PADA SEBUAH KAMAR PUCAT

Oleh: Siti Utari Rahayu

 

Seorang lelaki bertubuh tinggi besar tampak menundukkan tubuhnya di jalanan berpasir. Nafasnya naik turun, menghembuskan udara berdebu. Dari wajahnya terbayang ketakutan yang mendalam, dan kekeruhan di matanya membuatnya tampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya masih 28 tahun. Dia menoleh ke belakang, mengamati jalanan berpasir yang tak berujung. Semenit kemudian wajahnya berubah menjadi agak tenang, dan dia pun terduduk di jalan itu. Di kiri kanan jalanan hanya terdapat padang rumput yang telah kering, sesekali pasir halus berputar disekeliling lelaki itu. Namun udara disekitar lelaki itu adalah udara panas dengan angin yang membawa sisa-sisa kemarahan, nafas-nafas cacian.

“Rizal…Rizal…” Sebuah bisikan menghampiri telinga pemuda itu, memanggil namanya. Angin kotor berputar-putar di sekitar tubuhnya yang meringkuk di jalanan itu.

Tiba-tiba wajah pemuda itu berubah menjadi keruh lagi. Dia menutup telinga dengan kedua telapak tangannya yang telah hitam terkena debu jalanan, dan matanya dipejamkan dengan mimik muka ketakutan.

”Kembali Kau! Pengecut!” Teriak seorang pemuda kurus dari arah belakang Rizal, pemuda kurus itu berlari sambil mengacung-acungkan bambu runcing menuju Rizal yang semakin ketakutan hingga tak dapat bergerak, tubuhnya menciut di jalanan itu hingga seluruh pasir mengepul-ngepul ke atas menuju langit biru.

“Pasir pun tak mau berlama-lama hinggap di tubuhmu yang penuh kepengecutan itu,” kata pemuda kurus itu lagi setelah berada di depan Rizal, bambu runcingnya ditancapkan di jalanan samping tubuh Rizal. Perlahan-lahan Rizal  menegakkan wajahnya menatap pemuda kurus itu, wajahnya masih dipenuhi ketakutan.

“Sekarang kau tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena ini bukan daerahmu, bukan kamar ukuran 8 x 9 itu!” Kata Pemuda kurus itu sambil tersenyum bangga.  Diambilnya bambu runcing itu dan digenggamnya erat-erat, ujung bambu itu diarahkan ke tubuh Rizal. Mata Rizal terbelalak, tetapi tatapan memelas sama sekali tak tergambar di wajahnya yang sekarang hanya dipenuhi kekeruhan dan bayangan hitam. Pemuda kurus itu pun mengayunkan bambu runcing itu ke tubuh Rizal.

“Akhhh!!!!” Teriak Rizal. Matanya terbuka, ditatapnya seluruh daerah disekitarnya, putih dan pucat, terang dan hangat. Di sekelilingnya ada lemari pendingin, AC, Jam dinding yang menunjukkan pukul 16.30 WIB, meja, dan Infus yang digantung tepat di sampingnya dengan selang-selang yang bersambung ke pergelangan tangannya. Semuanya dibatasi oleh dinding-dinding putih menjulang yang memantulkan gelombang-gelombang cahaya dari jendela kaca disamping tempat tidurnya, hingga kamar menjadi begitu terang. Tak ada lagi padang yang kering itu, apalagi udara panas bercampur debu. Dirabanya dadanya, tak ada luka, hanya pergelangan tangannya yang terasa sedikit kebas karena infus. Dia tersadar bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi, ingatannya pun telah kembali, bahwa dia memang sedang menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit umum di kotanya. Suasana sekitar sunyi, hanya sesekali terdengar tapak-tapak kaki yang melangkah.

Rizal pun menghembuskan nafas kelegaan. Mimpi itu terasa begitu nyata, dan sepertinya dia mengenali pemuda kurus yang hendak membunuhnya tadi, namun dia lupa siapa pemuda itu, sisa-sisa memorinya hanya dipenuhi keinginan-keinginan di masa depan, tanpa pernah berpikir masa lalu, walau sekedar untuk intropeksi diri.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, seorang lelaki berumur 25 tahun dan berpakaian putih masuk ke ruangan dengan membawa talam perak yang diatasnya terdapat beberapa obat disertai sebuah jarum suntik yang berukuran cukup besar. Rizal terkejut melihat lelaki itu, lelaki itu adalah pemuda yang hendak membunuhnya dalam mimpi tadi, wajahnya berubah menjadi cemas. Lelaki itu tersenyum berusaha menenangkan kecemasan yang terlukis di wajah Rizal, diletakkannya talam perak itu di meja kecil di samping tempat tidur Rizal.

”Tidak perlu takut, Bang. Suntikan ini tidak begitu sakit, hanya sedikit kebas saja,” kata lelaki itu, dipersiapkannya suntik yang akan diberikan kepada Rizal.

”Aku tak mau!!!Kau…Kau mau membunuhku!!!Kau mau menyuntikkan racun ke tubuhku!!!” Teriak Rizal sambil bergeser ke kanan tempat tidurnya menjauhi lelaki itu. Lelaki itu terkejut, tiba-tiba seorang perawat wanita dan seorang wanita berkemeja biru muda dan berambut panjang masuk.

”Bang, ini adalah dr.Fadli, pengganti dr.Rahmat,” kata wanita berkemeja biru itu sambil berdiri di samping tempat tidur Rizal, wanita itu adalah Ani, istri Rizal.

Rizal terdiam, dipandanginya Ani dalam-dalam, lalu pandangannya dialihkan ke dr.Fadli, sekilas kenangan tiba-tiba terjalin di otaknya, dia mengenali dr.Fadli, lelaki kurus yang sekarang berdiri di depannya adalah juniornya di kampus dulu.

”Kemana dr.Rahmat?” Tanya Rizal.

”Dia sedang keluar kota, Bang,” jawab dr.Fadli.

Lelaki itu tersenyum pada Rizal, semenit kemudian suasana menjadi tenang. Rizal pun menurut saja saat dr.Fadli menyuntikkan obat ke tubuhnya. Sudah dua hari ini Rizal menjalani rawat inap, dia menderita penyakit asam lambung akut. Menurut dr.Rahmat penyakit ini datang karena Rizal terlalu kecapaian bekerja dan juga terlalu banyak pikiran. Kondisinya sekarang memang sudah agak pulih, namun masih membutuhkan istirahat.

”Keadaan Bang Rizal sudah semakin membaik, Kak. Mungkin satu atau dua hari lagi bisa segera pulang, tetapi sepertinya Bang Rizal terlalu banyak pikiran. Saya harap Kakak bisa membantunya menenangkan diri,” kata dr.Fadli kepada Ani saat Ani mengantarkannya ke depan pintu kamar.

”Terima kasih, ya, Dik Fadli.”

Dr.Fadli tersenyum singkat dan segera pergi. Ani kembali ke tempat suaminya, dipandanginya Rizal yang sudah tertidur pulas karena pengaruh obat yang disuntikkan tadi. Suasana semakin teduh, semilir angin mengoyangkan dedaunan pohon mangga yang ada di taman rumah sakit sehingga menimbulkan bunyi gemerisik yang menyejukkan.

Tiga puluh menit kemudian teman-teman kerja Rizal datang menjengguk, jumlahnya 4 orang. Masing-masing membawa buah-buahan untuk Rizal, wajah mereka menampakkan kesedihan yang dibuat-buat, tidak sepenuhnya datang dari hati, sekedar menunjukkan rasa turut berduka untuk 10 atau 15 menit.

”Hanya ini yang dapat kami berikan kepada Pak Rizal, kami mendoakan semoga Bapak segera sembuh,” kata salah seorang dari mereka sambil tersenyum, senyum yang sangat singkat.

”Terima kasih, kalian mau menyempatkan diri untuk menjenguk Pak Rizal saja, kami sudah sangat senang,” ujar Ani dengan senyum penuh keramahan.

”Sudah sepantasnya, Bu. Pak Rizal kan manajer kami,” kata orang itu lagi.

Rizal yang sudah bangun dari tidurnya memperhatikan orang-orang itu. Dia hanya bisa diam mendengarkan percakapan mereka tanpa dapat ikut ke dalamnya, kepalanya masih berat dan suaranya tertahan. Pandangannya kabur, namun ingatan tentang orang-orang ini masih lekat dalam otaknya. Orang yang berbicara tadi adalah Amri, bawahannya di kantor tempatnya bekerja. Dulu dia dan Amri adalah teman kerja yang sangat solid, tetapi kemudian dia memfitnah Amri saat Amri hendak diangkat menjadi manajer sehingga jabatan itu jatuh kepadanya. Dan ketiga orang lainnya itu adalah bawahannya yang sering dijadikan kambing hitam jika dia melakukan kesalahan sehingga namanya tetap terjaga. Rasa bersalah kini merayapi tubuhnya tetapi rasa itu masih belum masuk ke hatinya, bahkan saat keempat orang yang telah dikhianatinya itu berdiri di hadapannya, menjenguknya walau dengan wajah yang dibuat-buat dan percakapan yang dipaksakan. Tetapi hati mereka tentunya sangatlah lapang, jika tidak maka setapak kaki pun tak akan dijejakkan menuju kamar tempat Rizal dirawat.

Lima belas menit kemudian pulanglah mereka, masih dengan ekspresi wajah yang sama dan salam perpisahan untuk sekedar berbasa-basi, sekedar menunjukkan tata krama pergaulan. Sepeninggalan mereka, kamar kembali pucat tetapi dinding-dinding putihnya tetap memantulkan semua gelombang-gelombang perasaan orang-orang yang berkunjung tadi, hingga Rizal merasa gelisah di tempat tidurnya. Dan selang-selang infus terasa semakin mengganggu tangannya. Ani yang semenjak kepergian teman kerjanya duduk di kursi sebelah tempat tidurnya, terasa sangat jauh dari dirinya, bahkan terasa sangat asing.

Kerapuhan suasana kamar tiba-tiba terguncang, seorang wanita muda berbaju ungu datang bersama seorang lelaki berkemeja biru. Mereka juga membawa gelombang perasaan seperti teman kerja Rizal. Wanita muda itu langsung mengambil tempat di samping tempat tidur Rizal. Dia meletakkan  satu plastik buah apel di meja kecil samping tempat tidur itu.

”Bagaimana keadaanmu, Bang?” Tanya wanita muda itu.

”Sudah agak baikan,” jawab Rizal dengan senyum singkat, dia berusaha menutupi perasaan gelisahnya dengan senyuman itu.

”Bagaimana keadaan Ibu di kampung, Yanti?” Tanya Ani tiba-tiba. Suasana keruh mulai menampakkan wujudnya.

”Ibu baik-baik saja, Kak. Aku yakin sebenarnya Ibu sangat mengkhawatirkan Bang Rizal, tapi Ibu juga belum dapat memaafkan perlakuan Bang Rizal kepadanya setahun lewat, tidak dapat melupakan kejadian itu. Sebaiknya Abang minta maaf kepada ibu, Bang,” kata wanita itu lagi, sedang lelaki yang bersamanya tadi hanya bisa diam memperhatikan dari tempat duduknya.

”Jadi Kau kesini hanya untuk menasehatiku!” Bentak Rizal.

”Bukan begitu, Bang. Aku hanya ingin keluarga kita berkumpul lagi. Semua adik-adik Bang Rizal mengharapkan agar Abang dapat kembali berkumpul bersama keluarga,” kata Yanti, adik Rizal dengan wajah sedih. Rizal tersenyum sinis. ”Apakah Abang malu mempunyai keluarga miskin?! Apakah Abang bangga menjadi orang sukses?! Menjadi manajer!” Lanjut Yanti dengan suara yang dikeraskan, air matanya mulai mengalir. Kini suasana kamar benar-benar keruh dengan udara-udara kebencian.

Ani menepuk-nepuk pundak Yanti, berusaha menenangkannya. Lelaki berkemeja biru yang ternyata adalah suami Yanti mendekati Yanti sambil memandang Rizal dengan pandangan hangat, dia tidak ingin memperburuk keadaan. Dia berharap Rizal dapat luluh dengan sikapnya itu.

”Hhhh… Aku tak tahu siapa yang salah pada kejadian itu, tapi kata-katamu akan kupikirkan lagi,” kata Rizal dengan suara mereda, sepertinya dia mulai dapat menguasai dirinya lagi, mimpi buruk tadi ternyata begitu mempengaruhi pikirannya.

”Baiklah, aku harap Abang dapat segera sembuh dan dapat meminta maaf pada ibu,” kata Yanti sambil menghapus air matanya.

”Kalau begitu kami pulang dulu, Bang. Maaf sudah mengganggu perasaan Abang. Niat hati hanya ingin menjenguk, tak tahu kalau akan begini jadinya. Kami doakan agar Abang segera sembuh. Kak Ani, kami pulang dulu,” kata suami Yanti sambil tersenyum hangat. Dan kedua orang itu pun segera meninggalkan kamar itu, meninggalkan jejak-jejak perasaan janggal pada Rizal dan Ani.

Malam menjemput, senja kemerahan sepertinya cepat sekali beranjak hingga gelap kebiruan menyelimuti bumi. Jendela kamar ditutup rapat dan AC dinyalakan, udara segar menyebar ke segala sudut kamar, membuat kamar berdinding putih itu makin dingin, makin pucat.

Jarum jam bergerak sesuai dengan keteraturan alam, tetapi gerak jarum jam itu terasa sangat lambat bagi Rizal, dia ingin segera dapat keluar dari kamar itu, kamar pucat dengan dinding putih yang selalu memantulkan seluruh gelombang alam. Pantulan gelombang-gelombang alam itu membuatnya selalu merasa gelisah dengan berbagai perasaan janggal, perasaan bersalah atas kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Padahal selama ini dia merasa bahwa apa yang telah dilakukannya adalah benar.

Pintu dibuka dari luar, dr.Fadli masuk, dia akan memeriksa  kondisi Rizal. Ani menyambutnya dengan mata mengantuk dan wajah lelah, sedang Rizal masih berbaring di tempat tidurnya, tapi matanya tak terpejam.

”Keadaan Bang Rizal sudah semakin baik, Kak,” kata dr.Fadli.

”Oh…Iya, jadi besok sudah bisa pulang?” tanya Ani sambil menguap.

”Sepertinya sudah bisa,” jawab dr.Fadli singkat.

Rizal hanya dapat mendengarkan pembicaraan mereka samar-samar, walaupun dirinya dalam keadaan terjaga tetapi pikirannya seakan melayang-layang ke alam lain, alam dimana semua peristiwa-peristiwa masa lalunya kembali diputar. Pandangannya di arahkan ke dr.Fadli yang berjalan menuju pintu kamar, terbayang kejadian 7 tahun yang lalu, saat dia menjadi senior dr.Fadli di Jurusan Fisika USU. Saat itu dia sering menghajar dr.Fadli yang baru saja menginjakkan kakinya di USU, hal itu dilakukannya untuk menunjukkan kehebatannya, menunjukkan bahwa dia berani dan gagah. Tapi sekarang, dia merasa bahwa perbuatannya itu sangat bodoh. Perbuatannya itu hanya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang pengecut, bukannya pemberani seperti yang diharapkannya. Karena perbuatannya itu dr.Fadli mengundurkan diri dari kampusnya dan melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran pada sebuah perguruan negeri swasta di kota ini.

Suasana kamar kembali sepi, Ani telah tidur di sofa. Rizal hanya ditemani oleh bunyi jarum jam dinding, dan pikirannya melayang ke peristiwa 4 tahun yang lalu. Saat itu dia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan swasta dan untuk dapat diterima di perusahaan itu dia pun menyuap salah satu pegawai perusahaan itu. Jadilah dia diterima di perusahaan itu, perusahaan tempatnya bekerja sampai sekarang.           ”Hhhh…” Rizal menghembuskan nafas kelelahan. Pikirannya tidak dapat tenang, semua kejadian masa lalu terasa memenuhi isi kepalanya sekarang ini. Kenangan-kenangan itu terus berputar layaknya film, menampakkan semua perasaan orang-orang yang terlibat di dalamnya sehingga membuat Rizal menjadi semakin lelah.

Kenangan masa-masa dia bekerja di perusahaan swasta itu pun berputar di pikirannya. Dia selalu berusaha untuk menaikkan jabatannya dengan cara apapun. Seringkali dia memfitnah teman kerjanya untuk mendapatkan perhatian direktur perusahaan, bahkan setelah dia menjadi manajer. Semua orang mungkin menganggapnya sebagai orang yang sukses dalam berkarir, namun dia sendiri pun tahu bahwa selama ini dia hanyalah seorang penakut, takut menjalani kenyataan hidup yang sebenarnya hingga menempuh jalan pintas. Sekarang ini barulah dia merasa bahwa perbuatannya itu benar-benar salah, benar-benar menunjukkan kepengecutannya. Rasa ini timbul setelah teman-teman kerja yang pernah disakitinya itu datang menjenguknya, semua itu terjadi di saat dia sakit.

Jam dinding telah menunjukkan pukul 21.30 WIB, Rizal masih belum tertidur. Pikirannya terus memutarkan kejadian-kejadian di masa lalu. Setahun yang lalu dia menjual tanah warisan ayahnya di kampung tanpa sepengetahuan ibunya. Tanah itu dijualnya pada saat hari kesepuluh ayahnya meninggal dunia. Walaupun sebagian uang itu diberikannya kepada ibu dan adik-adiknya, tetapi ibunya merasa bahwa Rizal telah berlaku tidak sopan, begitu pula dengan adik-adiknya, mereka semua tidak setuju tanah itu dijual.

Tetapi Rizal tetaplah Rizal, dia bersikeras bahwa perbuatannya itu benar dan itu semua dilakukannya untuk kebaikan keluarga juga. Namun sebenarnya semua itu dilakukannya hanya untuk keuntungan pribadinya, saat itu dia memang sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya.

”Hhhh…” Sekali lagi Rizal menghembuskan nafas kelelahan. Segala kesalahannya dimasa lampau berkumpul di jiwanya, menjadikannya gelap dan sangat gelap. Sekarang segala kegelapan itu berkumpul di dirinya. Dan Tuhan telah kuasa menjadikannya seperti benda hitam, benda yang menyerap hampir semua gelombang hingga berpedar. Gelombang-gelombang itu adalah gelombang perasaan orang-orang yang pernah disakitinya, yang dipantulkan dinding-dinding putih ruang pucat itu, dan juga gelombang-gelombang positif yang timbul karena kuasa Tuhan. Semua gelombang itu membuatnya insaf atas segala kegagalan hidupnya selama ini.

Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pengecut, Rizal merasa bahwa sekarang ada setitik keberanian timbul dari dalam dirinya. Pikiran dan hatinya menjadi lebih tenang. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa hari esok akan dilaluinya dengan takwa dan keberanian. Dia pun berjanji terhadap dirinya sendiri bahwa dia benar-benar akan menjadi seorang pemberani, bukan lagi seorang pengecut. Tiba-tiba dia tersadar bahwa semua perubahan pikirannya itu terjadi di sebuah kamar pucat. Kamar yang dinding-dindingnya putih selalu memancarkan segala gelombang. Dan tahulah dia bahwa itu semua terjadi atas kehendak Tuhan.

 

Medan, September 2009

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: