Pagi Selanjutnya

Oleh: Siti Utari Rahayu

Maukah kau kuceritakan suatu kisah? Tentang seorang anak yang selalu berharap akan datangnya pagi, namun dia membenci datangnya senja. Demikianlah, kala pagi datang, dia menatap mentari di kejauhan timur. Jika sinar mentari itu menyeruak masuk ke sanubarinya, dia menjadi gembira. “Hari ini harus kujalani dengan penuh gembira, semua tantangan hanyalah permainan yang harus diselesaikan, aku menyukainya.” Kalau mendung datang di pagi hari, dia menatap sinar mentari yang tertutup awan kelabu dengan mata jiwanya, dan dia selalu berharap bahwa jiwanya tak akan semendung hari kelabu itu.

Pagi tak mungkin berlama-lama menetap, karena hukum sudah dicatatkan, siang pun menjelang. Sang anak mulai menjalani hari, tak disangkanya berbagai tantangan dan halangan datang dalam kehidupannya hari itu, hari dimana dia dengan tegarnya mengatakan bahwa dia mencintai tantangan. Kejengkelan hati mulai datang, dan dia membenci senja, karena pada saat senja tenaganya telah habis dan wajahnya kusam tak berketentuan. “Hari yang buruk!” Katanya kala senja.

Esoknya pagi datang, rupa-rupanya sang senja telah mengubah semua perlakukan sang anak terhadap pagi. Dia memang berharap pagi segera datang, namun kali ini dia terlihat biasa saja. Dia tak lagi bersemangat mengemukakan harapan-harapan akan hari karena dia takut hal itu malah akan menjadi bumerang baginya. Dan benarlah hari itu dia tak mengalami halangan yang berarti, hingga senja datang, wajahnya masih tampak biasa, tak lagi muram.

Sang anak berpikir bahwa mungkin ketika dia berkata, “Aku menyukai tantangan.”Adaterselip sedikit rasa sombong di hatinya bahwa hari itu dia pasti akan baik-baik saja. Dan parahnya lagi, dia telah banyak lupa berdoa di pagi hari, buat mensyukuri segala pemberian Allah. Hingga ketika dia diuji, dia menjadi resah dan menyesal. Kala senja datang, dia pun lupa bersyukur akan pelajaran hidup pada hari itu hingga wajahnya muram.

Begitulah kisah sang anak. Mungkin ketika pagi datang, kita akan mengemukakan berbagai pengharapan, namun kita juga harus bersyukur dan mengemukakan harapan-harapan kita kepada Allah dengan lemah lembut. Dan pagi selanjutnya semoga menjadi pagi terindah yang pernah ada.

Medan, 30 Oktober 2011

Tag:, , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: