dalam tas ketika anda berpergian ke luar negeri. Percayalah!
  4. Kami mengunjungi Universal Studio, tetapi kami tidak masuk ke dalamnya, ini semua bukan karena kami tidak ada uang untuk masuk ke tempat itu, hanya saja kami memilih sikap hidup sederhana dan bersahaja. Pelajaran terpenting: Bagi Anda yang hanya dapat jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya seadanya (bahkan sangat seadanya sekali) maka jadikanlah kalimat “Hidup yang sederhana dan bersahaja” sebagai alasan pamungkas mengenai keabsenan Anda di tempat-tempat mahal.
  5. Di terminal bus Johor Baru, kudapati sifat khas rumpun melayu, ramah-tamah. Aku seperti pulang kampong, dimana-mana kudapati orang-orang berteriak “Kuala Lumpur!!Kuala Lumpur!!” hingga ke dekat mata orang-orang yang melintas. Aku jadi teringat Kampung Lalang, “Binjai!! Binjai!!”. Ide bagus buat para pencari bakat: Cobalah untuk memperluas daerah pencarian bakat, jangan hanya berkisar di Youtube saja, cobalah datang ke terminal-terminal bus di berbagai daerah Indonesia dan Malaysia, amati dan resapi bahwa ternyata rumpun Melayu berbakat alami dalam “Seni tarik suara”.
Mengantri Tiket

Mengantri Tiket

Kurasakan ada getaran-getaran pegal di tanganku saat ini. Ya, aku tahu bahwa aku harus berhenti mengetik sekarang. Semoga semua yang kutuliskan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Jika ada salah pemahaman atau silap ungkapan, saran perbaikan selalu kuterima dengan tangan lebar.

Tag:, , , , , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

One response to “Perjalanan dan Pelajaran”

  1. zui says :

    tampungnya ya dengan tangan lebar.
    jalan jalan ala backpacker, bila biaya minim.
    bila biaya sangat sangat menin sekali. jalan jalan ala silahturami. makan n tempat tinggal gratis, bila beruntung jalan jalan ke objek wisata juga gratis. haha.
    bila biaya sangat sangat minim sekali n tidak bisa ala silahturami, jalan jalan ala mimpi je. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: