Stopwatch dan Seperangkat Alat Lukis

Oleh: Siti Utari Rahayu

 

 

“Jika hidup diibaratkan sebagai sebuah lukisan yang harus dipersembahkan kepada Allah pada waktu yang telah ditentukan, lalu apa yang hendak Anda lukis?”

 

 

Ibarat atom pada suatu zat, titik adalah bagian terkecil dari sebuah lukisan. Titik-titik membentuk garis, garis-garis bergabung membentuk bidang, bidang-bidang bila disusun sedemikian rupa akan membentuk ruang. Ruang pepohonan, rumah-rumah, jalanan, pasar, dan ini-itu membentuk lukisan. Bisa berupa lukisan abstrak, lukisan pemandangan, atau lukisan kehidupan.

 

 

…Titik…

 

Kanak-kanak kadang menjadi idaman bagi banyak orang dewasa, masa dimana tak mengenal beban kehidupan, masa dimana tak mengenal kejahatan, masa tanpa tanggung jawab, masa dimana hati dan pikiran masih begitu polosnya. Sampai kadang ada hal terlupakan, bahwa kanak-kanak dapat dengan mudah merekam, menyerap, membuat satu titik pada bawah sadarnya atas apa yang didengar, dirasa dan dialaminya. Dan titik membentuk ruang. Ruang berpikir.

Ah, kanak-kanak. Kala itu seorang gadis kecil, katakanlah berinisial si T, bertubuh kurus dan bermata bulat besar, besar, dan besar. Begitu besarnya sehingga hampir setiap orang yang melihatnya baik itu kanak-kanak, remaja, bahkan orang dewasa berkomentar, “Wah, matanya besar sekali!“. Nada seorang berucap boleh memuji, boleh menghina. Tetapi jangan lupa, nada negatif kadang lebih mudah diserap, hingga si T menangkap komentar itu sebagai sebuah bentuk penghinaan.

Si T pun bersekolah, hampir tak beroleh teman, mungkin karena terlalu polos, atau mungkin karena terlalu tidak cantik. Masa-masa penuh kenangan kabur itu membawanya ke satu titik sejarah dalam hidupnya: Ayahnya meninggal saat dia berumur 7 tahun (kelas II SD). Saat itu dia masih kecil, masih belum mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Hingga dia berharap bahwa kehidupannya yang sekarang bukanlah kehidupannya yang sebenarnya melainkan hanya mimpi, mimpi buruk, dan saat dia bangun, dia akan mendapati ayahnya masih hidup dan semuanya baik-baik saja. Tetapi, harapan itu hanyalah khayalan belaka. Maka, hiduplah si T dengan perlindungan ibunya yang mencari nafkah dengan menjahit.

Si T memang bukanlah seorang Newton yang…, tetapi si T adalah si T yang belum bisa berhitung dengan baik pada kelas V SD, dan dia juga tidak dapat berolahraga dengan baik, bahkan untuk menangkap sebuah bola kasti sekalipun! Mungkin karena itulah hampir semua temannya tidak suka padanya, dia dijauhi, diejek sebagai si mata besar, si boneng, si gigi ompong, dan lain lagi. Kendati demikian dia masih punya sahabat, katakanlah berinisial si P yang juga polos, sederhana, dan baik hati. Namun, tetap saja si T menjadi benci terhadap masa kecilnya, karena hampir setiap anak yang melihatnya, mengejeknya: mata besar. Dia menjadi takut melihat keramaian, takut melihat anak-anak lain, dan takut bertemu orang-orang baru, karena dia merasa semua orang akan mengatainya: Mata besar! Dia menjadi malas keluar rumah, malas bermain dengan anak-anak lain, dan takut memulai pertemanan dengan orang baru. Siang hari digunakannya untuk membaca buku pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan majalah BOBO. Kadang juga dia menjahit baju-baju boneka dan membuat kerajinan tangan lain.

Pada saat si T  berada di kelas VI SD, dia mulai berpikir tentang kebodohannya dalam pelajaran matematika. Maka, dia pun mulai belajar otodidak agar pandai berhitung, kebetulan saat itu guru matematikanya sangat pandai mengajar matematika sehingga si T dapat menangkap dengan cepat. Si T mulai menuliskan kembali soal-soal yang diberikan gurunya pada sebuah buku bekas, lalu penyelesaiannya dikerjakan tanpa melihat jawaban yang telah ada dan dia pun membuat catatan kecil pada setiap penyelesaian. Sedikit demi sedikit, catatan si T menjadi sebuah ringkasan contoh-contoh soal yang cukup lengkap dan otaknya pun mulai terasah. Namun, si T merasa bahwa usahanya agar menjadi orang cerdas belum cukup, maka dia pun banyak membaca Q.S. Al-Fatihah (Dia pernah membaca pada sebuah buku bahwa dengan membaca Q.S.Al-Fatihah seseorang akan menjadi lebih pintar) dan berdoa.

Segala Puji bagi Allah, semua usaha si T akhirnya membuahkan hasil dan dia lulus SD dengan nilai yang memuaskan baginya. Dia senang karena akan meninggalkan teman-teman SD-nya yang sering mengejeknya dan menyepelekannya. Tetapi, ketakutan mulai merembesi dinding pikirannya, tamat SD berarti harus melanjut ke SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan itu artinya dia harus bertemu orang-orang baru di sekolah baru yang mungkin akan mengejeknya mata besar juga.

__Garis__

 

Hidup harus berlanjut, si T memasuki masa peralihan antara kanak-kanak dan remaja. Dia mendapati bahwa tidak semua anak baru yang ditemuinya suka berterus terang mengatakannya si mata besar. Sebagian dari mereka didapatinya adalah orang baik walaupun sebagian lain suka pula mengatainya. Setelah belajar dari pengalaman SD-nya yang suram bahwa orang bodoh akan dijauhi, maka si T mulai belajar dengan serius kendati tempat duduknya berada di bangku paling belakang. Pelajaran matematika cukup cepat diserapnya karena kebiasannya mengerjakan soal-soal matematika, apalagi saat itu guru matematika SMP-nya memiliki bakat yang baik dalam mengajar. Dan akhirnya dia berhasil mendapat rangking 4 di kelasnya yang terdiri dari lebih kurang 48 anak itu. Karena rangking itulah temannya menjadi cukup banyak.

Olahraga adalah pelajaran yang paling dibencinya, apalagi permainan bola kasti (Dia dulu selalu dimarahi teman SD-nya karena tak bisa memukul bola kasti). Namun, dia sangat heran karena teman SMP-nya tidak marah kalau dia tidak bisa memukul bola kasti. Maka, masa-masa SMP dikenangnya sebagai masa yang baik karena melalui SMP itulah dia bertemu dengan orang-orang yang tetap menjadi sahabatnya sampai sekarang.

Namun, tak ada jalan yang tak berkerikil, kendati teman-teman SMP-nya adalah orang-orang yang baik, tetapi didapatinya pula bahwa tak semua perilaku seorang guru dapat dicontoh. Kalau dia dihukum karena kesalahannya itu adalah sesuatu yang seharusnya, tetapi jika dia dihina di hadapan teman-temannya karena anggapan semata apalagi berkaitan dengan fisiknya, bukankah itu adalah sesuatu yang keterlaluan. Dia pernah dimarahi gurunya, “Ribut saja di belakang! Ketawa lagi! Sudah mukamu  kayak monyet!” karena guru itu mengira bahwa dia bertepuk tangan di belakang, padahal tidak. Dan lagi ada guru yang mengatakan,”Jadi seperti ini yang namanya rangking satu! Tidak bisa menjawab soal!“ karena si T tidak dapat menjawab satu soal fisika yang diajarkan guru itu, padahal semua temannya juga tidak bisa menjawab soal itu. Bukankah karena si T bodohlah maka dia bersekolah? Apakah pantas seseorang yang menyandang profesi guru berkata kasar mengenai fisik muridnya walaupun muridnya itu melakukan kesalahan? Apakah pantas seorang guru menjatuhkan mental muridnya? Bukankah seseorang menjadi guru karena hendak  memotivasi dan memberi pelajaran hidup dengan hikmah pada muridnya? Apakah sama antara seorang guru dengan seorang preman mungkin pandai matematika atau pelajaran lain? Tentu tidak, maka guru bekerja di sekolah, dan anak-anak disekolahkan!

Saat SMP pula dia mulai belajar tentang kejayaan Islam pada masa lampau, yang kemudian dihancurkan tentara barat dan tentara mongol. Dia ingin sekali merasakan kejayaan itu lagi, namun, cita-citanya sendiri masih belum jelas. Suaranya yang keras dalam membaca buku sejarah Islam hanya memantul-mantul saja di ruang belajarnya.

 Bidang

Setamat SMP dia melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA (Sekolah Menengah Atas) di sebuah SMA swasta, dan dia terkejut mendapati bahwa sudah tidak ada lagi temannya yang mengejeknya mata besar! Dan teranglah baginya bahwa temannya tidak mengejek sedemikian karena kedewasaan yang mulai tumbuh dan pemikiran yang mulai terbuka. Sadarlah dia bahwa teman kanak-kanak mengejeknya tak lain karena mereka masih kanak-kanak yang  belum dapat berpikir dengan baik.

Tetapi, si T sudah terlanjur bersikap malas bergaul dengan orang lain, dan dia dikatakan sombong dan harus diakui memang dia agak sombong. Semua itu diakuinya karena dia masih belum berpikir dewasa dengan baik, masih ada sisa kanak-kanaknya, masih harus banyak belajar tentang kehidupan.

Keinginannya untuk melihat kejayaan Islam meletup lagi karena dia juga masih mempelajari sejarah Islam di jenjang SMA ini, dia ingin sekali menjadi salah seorang tentara penegak kejayaan Islam dalam bidang keilmuan. Dia merasa harus mempelajari bahasa Inggris untuk dapat merebut kembali estafet keilmuan yang pernah digenggam oleh ilmuan Islam.

Selain itu, karena si T adalah seorang yatim maka dia terbiasa untuk dididik mandiri oleh ibunya yang tukang jahit itu. Uang sekolahnya dia peroleh dengan beasiswa dari yayasan sekolahnya karena dia selalu juara kelas, uang jajannya diperoleh dari hasil membantu ibunya menjahit rok, jadi ibunya hanya memberikannya uang buku dan ongkos angkutan saja. Dia tak pernah jajan yang mahal-mahal dan semua miliknya adalah sesuatu yang sederhana. Semua ini sangat penting dalam membentuk ruang berpikirnya tentang kehidupan.

Ruang….

 

Sampailah si T di sebuah universitas negeri terkemuka di kotanya, di tempat itu kasombongannya runtuh karena sikap senior-junior yang tegak berdiri dengan lebih sombong dalam membentengi setiap sendi kehidupan kampus itu.  Jika tidak hati-hati, tempat itu dapat mendidik orang menjadi pengecut yang sombong, atau si munafik yang berjiwa pengecut, sungguh mengerikan.

Segala puji bagi Allah yang telah melindunginya dari cakar maut sang pengecut ketika masalah agama menjadi sesuatu yang sangat sensitive. Seluruh titik, garis, dan bidang yang telah dilukisnya kini teranglah sudah membentuk ruang-ruang yang isinya banyak lagi. Dia belajar dari penindasan. Dia belajar melihat dunia yang ternyata dipenuhi kebusukan dan kemunafikan. Tak jarang dia sendiri dianggap sebagai munafik karena tak mau membayar kalender Natal atau karena melawan senior. Semua ini semakin mengukuhkan tujuannya untuk menjadi panji penegak Islam dalam bidang keilmuan!

Tiba-tiba musibah datang, si T terkena penyakit yang pada mulanya tak diketahui secara pasti penyakitnya itu. Bahkan dia pernah salah meminum obat selama 1,5 bulan! Penyakit itu menyita tenaganya, hingga semangatnya pudar, cita-citanya itu dirasanya tak bakal dicapainya. Dia menjadi kurang bersemangat dalam belajar, prestasinya turun, olimpiade, seminar, bahkan tawaran bimbingan belajar Energi Nuklir oleh dosennya semua ditolaknya, tak ada yang mau diikutinya. Dia hanya ingin istirahat agar cepat sembuh.

Namun, dia masih suka membaca buku. Dan kadang buku bias lebih mujarab dari obat termahal sekalipun! Si T akhirnya banyak menemukan petunjuk dan semangat hidup di dalam buku tersebut hingga dia mulai bangkit lagi.

Suatu ketika, si T melihat ada pengumuman lomba membuat cerpen di depan pintu laboratorium computer. Dan dengan bergairah, dia dan dua orang sahabatnya mengikuti lomba tersebut. Ternyata lomba tersebut membawanya menjadi juara I lomba menulis cerpen. Si T sangat gembira, semangatnya bangkit lagi, seminar-seminar pengembangan diri pun mulai diikutinya.

Sekarang si T sudah lulus dengan nilai tugas akhir yang memuaskan, A. Dia menjalani hidup sebagai seorang guru suatu sekolah swasta. Dia menyadari bahwa dengan menjadi seorang guru, dia dapat mengubah dunia, yaitu dengan jalan mengubah anak-anak didiknya menjadi seorang pandai yang islami.

Tag:, , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

One response to “Stopwatch dan Seperangkat Alat Lukis”

  1. pika says :

    begitu ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: