Merasakan udaranya udara

Oleh: Siti Utari Rahayu

Hari itu adalah hari yang cerah pada bulan Januari, minggu yang cerah tepatnya. Banyak sekali orang mengadakan pesta pernikahan yang sudah kita anggap bisa itu.  Namun, ada suatu kemelaratan pada suatu pesta penikahan yang mewah dan meriah di sebuah gang. Seorang tunanetra yang juga pendek menyanyi di atas pentas, di tangannya tergantung sebuah plastik kresek hitam untuk menampung uang saweran. Adik lelakinya duduk menonton di bawah pentas dengan raut wajah yang tidak dapat lagi digambarkan. Mirisnya lagi kantung itu kosong, sampai sang tunanetra menyanyikan dua buah lagu, tetap tak ada yang menyawer. Sang adik akhirnya menuntun kakaknya untuk turun dari pentas, lalu dengan terburu-buru seorang wanita memasukkan uang ke kantung plastic tersebut. Mereka lantas berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Belum berapa jauh mereka beranjak, seorang lelaki berlari mengejar mereka dan memasukkan uang ke dalam kantung itu. Mereka pun berlalu menjauh. Ternyata, mereka adalah anak yatim piatu yang tinggal hanya bertiga di sebuah rumah tanpa ada orang tua yang mengurusi. Keluarga mereka yang lain tak ada yang mau mengurus mereka karena keluarganya itu pun berada dalam garis kemiskinan. Dua anak berumur belasan tahun dan seorang tunanetra hidup dengan penuh harap dan cemas tanpa seseorang pun mengulurkan tangan, rahmat Allah saja yang meluas melingkupi kehidupan mereka dan menyalakan reactor kehidupan di jiwa mereka.

Di lain tempat, kehidupan berjalan dengan sangat biasa dan bahkan membosankan, setiap detiknya dipenuhi dengan segala aktifitas hingga suatu ketika kejenuhan memenuhi ruang hati dan pikiran. Dan segala yang ada di bumi ini terasa biasa saja, bahkan sangat biasa. Waktu berjalan seakan tiada arti dan tenaga kimia yang dikeluarkan bagaikan mengalir menjadi panas yang sia-sia. Mengeluh dan mengeluh adalah hal yang biasa, bahkan menjadi suatu kebutuhan jiwa, kadang. Ya begitulah, kita sering merasa bahwa hidup kita tidak bahagia dan hampa. Apakah kita sudah menuju suatu kegilaan jiwa? Ah, benarkah? Namun, sebenarnya kita tidak perlu begitu risau akan hal ini karenya nyatanya bukan hanya kita yang merasakan hal itu, ada ratusan ribu bahkan jutaan orang yang juga merasakannya. Itu sebabnya buku-buku pencerahan diri dan kebahagiaan hidup menjadi begitu laris. Lalu sebenarnya apa yang salah dengan ini semua?

Penulis tak ingin memvonis apapun hanya saja penulis meyakini bahwa segala perasaan hampa dan tak bahagia itu datangnya dari satu titik hitam bernama “kurang bersyukur”. Kenapa pula harus dikatakan demikian? Itu karena perasaan yang penulis alami sendiri, karena kehampaan yang penulis rasakan sendiri. Hingga suatu saat ketika penulis menelusur jejak-jejak perasaan dan sampailah pada kesimpulan bahwa rasa “tak menyenangkan” itu berasal dari sikap “kurang bersyukur” terhadap hidup.

Sebelum tulisan ini mengalir lebih jauh membahas tentang rasa syukur, marilah kita kembali merenungkan kisah tunanetra di atas. Lalu, menatap kedalaman jiwa kita, apa sebenarnya yang terjadi pada diri ini?

Syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata  شكر-يشكر-شكرا‘’ yang berarti berterima kasih kepada atau dari kata lain ‘’شكر‘’  yang berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang dll. Sedangkan salah satu kutipan lain menjelaskan bahwa syukur adalah gambaran dalam benak tetang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.

Melalui Al-Qur’an Allah mengungkapkan perintah untuk bersyukur ini dengan kalimat yang begitu indahnya, yaitu dalam Q.S. Ibrahim: 34.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim [14]34:)

 

Dan salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan mempergunakan segala kesempatan yang diberikannya dengan sebaik-baiknya. Ketika kita bersyukur kepada Allah, maka segala yang kita terima terasa indah dan bermanfaat. Menjalani hidup dengan penuh kesungguhan akan membawa hasil yang menyenangkan jiwa dan tentunya berdampak banyak bagi kelimpahan rezeki.

Kesungguhan yang dijalani bukanlah kesungguhan yang hanya berkisar dalam kehidupan duniawi saja, tetapi juga kehidupan batiniah, yaitu melalui kesungguhan ibadah. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengingatkan kepada diri sendiri bahwa ibadah yang setengah-setengah nyatanya hanya mengiris-iris hati. Namun, melakukan ibadah dengan khusuk juga susah-susah gampang melakukannya. Penulis menyadari yang paling diperlukan sebenarnya adalah niat yang mendalam. Semoga semua tulisan ini akan menjadi kenyataan, terutama dalam kehidupan penulis sendiri. Amin.

Tag:, , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: