Sepeda Tua

Oleh: Siti Utari Rahayu

“Kring..Kring..” Bunyi sepeda dari arah timur sebuah lapangan besar, pengendaranya adalah seorang bapak tua  yang  kira – kira  berumur  50 tahunan , di bahunya yang bungkuk tergantung sebuah tas besar yang kusam, kulitnya hitam legam terbakar sinar matahari, badannya kurus tak terurus. Namun  bapak  tua  itu  terus  mendayung  sepedanya  menuju  pinggir  lapangan  sebelah  utara.

“Samin, besok ada pekerjaan di Jalan Binjai, kalau kamu mau ikut, kita ramai-ramai kesana, mandornya Pak Rahmat, kamu  pasti kenal sama dia, kalian kan bertetangga,” Kata seorang lelaki yang kelihatannya sebaya dengan  bapak tua tadi ketika  bapak itu  tiba  di pinggir  lapangan.

“ Boleh,” jawab bapak tua itu singkat sambil  menyandarkan  sepedanya  pada  sebatang  pohon beringin, sepedanya  tampak sangat tua dengan karat memenuhi hampir  di setiap badan sepeda.

Pak Samin kemudian duduk disebelah temannya  tadi  yang bernama Pak Timin, keduanya menikmati semilir angin yang berhembus di sekitar lapangan bola itu, seakan–akan sang angin hendak menghibur kedua orang tua itu setelah mereka lelah memotong  rumput di lapangan. Aroma rumput yang bercampur dengan teriknya matahari  menambah  indahnya  suasana  siang itu,  berbaur  dengan  lukisan  alam  yang  lain.

◙◙◙

Di waktu yang sama, di sebuah sekolah menengah atas negeri, seorang guru sedang  menagih uang sekolah kepada muridnya.

“ Andra, kamu  belum  bayar  uang  sekolah  selama 3 bulan, Ibu harap kamu  bisa membayarnya besok,“  kata  ibu guru  yang  berpenampilan sangat sederhana.

“ Maaf Bu, saya mau minta toleransi waktu, karena bapak saya belum sanggup  untuk membayar uang sekolah saat ini,“  Kata  anak yang bernama Andra itu dengan wajah memelas.

“ Sebenarnya Ibu juga kasihan sama kamu, kamu  itu  orangnya  pandai  dan  sebenarnya  kamu  pantas  mendapatkan  beasiswa, tapi  mau  bagaimana  lagi, kantor  sudah  banyak  memberi  tenggang  waktu, dan  beasiswa  yang  Ibu  urus  kemarin  tidak   berhasil,  terlalu  banyak  syarat  dan  administrasinya  berbelit-belit, Ibu  takut  Bapak  Kepala  Sekolah  akan  mengeluarkan  kamu  kalau  tidak  kamu  bayarkan  besok.”

Andra tertunduk lesu, ingin rasanya dia menangis, namun sebagai seorang lelaki  dia  pantang  menangis  apalagi  di  depan  guru  kesayangannya  itu,  dia  takut  hal  itu  akan  menambah  beban  pikiran  gurunya  itu   yang   sedang  pusing  karena anak pertama ibu itu menderita sakit yang aneh, sedang surat keterangan  miskin dan surat kesehatan yang dimilikinya tidak dapat digunakan. Sudah lima rumah sakit menolaknya dengan berbagai alasan, mereka  seakan  tak peduli dengan nasib sesama.

“ Tapi, sebenarnya  Ibu  masih  punya  tabungan  sedikit, mungkin  kamu  bisa  pakai  dulu, dan kamu bisa membayarkannya kepada Ibu tiga hari lagi. Ibu sebenarnya mau membantu kamu tapi  Ibu hanya seorang guru honorer yang gajinya pas-pasan,” kata Ibu Yus  kemudian memecah kebekuan di ruangan BP itu.

“Tapi  Bu, Ibu kan masih  memerlukannya  untuk  mengobati  anak  Ibu.”

“Uang  tabungan Ibu belum cukup untuk biaya pengobatan anak Ibu, anak  Ibu  sebenarnya  harus  dioperasi, dan  Ibu  sudah  hampir  putus asa, tapi sebagai manusia kita tidak boleh berputus asa, makanya tiga hari lagi Ibu  hendak  membawanya  ke  rumah  sakit, dananya  Ibu  pinjam  dari  abang  Ibu  di  Kisaran  dan  akan  sampai  tiga  hari  lagi, maka  Ibu   harap, kamu  sudah  bisa  membayarnya  dalam  waktu  tiga  hari  ini.”

“Baiklah  Bu , saya  pasti  akan  tepat  janji, dan  saya  sangat  berterimakasih  kepada  Ibu karena mau  membantu  saya.”

◙◙◙

Pak  Samin  sedang  mengamati  sepeda  tuanya  yang  disenderkan  pada  dinding  bambu  di  ruang  tamu  rumahnya,  sepeda  satu-satunya  yang  telah  menemaninya  bekerja  selama  puluhan  tahun, walaupun telah  berkarat  tetapi  masih  menampakkan  kegagahannya. Dan kini sepeda itu rasanya harus diserahkan  ke tangan  penjual  barang bekas seperti  halnya  barang–barang  Pak  Samin  yang  lainya,  yang  terakhir  dijualnya  adalah sebuah radio kecil, rasanya  hanya  itu  barang  mewah  yang  masih  menghiasi  rumahnya  dulu,  yamg  menghiburnya  setelah  lelah  seharian  bekerja, kini  tak  ada  lagi. Hanya  suara  jangkrik  yang  menjadi  nyanyian  malam  yang  menemani  malam-malamnya. Desakan  ekonomi  membuatnya  harus  rela  menjual  barang-barangnya.

Anaknya, Andra  memintanya  agar  membayar  uang  sekolah  tiga  hari  lagi,  dan  dia  tidak  mempunyai  uang. Uang  hasil  memotong  rumput  tadi  siang  hanya  cukup  untuk  membeli  beras  dua  kilo  dan  minyak  tanah   beberapa  liter, belum lagi  harga  minyak  tanah yang terus naik. Sedangkan gaji  istrinya, Bu  Nur sebagai  tukang  cuci, hanya  cukup  untuk  membeli sayur harian dan biaya sekolah Uci, anak  keduanya.

Dia pun berniat untuk menjual sepeda tuanya itu lusa, besok  akan  dipakainya  dahulu  untuk  pergi  ke  Jalan  Binjai, bersama  Pak  Timin. “Mudah-mudahan  gaji  di sana  besar,” pikir  Pak  Samin.

Assalamu’alaikum,” seseorang  mengucap  salam  membuyarkan  lamunan  Pak  Samin.

Wa’alaikumsalam,” jawab Pak Samin sambil membukakan  pintu  rumahnya.

Ternyata  Kepala Lingkungan Sukaraya I yang datang, Pak Samin segera    mempersilahkan Kepala Lingkungan itu duduk dan menyuruh istrinya  membuatkan   minum.

“Begini  Pak, saya  ingin  menyampaikan  PBB  yang  harus  Bapak  bayar  tahun  ini,  ini dia blankonya,” kata  kepling  itu  memulai  percakapan  sambil  menyerahkan  selembar   blanko  PBB.

Pak  Samin  yang  melihat  Blanko  itu  terkejut.” Kok mahal  sekali  Pak, rumah  saya  kan  kecil,” katanya  kemudian .

“Iya,  tapi surat tanah Bapak sudah bersertifikasi jadi pajaknya lebih mahal.”

Pak  Samin  hanya  terdiam,  pikirannya mengawang, mengingat kejadian 15 tahun yang lalu. Pada saat itu ada isu bahwa rumah disekitar Sukaraya I akan digusur sebagian untuk pelebaran jalan dengan ganti rugi yang tidak sebanding. Dan untuk menghindari penggusuran itu banyak warga Sukaraya I yang mengurus sertifikat tanah termasuk Pak Samin, walaupun biaya pengurusan surat itu sangat mahal.

“Jadi  kapan  harus  dibayarkan?”

“Terserah  Bapak, asalkan  masih  dalam  tahun  ini,  tapi  kalau  Bapak  belum  membayarnya,  urusan  Bapak  di  kantor  Kelurahan  tidak  akan  dipenuhi.”

◙◙◙

Setelah  sholat  subuh  Pak  Samin  berangkat  kerja,  harapannya  hari  ini  dia  dapat  menuai  hasil  yang  banyak.  Sedangkan  Andra  berniat  menjual  koran  sore selepas  pulang  sekolah  untuk  membantu  bapaknya  dalam  urusan  uang  sekolah,  sebenarnya  pekerjaan  itu  bisa  dikatakan  pekerjaan  tetapnya  setelah  pulang  sekolah   tetapi  hasilnya  tidak  pernah  terkumpul  karena  dia  selau  dipalak oleh  preman  yang  ada  di  sekitar  jalan  tempat  dia  berjualan, tapi  dia  tidak  pernah  menyerah.

“ Dra,  hari  ini  Bang  Ajab  tidak datang,  jadi  uang  hasil  jualan  kita  bisa  terkumpul,” Kata seorang  anak  lelaki, rambutnya  awut-awutan  berwarna  kemerah-merahan.

“Syukur  deh, aku  balum  bayar  uang  sekolah,” jawab  Andra. Mereka  tengah  duduk  di  pinggir  trotoar,  menunggu  lampu  merah.

“ Oh, begitu ya, ya  sudah,  uang  hasil  jualanku  hari  ini  untuk  kamu  saja,  aku  mau  tobat,  nggak  ngelem lagi.”

“Tapi  makan  kamu  bagaimana?  Kamu  kan  butuh  juga.”

“Sudahlah, kamu  lebih  butuh,  malam  ini  aku  mau  ngamen juga,  kalau  kamu  kan  harus  belajar, eh,  nanti  kalau  kamu  sudah  jadi  orang  kaya  ingat  sama  aku  ya.” Rasa penuh  ikhlas  terpancar  dari   wajah  anak  lelaki  itu,  anak yatim piatu miskin penjual koran sore.

Mereka  berdua  pun  tertawa, udara  panas  yang  bercampur  debu  dan  asap  knalpot  menemani  suasana  penuh  damai  diantara dua orang itu. Asap  kendaraan  yang  hitam  pekat  mengotori udara  jalanan, tetapi yang  paling  tak  berasap  adalah  mobil  para  orang  kaya  yang  terurus, tapi asap seperti itulah yang berbahaya  sama  berbahayanya dengan orang yang kelihatan baik tapi merusak amanat yang  dipegangnya,  tak  tampak  tetapi  telah  meracuni  jutaan  orang.

◙◙◙

“Woi!! Sini  dulu!” teriak  seorang  anak  lelaki  berpakaian  funky memanggil  Andra  dan  Ucup, temannya tadi.

“Ada  Apa Mat?” Tanya  Andra  setelah mendekat.

“Aku  mau  mengganti  tugasnya  Bang  Ajab, minta  uang  sama  kamu  berdua,  ayo  berikan!” Kata  Rahmat,  anak  lelaki  itu  yang  sifatnya  tak  sebagus  namanya.

“Tidak  bisa  dong! Kalau  mau uang, cari saja sendiri! Kamu pikir aku takut sama bapak kamu yang pejabat itu?! Pejabat  bisanya  cuma  korupsi!” Tolak  Ucup, ditariknya  tangan  Andra  menjauhi  Rahmat  yang  saat  itu  sedang tidak ditemani oleh  kelompoknya.

“ Awas  kamu  nanti  malam!“  Teriak  Rahmat  lagi  tapi  dia  tersenyum  puas,  di  tangannya  sekarang  ada  uang  hasil  keringat  andra  yang  diambilnya  tadi  dari  saku  belakang celana  andra. “ Lumayan  buat  tambahan  beli  ekstasi  nanti malam, pulang  pagi  lagi  nih,” pikirnya.

“ Cup, kamu  harus  hati-hati ,  sepertinya si  Rahmat  nggak main-main, anak  buahnya  kan  banyak,” kata  Andra   sambil  duduk  di  depan  masjid,  mereka  baru  saja  shalat  maghrib

“ Paling  juga  dia lagi  mabok  sama kawan-kawannya,  uang  haram  dimakan  ya  nggak benar  jadinya.”

“Maksud  kamu  bapaknya  korupsi?” kata  Andra  lagi   sambil  merogoh  kantung  celananya.

“Ya  iyalah,  kalau  tidak,  masa  mobilnya  ada tiga,  padahal  bapaknya  kan  pejabat  kelurahan  biasa.”

“Eh, uangku mana ya?” Andra  kebingungan  dan  meraba  semua  kantung  celana  dan  bajunya.

“Pasti ini ulah si Rahmat, sialan  banget!” Kata  Ucup,  dia  langsung  bangkit  dan  berlari, uang  jualannya  dijatuhkan  ke  sarung  Andra. Andra hanya  terdiam  diambilnya  uang  itu  dan  dia  pun  pulang  dengan  langkah  gontai.

◙◙◙

“ Andra ! Si  Ucup . . . Si  Ucup …” Kata  parmin, pengamen  jalanan   temannya  Ucup  terbata-bata   pagi  itu, ketika  Andra  sedang  berjalan  ke  sekolah.

“ Kenapa  Si  Ucup? “ Tanya  Andra ,  hatinya  mulai  tak  tenang.

“ Si Ucup luka parah, semalam dihajar sama anak buahnya Rahmat,  sekarang  dia  di  rumahku. “

Andra  langsung  lari, ditariknya  tangan  parmin. “ Pasti  gara-gara  uang  itu,” pikir Andra.

Sesampainya di rumah Parmin, dilihatnya  Ucup  terbaring  lemah  di  tempat  tidur  Parmin  yang  tidak  berkasur,hanya  beralaskan  tikar. Tubuhnya  memar-memar, terlihat bekas darah di bibirnya.Ucup sudah tidak bisa bangun, matanya  tertutup  rapat, Selain  luka yang diperolehnya akibat berkelahi tadi malam, sebenarnya  dia  juga  menderita  penyakit  aneh  yang  dideritanya  sejak enam bulan yang lalu, Ibunya tidak  mampu  membiayai  penyakitnya ini dan sekarang setelah Ibunya meninggal, dia harus mencari uang sendiri sehingga membuat tubuhnya semakin lemah. Walaupun  sampai  sekarang  dia  masih  tampak semangat tapi sebenarnya tubuhnya telah rapuh oleh penyakit itu.

Andra  terdiam, dia  tak  bisa  berbuat  apa-apa,  sekarang  dia  harus sekolah, kalau  dia  tidak  sekolah  maka  pihak  sekolah  akan  menghentikan  usaha  pencarian  beasiswa,  walaupun  beasiswa  kemarin  tidak  berhasil, tapi  dia  masih  berharap,  dalam  hati  Andra  berjanji  untuk  mencari  uang,  untuk  biaya  pengobatan  ucup.

“ Min,  nanti  aku  kesini,  tapi  sekarang  aku  sekolah  dulu  ya.”

Andra  segera  pergi, pikirannya  kacau,  besok  dia  harus  membayar  hutangnya  sama  Bu  Yus,  sedang  ayahnya  belum  pulang  sampai  sekarang,  Uang  hasil  jualan  korannya telah dicuri  orang  dan tidak  memungkinkan bagianya untuk  memakai  uang  Ucup, uang  itu  akan  dibelikannya  obat  dan  makanan  untuk  Ucup.

Sepulang sekolah Andra  mendapati  ayahnya  terbaring  lesu  di  tempat  tidur  di  kamarnya  yang  lembab,  Perutnya  dibalut  perban,  terlihat  perban  itu  tidak  lagi  putih  bersih  tetapi  ada  bercak  darahnya.  Mata  ayahnya  tertutup  rapat.

“Bapakmu  tadi  pagi  diserang  orang,  uang  hasil  kerjaannya  diambil  orang  itu,  sepedanya  rusak,  padahal  sepeda  itu  mau  dijual  untuk  bayar  uang  sekolahmu.  Besok  bayar  saja  dulu  pakai  uang  Ibu.  Biar  uang  sekolah  Uci  ditangguhkan  dulu.”

“ Lalu   bagaimana   dengan  biaya  pengobatan  Ayah ?” Tanya  Andra.

“ Ada  sedikit  uang Ibu dari penjualan cincin kawin. “

Andra  langsung  pergi  ke  rumah  Parmin,  dilihatnya  Ucup  masih  terbaring  lesu. Diletakkannya makanan dan obat di meja disamping tempat tidur Parmin.  Disuruhnya  Parmin  untuk  menjaga  Ucup, setelah  itu  dia  pergi,  dituntunnya  sepeda  tua yang  telah  rusak  itu,  dia  hendak  membawanya   ke  Pak  Salman,  lelaki  tua  itu  sering  membetulkan  sepeda  orang-orang  di  sekitar  rumahnya.

◙◙◙

Seorang anak laki-laki berjalan cepat menuju suatu sekolah menengah negeri,  langkahnya panjang-panjang sambil menuntun sepeda tua yang keadaannya sudah sangat memperihatinkan. Dia tampak sibuk memarkir sepeda itu diantara sepeda-sepeda motor yang mewah dan berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi yang cerah.

“Andra!!” Panggil  seorang  cewek  kepada  anak  lelaki  tadi.

Andra  menoleh,  dilihatnya  Murni,  teman  sekelasnya   sekaligus  sekertaris  OSIS, berlari  ke  arahnya.

“Ndra,  kalau  nggak salah  ada  kesempatan  beasiswa, sepertinya  kamu  pantas  dapat  deh, nanti  temui Kepala  Sekolah  atau  Bu  Yus.  Aku  tahu kemarin  dari  Pak  Bambang,  ketika membahas acara  pentas  seni.”

Thanks ya  Mur,  aku  nanti  juga  memang  mau  menemui Bu Yus..”

“Oh,  ya  sudah,  Good  luck!  Ya!”

◙◙◙

“Bu, ini uang sekolahnya, makasih ya Bu sudah  mau  memberi  saya  pinjaman. Oh ya Bu, apa  saja  syarat –syarat  beasiswa  itu?”

“Oh, ini,  Ibu  harap  kamu  bisa  menyiapkan  semuanya  dua  hari  lagi,  mudah-mudahan  kali  ini  berhasil.” Kata Bu  Yus  sambil  menyerahkan  selembar  kertas.

“ Baik Bu, terima  kasih  banyak ya Bu, Oh ya  bagaimana  keadaan  anak  Ibu?”

“Sampai  saat  ini  masih  baik-baik  saja, nanti  sepulang  sekolah  Ibu  bawa  ke  rumah  sakit.”

“Saya  juga  turut  berdoa  atas  kesembuhan  anak  Ibu.”

◙◙◙

Andra berjalan gontai menuju rumah Pak Salman sambil menuntun sepeda tua milik ayahnya yang kini telah rusak, Dia hendak memperbaikinya sebelum dijual kepada penjual barang bekas.

Assalamu’alaikum.

Wa’alaikumsalam…Oh, Andra, ada apa nih?”  Kata seorang lelaki tua  sambil membuka pintu rumahnya yang sudah rusak, lelaki itu adalah Pak Salman.

“Pak, Saya mau memperbaiki  sepeda bapak saya yang rusak, kemarin dihajar orang,” jawab Andra sambil menyeka peluh yang bercucuran di wajahnya.

“Oh, Jadi bagaimana keadaan Bapak kamu sekarang?”

“Perutnya berdarah, sekarang ada di rumah, tadi sudah dibawa Ibu saya ke dokter, tapi sekarang nggak tau lagi keadaannya, pulang sekolah tadi saya langsung ke sini, rencananya sepeda ini mau di jual ke penjual barang bekas, tapi kan harus diperbaiki dulu Pak.”

“Oh, ya udah, biar Bapak yang memperbaiki dan menjualnya, soalnya kemarin ada yang cari sepeda tua kayak punya bapak kamu ini, biasa orang kaya suka yang aneh-aneh, koleksi barang-barang tua, tapi belum ada, Bapak sudah janji mencarikan, dia akan datang tiga hari lagi, jadi tiga hari lagi Bapak ke rumah kamu, untuk ngasih uangnya,” kata Bapak itu sambil mengelus jenggotnya yang sudah putih, ketulusan tampak dari matanya yang bening.

“Terimakasih banyak ya Pak,” kata Andra sambil  menyalami Pak Salman.

◙◙◙

“Tik…Tik…Tik…” Bunyi air yang jatuh ke kaleng bekas disuatu gubuk kecil berbaur dengan suara orang-orang yang berkumpul di gubuk itu. Dinginnya malam yang menyelimuti gubuk itu, menambah dingin jenazah yang berbaring di tikar seadanya, jenazah Ucup yang meninggal akibat penyakit kanker darah, penyakit yang selama enam bulan menggerogoti tubuh kurusnya. Luka yang diperoleh akibat pukulan itu membuat kondisinya menjadi kritis dan akhirnya meninggal.

Andra hanya bisa terpaku di depan jenazah Ucup, pandangannya kaku, Dia hanya bisa membisu diantara keramaian orang yang datang melayat. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, jenazah Ucup akan dikebumikan besok pagi.

◙◙◙

tell me whats wrong with society

when everywhere I look I see

Rich guys driving big SUV’s

while kids are starving in the streets

No one cares

No one likes to share…

if you open your eyes

you’ll see that something is wrong

Lagu berjudul Crazy dari Simple Plan itu sayup-sayup terdengar dari radio pedagang kaki lima, mengudara dengan tenang, membumbung tinggi bersama dengan asap knalpot. Menari bersama awan dan tak pernah kembali ke hati pendengarnya, yaitu anak-anak muda yang duduk di belakang setir mobil Marcedes.

Andra yang dari tadi duduk dibangku panjang milik pedagang kaki lima itu hanya diam membisu, syair lagu itu menjadi begitu bermakna baginya, mewakili keadaannya sekarang ini, sudah dua hari ini dia hanya makan satu kali sehari. Ayahnya sudah tidak bisa bekerja, sedangkan gaji Ibunya hanya cukup membeli beras dalam jumlah yang sedikit dan membayar uang sekolah adiknya. Sekarang dia harus menunda sekolahnya, Beasiswa yang diurusnya tidak berhasil karena dia tidak memperoleh surat keterangan miskin dari kantor Kelurahan. Dia pun harus bekerja seharian di bengkel milik tetangganya untuk membantu keluarganya. Sepeda tua milik ayahnya telah dijual oleh Pak Salman kepada seorang kolektor barang-barang tua. Namun, hasil penjualannya sangat sedikit. Bahkan tidak dapat melunasi biaya pengobatan ayahnya.

“Ndra, ayo kita kembali ke bengkel, sudah cukup kan istirahatnya!” Kata Arman, teman kerja Andra.

Andra pun bangkit dari duduknya dan berjalan gontai bersama Arman menuju bengkel tetangganya.

“Ndra…Andra!!” Teriak seseorang dari belakang.

Andra menoleh ke belakang, ternyata Parmin yang memanggilnya. Parmin tampak berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

“ Ndra, Rahmat, anak Pak Lurah sudah meninggal tadi pagi karena over dosis narkoba,” Katanya.

Andra terdiam, tiba-tiba udara kotor yang berada disekeliling jalan berlari menjauh dan sinar matahari menjadi semakin terang.

 

Medan, Mei 2009

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: