Daun yang Hijau

Oleh: Siti Utari Rahayu

Pernah terpikir olehku bahwa kehalusan adalah kekasaran yang terasah. Juga bahwa hijaunya daun itu sangat berharga. Demikianlah adanya.

 

Bintang kecil di langit yang biru

Amat banyak menghias angkasa

Aku ingin terbang

Ke tempat kau berada

 

Kala itu, aku hanyalah seorang gadis kecil yang ingin mendekati bintang yang paling terang di angkasa seperti nyanyian di atas. Dan ibuku laksana NAZA yang menyediakan alat dan cara bagiku untuk dapat sampai ke bintang tersebut.

Demikianlah adanya, walaupun aku berasal dari keluarga yang dapat dikatakan menengah ke bawah, tetapi kasih yang kuterima dari orang tuaku terutama ibuku adalah kasih yang  tak ternilai oleh materi sebanyak apapun. Kasih yang kuterima bukanlah berupa pemberian kemanjaan yang berlebihan dan rasa sayang yang menidurkan. Tetapi, kasih yang kuterima adalah tempaan hidup yang terasa keras tetapi melembutkan, yang terasa konvesional tetapi  memodrenkan.

Aku terlahir sebagaimana anak-anak lainnya, namun dalam perjalanan masa kanak-kanak, ayahku meninggal karena penyakit kanker hati. Jadilah aku seorang anak yatim dan ibuku menjadi ayah sekaligus ibu bagiku, juga bagi adikku yang saat itu masih berusia empat tahun. Ibuku laksana karang di lautan, dan dengan langkah yang terseok-seok dia berusaha menafkahi anak-anaknya dengan menjahitkan pakaian tempahan orang. Saat itu aku masih kecil sehingga aku tak dapat melihat sinar kehidupan di matanya, sinar yang baru sekarang dapat kurasakan.

Ah, saat itu aku masih kanak-kanak yang hanya memikirkan bermain dan mainan. Masih kuat dalam ingatanku ketika aku ingin sekali memiliki dan membaca majalah anak-anak dan ibuku dengan penghasilan yang pas-pasan harus keliling pasar untuk mencarikan majalah bekas yang dapat diperoleh dengan harga yang murah. Saat itu pula ibuku sering menjahitkanku baju dari sisa-sisa kain perca. Begitulah Ibuku, Beliau tak pernah membiasakanku untuk memiliki barang-barang yang mewah. Aku hanya mempunyai kesempatan untuk memperoleh barang-barang atau mainan yang cukup mewah jika lebaran tiba. Dulu aku sempat merasa jengkel dengan sikap ibuku itu, itu karena aku masih kanak-kanak. Namun, didikan ibuku ini menjadikanku terbiasa hidup sederhana dan tak menggantungkan diri dan kehidupan pada materi, selain itu aku menjadi lebih peka terhadap kehidupan ini, juga terhadap orang-orang di sekitarku. Dan sekarang sikap hidup sederhana itu masih kusimpan sebagai prinsip hidupku.

Semasa kecil ibuku juga selalu mengajariku agama dan jika aku malas beribadah maka dia akan sangat marah dan mengejarku dengan sapu lidi agar aku bersegera untuk beribadah. Mungkin bagi anak kecil sepertiku tindakan ibuku itu sangat berlebihan, tetapi setelah aku beranjak dewasa maka sangat terasa bahwa didikan ibuku itu sangat bermanfaat bagiku dalam menjalani hidup ini, didikan ibuku itu menjadikanku seseorang yang cukup disiplin dan memiliki prinsip hidup terutama dalam hal agama.

Ketika aku menginjak umur belasan tahun, ibuku menyuruhku untuk membantunya menjahit pakaian tempahan, pada mulanya aku menolak karena merasa tidak mampu untuk melakukannya, namun ibuku memaksaku untuk belajar mengerjakannya. Dan akhirnya aku pun membantu ibuku menjahit dengan upah seadanya, dan dari upah itulah aku dapat memperoleh berbagai barang yang kuingini tanpa memintanya dari ibuku dan lebih mandiri.

Demikianlah kenanganku bersama ibuku, beliau telah mengajarkan banyak hal melalui sikapnya yang kadang kelihatan berlebihan dan agak keterlaluan, bagiku. Itu semua karena kadang seseorang melihat sesuatu itu buruk dari sudut pandang dan perasaannya sendiri, padahal mungkin sesuatu yang kelihatan buruk itu ternyata baik. Satu hal lagi, kadang seseorang terlalu lalai akan keberadaan orang-orang yang berada di dekatnya, dan saat kehilangan orang-orang tersebut, dia baru menyadarinya. “Seperti halnya kita selalu lalai akan hijaunya daun karena hampir semua daun berwarna hijau, bagaimana jika semua daun berwarna merah, maka daun yang hijau akan tampak lebih indah dan unik” (Sebuah Intisari dari Puisi Kenzo Takada). Semoga kita masih dapat menghargai hijaunya daun.

Tag:, , , ,

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: