PUISI-PUISI

Oleh : Siti Utari Rahayu

 

Secarik kertas kutemukan di tasku, aku pun tak tahu siapa yang memasukkannya. Seingatku tasku selalu bersamaku, memang aku tadi menitipkannya saat masuk ke perpustakaan, tapi aku tak yakin kalau bapak penjaga tempat penitipan tas tersebut yang memasukkannya. Aku memilih sikap diam. Tak menanggapi surat misterius itu. Tapi bayangan akan barisan kata yang mungkin kutemui dalam surat itu seolah-olah melayang-layang di pikiranku dan hatiku tergerak untuk membaca surat itu. Tapi jangan salah, aku hanya ingin membacanya dan mengetahui isinya, bukan untuk menanggapinya dengan serius.

Kupandangi dalam-dalam surat yang berada di tanganku itu, kuterawangkan, akhirnya kubuka pula sampul surat itu. Isinya sebuah puisi.

Tak seorang pun tahu

dan tahulah aku

mereka tak akan peduli

tentang orang-orang ini: Pedagang kaki lima yang kena gusur,

petani miskin, nelayan kembang-kempis,

orang-orang tengah yang terombang-ambing,

dan pelajar-pelajar yang dipaksa diam,

atau terdiam dengan sistem-sistem.

Adakah tanah untuk mereka?

Tidak, tanah itu akan dibangun

dengan bangunan mewah

milik orang yang suka berpesta.

Adakah peluang untuk mereka?

Tidak, peluang hanya diperuntukkan oleh orang asing

dan yang berduit.

Adakah pembesar itu tahu,

bahwa pahlawan dulu pun dari golongan orang-orang kecil.

Dan kalau perang berkecambuk lagi,

otak dan otot merekalah yang berada di barisan depan.

Sedang orang-orang lain, kocar-kacir.

Menyelamatkan bisnis.

Tahulah aku, kita tak akan mau berperang lagi,

tapi tahukah kalau sekarang perang sedang berlangsung

dalam uraian kata-kata

dan jago kecerdasan.

Tapi… Tahulah aku,

tak seorang pun mau tahu.

Apa maksud surat ini? Menyindirku? Aku bukan golongan orang-orang kaya dan orang tuaku bukan pejabat. Menyadarkanku? Kenapa pula harus aku seorang yang disadarkan, mestinya puisi ini dibacakan di hadapan mahasiswa lain agar mereka juga sadar akan negeri ini, atau dihadapan pejabat pemerintahan sekalian pada saat hari kemerdekaan. Inilah pikiranku sekarang tentang orang yang mengirimkan surat ini: Aneh.  Aku jadi penasaran dengan pengirim surat ini.

 

Kita ini masih lemah

gagap akan segala kemungkinan

Dan ini dibangun di atas negeri ini.

Yang masih mempencundangi diri

Dan kalau kau masih ingin begini

semua tak akan berubah

tak akan.

Lagi dan lagi, sebuah puisi yang ditulis di secarik kertas dimasukkan ke dalam tasku. Isinya masih mengkritik tentang keadaan bangsa ini, Bangsa Indonesia. Kata ’kau’ dalam puisi itu tentunya ditujukan kepada pembaca puisi tersebut, dan akulah orangnya. Keningku berkerut, aku masih tak mengerti maksud penulis surat ini. Aku jadi menyesal telah membaca surat berisi puisi kemarin, seharusnya surat itu kubuang saja di tong sampah atau kuletakkan di bangku kuliah sehingga orang lainlah yang akan mengambilnya, dan sekarang aku jadi semakin penasaran. Dan lagi-lagi hatiku tergerak untuk menyelidikinya. Aku pun bertekad bahwa dalam waktu satu minggu ini aku harus dapat mengetahui pengirim surat kaleng tersebut.

Hari ini adalah hari ketiga sejak kejadian surat kaleng itu dan hari pertama penyelidikanku terhadap surat itu. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju kampusku yang berjarak 300 meter dari tempat kosku. Matahari mulai naik dengan malu-malu, dedaunan rindang pohon saga menghalangi sinar matahari tersebut untuk sampai seluruhnya ke jalanan yang kulalui, sehingga suasana menjadi begitu cerah dan sejuk. Beberapa burung bolak-balik melintas di atas kepalaku, sedang otakku terus berputar mencari cara untuk dapat menangkap pengirim surat kaleng itu. Hal pertama yang harus kulakukan adalah membuat daftar orang yang kira-kira berpotensi melakukannya. Aku memutuskan bahwa Bapak penjaga tempat penitipan tas akan kumasukkan dalam daftarku.

”Rina!!” Teriak sesorang dari arah belakang, aku pun menoleh.

Adli, teman sekampusku tampak berjalan cepat ke arahku sambil melambaikan tangannya. Aku berhenti menunggunya. Melihat wajahnya aku jadi teringat bahwa dia sangat senang membuat puisi dan ikut bergabung dalam suatu komunitas sastra di kampusku, mungkin Adli bisa pula kumasukkan dalam daftar penyelidikanku, apalagi dia terkenal sebagai orang yang cukup unik di kampusku.

”Adli, kamu bisa membuat puisi kan?” Tanyaku langsung saat dia berada di sebelahku. Kami pun melanjutkan perjalanan yang kira-kira masih 400 meter lagi.

Yap!! Emangnya kenapa?” Tanyanya dengan gaya yang cuek.

”Ah, nggak, kamu biasanya memnulis puisi bertema apa?” Tanyaku menyelidik, tapi nada suara dan sikapku kubuat sesantai mungkin.

Hmmm...Apa ya? Aku sih biasanya nulis puisi disesuaikan dengan hati aja, kalau lagi pingin puisi cinta ya aku tulis, kadang kalau lagi bete, aku tulis puisi politik.. Nggak ada patokan,” Adli menjawab dengan gaya bicara seperti anak gaul di sinetron-sinetron, aku jadi geli mendengarnya.

”Tapi kebanyakan tema apa yang kamu tulis?”

”Apa ya? Kayaknya tentang politik dan keadaan negeri ini, memangnya kenapa sih? Apa kamu mau aku buatkan puisi?” Cara bicaranya mulai berubah.

”Boleh? Kalau begitu aku mau dong!” Kataku dengan bersemangat, aku ingin tahu gaya bahasanya, apakah sama dengan si pengirim surat kaleng.

”Sepertinya kamu bersemangat sekali?”

”Ah, tidak juga, akhir-akhir ini aku sering membaca puisi, jadi ingin mengetahui lebih lanjut tentang puisi,” kataku menutupi keinginanku yang sebenarnya, yaitu menyelidiki gaya bahasa puisinya. Cukup pintar rasanya jika memasukkan Adli ke daftar penyelidikanku.

”Jadi, kapan  kamu bisa bawa puisinya? puisi tentang keadaan negeri ini,” tanyaku lagi, kampus kami mulai dekat.

”Mungkin besok bisa aku bawa, puisi yang telah lama aku buat. Kalau disuruh membuat puisi seperti itu lagi sekarang mungkin hasilnya tak akan bagus, karena sekarang aku lagi jatuh cinta, jadi suka sekali membuat puisi cinta,” jawab Adli, kali ini dia berbicara dengan nada layaknya lelaki dewasa, tidak seperti cara berbicaranya tadi, ketika pertama kali kami membuka percakapan. Aku jadi heran. Orang seaneh ini memang pantas dicurigai.

”Tit…Tit…Tit…” Telepon genggam Adli berbunyi. Dia mengangkatnya,  lalu dimulailah percakapan antara dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, pacarnya yang menelponnya. Adli seakan tak mempedulikan aku yang berjalan di sampingnya, dia sedang asyik dengan dunianya sendiri, dengan gombalan-gombalannya tepatnya. Memang benar kata orang bahwa dua sejoli yang sedang bercengkrama akan selalu merasa seluruh dunia ini milik mereka berdua. Aku menjadi agak tak enak hati, untung saja kami telah sampai di kampus dan aku segera memisahkan diri darinya. Aku jadi berpikir ulang, apa mungkin sekarang ini seorang Adli yang sedang dimabuk cinta begitu bisa memikirkan tentang keadaan negeri ini? dan membuat puisi tentangnya?

Aku mendekati Lena yang sedang duduk sendiri di samping jendela, dia memang kurang suka bergaul dengan yang lain, tapi dia baik hati. Aku ingin meminta bantuannya untuk menyelidiki kasus ini, selain karena dia sahabatku, dia juga pintar. Aku pun menunjukkan puisi-puisi misterius itu. Dia menyetujui untuk membantuku.

Pulang kuliah kami sengaja ke perpustakaan, untuk menyelidiki bapak penjaga tas. Aku masuk ke dalam perpustakaan setelah menitipkan tasku dengan waktu yang sama seperti kemarin aku menitipkan tas dan Lena mengamati perilaku bapak itu dari kursi tunggu. Hasilnya sia-sia saja, selama 10 menit aku di dalam, bapak itu tak melakukan apapun terhadap tasku, dan tas-tas yang lain, dia hanya menjalankan tugasnya dengan baik, begitulah hasil pengamatan Lena. Aku mulai menyesal telah berburuk sangka terhadap bapak itu, puisi-puisi misterius itu memang telah berhasil menularkan virus-virus kebencian dan buruk sangka terhadapku.

”Sekarang ini, aku menjadi yakin bahwa Adli-lah pelakunya,” kataku kepada Lena ketika kami berjalan pulang.

”Tapi, mungkinkah dia membuat puisi-puisi seperti itu? Apa kamu tidak tahu kalau dia itu anaknya ugal-ugalan, sering ke klub malam, dan balapan liar. Pacarnya saja sekarang ini berasal dari kelompok cewek yang suka dugem.”

Aku terkejut mendengarnya, aku tidak tahu tentang gosip itu, padahal Lena jarang bergaul, maka terlontarlah pertanyaan dari mulutku, ”Bagaimana kamu bisa tahu?”

”Kakak lelakiku yang mengatakannya, pacar kakakku adalah kakak perempuannya Adli. Oh ya, kenapa kau sangat mencurigai Adli? Bukankah banyak juga teman-teman kita yang pandai membuat puisi, misalnya Amran, puisinya sudah dua kali masuk tabloid kampus.”

”Entahlah, mungkin ini yang dinamakan insting. Saat aku melihat Adli, hati kecilku mengatakan bahwa dialah pelakunya. Lagipula selama ini aku merasa dia selalu memperhatikanku secara diam-diam dan kadang-kadang dia juga peduli padaku. Bukankah itu aneh?”

”Mungkin dia suka padamu.”

”Hah!!Yang benar saja! Itu tidak mungkin, dia kan sudah punya pacar.”

Besoknya Adli memberikan puisinya kepadaku. ”Hanya puisi ini yang dapat kutemukan di berkas-berkasku,” katanya. Beginilah isinya, puisi yang singkat saja.

 

17 Agustus 1945

By:Adli

 

Gegap Gempita Kemerdekaan

Membahana setelah beratus tahun terjajah

Teriak Merdeka

Kini tak lagi ditakutkan

Merdeka!!

 

 

”Adli, apa kamu tidak membuat puisi tentang kritik terhadap negeri ini sebelumnya?” Tanyaku menyelidik.

Dia melihatku dengan tatapan aneh tetapi kemudia raut wajahnya berubah lagi menjadi cuek. ”Seingatku tidak,” jawabnya sambil terus memandangi telepon genggamnya. ”Kamu ada mencurigai aku tentang sesuatu,” lanjutnya menusuk jantungku.

”Ah, tidak,” kataku gugup, aku segera pergi.

 

Tak ada yang percaya

Padaku, padamu, atau pada siapa saja

Semua penuh curiga dan dengki

dengan inikah negeri ini dibangun?

Tikus-tikus kantoran mulai menjelajah

bahkan kau pun mulai menilik kasus lain

tak kah kau pikir ada hal yang lebih penting?

Dari sekedar ini

Mataku terbelalak melihat puisi itu kembali hadir di dalam tasku, bagaimana mungkin? Seharian ini aku hanya kuliah tanpa meninggalkan tasku dimanapun, dan Lena selalu ada di sampingku. Atau jangan-jangan Lena-lah yang telah memasukkan puisi-puisi itu saat aku lengah. Tapi, rasanya itu tak mungkin.

Hari ini adalah hari kelima setelah aku mendapat surat misterius berantai itu dan aku masih belum tahu siapa pelakunya. Lena juga belum bisa membantuku memecahkan kasus ini. Hingga ketika aku sedang memfotokopi buku bersama Lena, seorang cewek tanpa sengaja menyenggolku dari belakang, aku berbalik dan kulihat tangannya menyisipkan sesuatu di kantong tasku dan bergegas hendak lari, tapi Lena berhasil menarik tangannya. Kami membawa cewek itu ke bangku taman depan fotokopi. Kami tak mengenal cewek itu, mungkin dia dari jurusan lain, bukan jurusan Ilmu Komunikasi seperti kami. Kertas yang tadi disisipkannya adalah puisi lagi, tapi kali ini bukan puisi tentang kritik negeri seperti biasanya.

 

Aku tak sanggup lagi menahan perasaan ini

tetapi engkau tak pernah mengerti

bahwa aku sungguh-sungguh …

Menyimpan rasa cinta kepadamu

 

Lesbian-kah cewek ini? Sampai mengirimkan puisi serupa ini padaku. Aku dan Lena memandanginya dengan tatapan jijik dan duduk menjauhinya. Demi mendapat perlakuan semacam itu, dia pun berkata,” Bukan aku yang membuatnya, tetapi Adli, dia sepupu jauhku, aku kuliah di jurusan sastra Indonesia. Dia memintaku untuk membantunya menyisipkan puisi-puisi itu, kalau mau tahu alasannya, tanyakan saja padanya.”  cewek itu berkata dengan terang, mungkin dia merasa buat apa lagi berbohong.

”Bagaimana kau bisa memasukkannya?” Tanyaku.

”Seperti tadi, kusisipkan pada tasmu ketika kau sedang berdiri menunggu antrian fotokopi, tapi tadi aku kurang teliti hingga menyenggolmu.”

”Kenapa harus kau yang memasukkan surat ini, bukan Adli?”

”Sebenarnya Aku tak tahu pasti, mungkin agar kau tak curiga padanya. Lagipula aku memang ahli dalam hal-hal seperti itu.”

Kami membiarkannya pergi setelah dia meminta maaf kepadaku. Kini kami harus menemui Adli, orang aneh itu.

Dia tertawa lepas ketika kami menembakinya dengan hujanan kata-kata marah penuh tanya. ”Aku hanya ingin mendalami peran di pementasan teater nanti, judulnya ”Para Pembesar”. Jadi, kulakukan saja kepadamu, Rina. Aku memang menyukaimu dari dulu, hanya saja kamu tak pernah memperhatikannya,” katanya sambil senyum-senyum.

”Apa maksudmu dengan mendalami peran?” Tanyaku ketus, tidakkah orang ini merasa menyesal melakukan hal ini pada orang yang disukainya? Sial sekali diriku disukai orang serupa ini.

”Kamu tahu kan, kalau aku adalah cowok ugal-ugalan yang suka berfoya-foya, aku sama sekali tak ambil pusing tentang bangsa ini, aku hanya ingin hidup bersenang-senang. Jadi, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang sering bicara tentang bangsa seakan dia peduli padahal itu hanya dilakukan agar orang lain percaya bahwa dia peduli bangsa, cuma untuk kepentingan pribadinya saja, dia mengatakan yang tak ada di hatinya. Kamu tahu kan Pembesar kadang bertingkah seperti itu, dan aku memerankan Pembesar yang seperti itu.”

”Kenapa harus sembunyi-sembunyi?”

”Itu suatu sensasi saja.”

”Apa!!! Lalu, setelah ini apa kau tak mau minta maaf padaku? Dasar Gila!”

”Baiklah. aku minta maaf.”

”Lalu apa selanjutnya?” Tanya Lena tiba-tiba.

”Aku menyerah untuk mengerjarmu, Rina. Kamu jelas tak menyukaiku, lagipula aku tak bisa menjadi orang yang pura-pura peduli terhadap bangsa di hadapanmu. Nanti aku minta tukar peran saja.”

Aku memutuskan untuk pergi, walau kesal tapi kumaafkan juga orang itu, buat apa pula menyimpan dendam, sesuatu yang cukup menyia-nyiakan. Apalagi dia teman sekampusku.

”Adli yang bejat seperti itu saja tak bisa berpura-pura,” kata Lena tiba-tiba, lalu kami pulang melewati jalan yang penuh pohon hijau.

 

Medan, April 2010

About sitiutarirahayu

I am a muslim

3 responses to “PUISI-PUISI”

  1. Ahmad Nabhan says :

    hmm,.
    la ba’sa,.. ^_^
    emang sich sekaran pejabat” sudah tak bisa diharapkan,.
    kepercayaan masyarakat terhadap pejabat sudah berkurang,.
    terahir uga baca itu kurang dari 30%,.

    seakan harapan indonesia untuk memberantas kemiskinan sulit bisa tercapai,.

  2. utarie says :

    salam kenal…
    nggak, cuma fiksi aja…
    cerita ini dibuat karena perasaan kesal terhadap para pejabat kita…
    thanks ya udah mampir…

  3. Ahmad Nabhan says :

    hmm,.
    mau tanya,. itu beneran kisah nyata yach,..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: