KADO TERINDAH

Oleh: Siti Utari Rahayu

“Mengertilah Nisa, Apa yang ibu larang itu adalah untuk kebahagian kamu juga, ibu hanya ingin melihat kamu tersenyum nantinya.” Kata-kata ibu itu terngiang-ngiang di telingaku, terus menerjang setiap sisi otakku. Ada makna tersirat di dalamnya yang tidak kumengerti. Kata-kata itulah yang selalu dilontarkan ibu kalau melihat aku diantar pulang oleh Edo, kakak kelas yang selama seminggu ini mendekatiku. Terus terang saja aku juga menyukai cowok itu, wajahnya yang selalu dihiasi senyum ditambah sikapnya yang penuh kedewasaan membuatnya disukai banyak cewek di sekolahku, apalagi dia ketua OSIS. Namun setahuku sampai sekarang dia belum mempunyai pacar. Dan sekarang dia mendekatiku, bukankah itu suatu keberuntungan. Tetapi ibu tidak menyukainya. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka tetapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri, hatiku terbagi.

”Marinisa…Marinisa Hamdan!” Panggilan Bu Suryani, Guru Fisika membuyarkan lamunanku. Aku langsung menegakkan tubuh dan melihat kearahnya.

”Kerjakan soal no.13 di papan tulis!”Lanjutnya sambil menyodorkan sebatang kapur kearahku.

”No.13!!Nomor sial!” Umpatku dalam hati, tetapi saat kulihat soal tersebut hatiku menjadi lega. Soal itu telah kukerjakan tadi malam. Aku pun segera maju ke papan tulis untuk mengerjakan soal tersebut.

§§§

”Nisa!!”Teriak seorang cowok memanggilku. Aku menoleh kebelakang, cowok itu berlari kearahku sambil tersenyum.

”Oh, Kak Edo, ada apa Kak?”

“Aku antar kamu pulang ya?”

Hmm…Aduh, Nisa…Nisa mau ke mini market Lestari,” ujarku gugup dan asal-asalan, bersamaan dengan itu sapu tanganku terjatuh pula. Kak Edo menaikkan alisnya, heran melihat tingkahku yang serba salah.

”Ya, Aku bisa antar kamu ke mini market itu, kemudian kita pulang.”

”Nisa mau pergi dengan Lia kok! Lia!! Tunggu!! Kak, Nisa pergi dulu ya! Makasih tawarannya.” Aku langsung berlari mendekati Lia yang berdiri di pagar sekolah dengan wajah penuh tanda tanya.

”Li, Temani Aku ke mini market Lestari yuk!” Ajakku pada Lia, anak itu manut saja tapi wajahnya menatapku dengan penuh keheranan. Aku tidak ingin berbohong pada Kak Edo, aku hanya ingin manjauhinya. Ya, Menjauhinya sebisa mungkin selama hal itu bisa membahagiakan ibuku, orang yang telah bercucuran keringat membesarkanku, yang selama 9 bulan mengandungku dengan bersusah payah.

§§§

”Jadi kamu kesini hanya untuk menolak ajakan Kak Edo secara halus?” Tanya Lia setelah aku menjawab pertanyaannya kenapa aku tiba-tiba mengajaknya ke mini market Lestari. Aku hanya mengangguk sambil melihat-lihat buku tulis.

”Ya ampun Nis! Kamu bilang aja langsung kalau kamu nggak mau.”

”Aku nggak bisa Li, Aku nggak terbiasa untuk menolak orang secara langsung, lagi pula sebenarnya aku masih bingung. Aku sih mau saja diantarkan Kak Edo, tapi ibuku melarangnya.”

”Ya…ya…ya…Mana ada sih orang yang menolak ajakan seorang Edo Syahputra, ketua OSIS yang dikagumi cewek-cewek se-SMU Dharmawongso, termasuk kamu kan Marinisa Hamdan,” ujar Lia mengejekku. Aku hanya tersenyum simpul, apa yang dikatakannya memang benar.

”Yuk, kita pulang,” ajakku kemudian.

”Nisa, Aku keluar duluan ya.” Lia segera menuju ke tempat penitipan tas dan beranjak keluar. Sambil mengantri mataku membututi setiap langkahnya sampai menghilang di parkiran.

”Tujuh ribu seratus rupiah Mbak,”kata pegawai kasir

Aku pun segera merogoh kantung dan mengambil dompet. Tetapi aku tak melihat adanya uang dalam dompetku, Astaga!! Aku baru ingat bahwa tadi malam aku meninggalkan uangku di atas meja belajar dan lupa memasukkannya kembali, sedangkan tadi siang aku tidak ada memeriksa dompet karena tidak membeli jajanan. Aku menjadi bingung, mataku melongok ke parkiran mencari Lia, tapi aku tak melihatnya disana.

”Aduh Bagaimana ya? Mau meminjam uang Lia tapi dia tak kelihatan di parkiran. ” Pikiranku menjadi kacau. Pegawai kasir itu mulai menatapku dengan pandangan kesal, untungnya tidak ada orang yang mengantri di belakangku.

”Ini Mbak uangnya.” Tiba-tiba seorang lelaki menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada pegawai kasir itu dari belakangku, sepertinya aku kenal suara itu, aku pun berbalik ke arahnya.

”Kak Edo!!”

Kak Edo menatapku dengan tersenyum, aku hanya diam, rasanya mukaku memerah dan leherku menjadi panas, tapi kebingungan masih menyelimutiku.

”Makanya kalau mau berbelanja periksa dulu dompetnya,” Kak Edo menasehatiku ketika kami berjalan menuju parkiran sepeda motor. Aku hanya mengangguk pelan, sekarang aku tak punya alasan untuk menolaknya mengantarkanku pulang, aku berhutang padanya. Ternyata Lia sudah pulang duluan, ibunya tiba-tiba sakit, begitu kata Kak Edo. ”Maaf ya Lia, sudah menyusahkanmu,” batinku.

§§§

”Nisa, aku pulang dulu ya,” kata Kak Edo saat kami sampai di depan pintu pagar rumahku.

”Uang Kakak bagaimana, Nisa ambilkan dulu ya!” Kataku kemudian.

Nggak usah Nis, besok-besok saja, Aku harus cepat ada urusan lagi,”

Dia tersenyum dan pergi dengan sepeda motornya yang besar. Aku menghela nafas panjang, memang susah mejauhinya, aku segera masuk ke rumah. Ibuku duduk di ruang tengah sambil menyulam. Ketika melihat aku berdiri di depannya dia pun menghentikan kegiatannya dan memandangiku dengan pandangan marah. Aku hanya diam dan berdiri mematung dihadapannya.

”Kenapa Kamu pulang dengan anak laki-laki itu lagi? Kan sudah ibu larang! Kamu itu masih remaja Nis, masih sekolah, pikirkan saja pelajaranmu,” kata ibu singkat saja, tak panjang seperti biasanya. Mungkin ibu telah kehabisan kata-kata atau mungkin sangat banyak kata yang ingin ditumpahkannya kepadaku, tapi hatinya tak mampu menahan gelegak amarah hingga mulutnya tak bisa berucap banyak, mungkin.

”Sudahlah, biar ayah yang menasehati Kamu,” lanjut ibu sambil mengalihkan pandangan ke sulamannya. Aku terdiam beberapa saat, kemudian aku masuk ke kamarku, hatiku kacau dan pikiranku menjadi kusut.

Kuhempaskan tubuhku ke kasur yang spreinya bermotif bunga-bunga, kupandangi dalam-dalam foto aku dan ibuku yang kuambil dari meja belajarku. Banyak pendapat yang sebenarnya ingin kusampaikan pada ibu, banyak kata ’mengapa’ yang ingin kutanyakan,  namun aku merasa hal itu tak bisa kulakukan, itu hanya akan membuat perasaanku semakin kacau dan juga perasaan ibu. Mungkin apa yang dilarang ibu memang hal yang benar, tapi aku masih belum bisa menerimanya, entahlah.

”Nisa, makan siang dulu!” Panggil ibu setelah setengah jam aku tidak keluar dari kamar.

”Hhhh…”Aku menghela nafas panjang, ibu, seberapa pun besar kesalahanku padanya tapi ibu tetap peduli padaku.

Aku langsung menuju dapur. Tumis kangkung, makanan kesukaanku, tiba-tiba sebuah penyesalan menyusup ke dalam hatiku, menyusuri pembuluh darahku dan mencapai jantung hingga penyesalan itu mancair dan menyebar ke seluruh tubuh bersama aliran darahku dan diriku menciut, aku diam beberapa saat, menenangkan jiwa.

Malam harinya setelah makan malam, aku, ayah dan ibu duduk di ruang tengah, menonton berita malam. Sedangkan Adikku Evi sudah tidur. ”Kapan kamu ujian kenaikan kelas Nisa?” Tanya ayahku mencairkan suasana yang tadinya hanya diisi suara pembawa acara berita malam.

”Tiga minggu lagi Yah,” jawabku singkat. Sepertinya ibu telah menceritakan kejadian tadi siang dan meminta ayah untuk menasehatiku. Arah pembicaraannya sudah dapat kutebak.

”Oh, jadi persiapan kamu sudah matang? Nanti selepas menonton berita kamu harus belajar lagi, jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting. Memikirkan solusi permasalahan bangsa boleh, caranya ya belajar dengan baik, ingat kata-kata orang tua, termasuk larangan ibu kamu,” Kata ayah, caranya memberi nasehat sangat kuhafal. Aku hanya mengangguk pelan. Malam semakin larut, jam dinding menunjukkan pukul  09.00 malam, aku segera beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke kamar, aku harus belajar.

§§§

Kelas XI IPA-2 sudah kumasuki tapi Kak Edo tak ada disana, kucari di kantin sekolah juga tak ada, di lapangan juga dia tak kelihatan. Aku tak mau bertanya dengan teman sekelasnya, bisa-bisa muncul gossip yang tidak menyenangkan bahwa aku sedang melakukan pedekate dengannya. ”Bagaimana ini, kalau hutang itu tidak segera kulunasi bisa-bisa aku tak bisa tidur malam ini. Huh!! Kenapa jadi aku yang mengejar-ngejar dia,” batinku kesal. Aku pun segera kembali ke kelasku dengan langkah gontai. Di kelas Lia menyambutku dengan tersenyum, aku segera duduk disampingnya.

”Bagaimana keadaanmu kemarin?” Tanyanya langsung ketika aku meletakkan tas dalam laci.

Aku mengernyitkan kening dan bertanya kembali, ”Maksudmu?”

”Sebenarnya kemarin ketika aku menunggumu di parkiran, Kak Edo datang dan menanyakan padaku apakah kamu mengajak aku ke mini market itu untuk menjauhinya, kemudian…” Lia tak melanjutkan pembicaraannya, dia menunduk. Jantungku berdebar keras, jangan-jangan Lia telah memberitahukan semuanya pada Kak Edo.

”Kemudian apa Lia?”Tanyaku tak sabar.

”Tiba-tiba Kakakku menelpon, aku harus segera pulang karena Ibuku tiba-tiba pingsan, darah rendah, jadi aku pulang dan tidak menjawab pertanyaannya, tenang saja, ha…ha…ha.” Lia tertawa tanpa beban, aku heran melihat anak ini, dia masih dapat bercanda walau ibunya sakit, namun hal itu hanya kusimpan dalam hati.

”Huh!!Dasar!!Jadi bagaimana keadaan ibumu?” Tanyaku kemudian.

”Masih di rumah sakit, kata dokter ibuku juga sakit asam lambung, jadi harus dirawat di rumah sakit, doakan ibuku ya.”

”Pastinya! Nanti sepulang sekolah kamu kesana lagi? Aku ikut ya, nanti aku telepon dulu ibuku untuk minta izin.”

”Boleh, tapi kali ini bukan untuk menjauhi Kak Edo lagi kan?” Kata Lia menggodaku.

”Ya nggak lah!” Percakapan kami terhenti, Bu Yanti, guru matematika sudah datang.

§§§

”Nisa!!” Panggil Kak Edo ketika aku sedang duduk di bangku taman samping sekolah bersama Lia sambil menikmati bekal roti yang kubawa.

Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum, kemudian dia berdiri di depan kami. Aku segera merogoh saku bajuku dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan dan tiga lembar seribuan. Sambil berdiri kuserahkan uang itu padanya.

”Terima kasih ya kak.”

Dia hanya tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih teratur.”Sebenarnya aku ke sini bukan mau menagih hutang tapi ya sudahlah. Aku mengganggu acara makan kalian ya?”

Nggak kok kak,”ujarku singkat.

By the way bagaimana keadaan ibumu, Lia?”

”Masih di rumah sakit, nanti aku dan Nisa mau kesana, Kak Edo mau ikut?” Tanya Lia sambil melirikku. ”Dasar!! Semoga Kak Edo tidak bisa ikut,” batinku kesal.

”Hmmm…Sepulang sekolah ya? Boleh. Rumah sakit mana? ruangannya?”

”Rumah sakit dr.Ahmad, Anggrek 4.”

”Ok! Nanti kita ketemu di sana! Kakak ke kelas duluan ya,” katanya masih dengan senyum khasnya. Kak Edo pun segera pergi ke arah barat, ke kelas XI IPA-2, aku memandanginya sampai menghilang di ujung tikungan.

§§§

”Kamu ini apaan sih Li! Pake ngajak Kak Edo segala. Kita kan mau menjaga ibumu bukan mau ke mall,” kataku kesal ketika kami berjalan ke halte.

”Yah!! Si Nisa jadi ge-er, sebenarnya aku tadi cuma basa-basi saja, nggak enak juga kan kalau kita nggak mengajak Kak Edo karena dia menanyakan  keadaan ibuku. Dan kupikir sekalian juga dia pedekate sama kamu, istilahnya sekali mendayung satu dua pulau terlewati. Ha…ha…ha…Eh, Kak Edo itu kan baik, kenapa ibu kamu nggak suka ya?”

”Ibuku nggak membolehkan aku pacaran sampai aku menyelesaikan sekolahku. Hey! Lia, kenapa sih kamu nggak sedih? Ibu kamu kan sedang sakit, seharusnya kamu memikirkan keadaannya.” Ucapan itu muncul begitu saja dari mulutku.

Hhhh, sebenarnya aku sedih Nis, tapi aku nggak mau terlalu terbawa perasaan, aku harus sabar dan terus berpikir positif, aku melakukan yang aku bisa dan terus berdoa, lagi pula sakit ibuku kan tidak begitu parah. Aku yakin Ibuku akan baik-baik saja.”

Percakapan kami terhenti, Angkutan umum koperasi no.34 sudah datang. Kendaraan itu segera membawa kami ke rumah sakit dr.Ahmad yang terletak kira-kira 1 Km dari halte tadi. Disepanjang perjalanan aku terus memandangi pemandangan di luar jendela, ruko-ruko berbentuk peesegi panjang yang menjulang ke atas diselingi rumah-rumah besar, pedagang kaki lima, kadang ada lapangan yang tak terurus, pemandangan yang lazim untuk daerah perkotaan seperti  ini.

Setelah 15 menit kami sampai di rumah sakit, Kak Edo baru datang dengan Rahmat, ketua kelas X-1, kelasku dan Lia. Ibu Lia kelihatan sudah agak baikan, terlihat dari air mukanya yang yang ceria, Aku membawakan roti biskuit, sedang Kak Edo dan Rahmat membawa buah apel. Tak banyak percakapan yang terjadi, Satu jam kemudian Kak Edo dan Rahmat memutuskan untuk pulang.

”Bu, Lia, kami pulang dulu ya, semoga Ibu cepat sembuh,” kata Kak Edo meminta izin.

”Oh, ya, terima kasih ya sudah mau menjenguk ibu.”

”Sudah menjadi kewajiban Bu, Lia kan teman kami.”

”Kamu nggak pulang Nisa?Nggak mau aku antar?”Tanya Kak Edo padaku saat kami mengantarnya keluar ruangan.

”Oh, nggak usah Kak, terima kasih, Nisa pulang nanti sore, kasihan Lia sendirian menemani ibunya disini.”

”Kamu sedang tidak menjauhi aku kan.

”Hah! Nggak kok Kak,” ujarku gugup. Kak Edo tersenyum dan segera pergi.

§§§

”Nisa, ini soal-soal ujian tahun lalu, seminggu lagi kan sudah ujian akhir, mungkin soal-soal ini keluar lagi, gurunya kan masih sama,” kata Kak Edo, diletakkannya sekumpulan kertas soal di samping tempat dudukku, di bangku taman samping sekolah, Lia sedang pergi membeli roti.

”Oh, terima kasih ya Kak, Kakak sendiri bagaimana persiapannya?”

”Yah, begitulah, saat ini OSIS pun sedang sibuk mengurusi pentas seni yang akan diadakan pada pertengahan Juni nanti, apa kamu punya ide untuk pentas seni ini?” Tanyanya sambil berdiri di depanku.

”Oh, nggak, Nisa nggak punya bakat dibidang seni,” jawabku singkat.

”Eh, Kak Edo, mau roti Kak?” Tiba-tiba Lia datang membawa dua potong roti. Dia segera duduk di sampingku.

“Tidak, terima kasih. Kakak ke lapangan dulu ya, mau mencari Rendi.”

”Ok!” Ujar Lia.

”Kak Edo memberi soal-soal ini kepadaku, katanya mungkin soal ini akan keluar lagi, nanti sore kita bahas saja sambil menunggu ibu kamu di rumah sakit.”

“Oh, ibuku sudah pulang, kita membahasnya di rumahku saja.”

”Baiklah aku akan meminta izin.”

§§§

”Nisa, Happy Birthday ya!” Teriak Lia saat aku memasuki ruangaan kelas, aku terkejut. Kulihat kalender yang tergantung di dinding samping ruangan. Senin, 25 Mei 2009, hari ini memang hari ulang tahunku. Huh! Kenapa aku lupa pada hari ulang tahunku sendiri. Payah!

Makasih ya Lia, aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun.”

”Kira-kira Kak Edo tahu tidak ya kalau hari ini aku ulang tahun? Hey kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak,” Pikirku sambil memandangi buku yang baru kukeluarkan dari tas.

”Kita belajar Matematika dulu Non! Fisika nanti sehabis istirahat kedua.” Kata-kata Lia membuyarkan pikiranku. Dia tersenyum melihatku mengeluarkan buku fisika.

”Oh ya, tentu saja,” kataku singkat, menyembunyikan rasa malu karena mengeluarkan buku yang salah, aku tak ingin Lia tahu bahwa aku sedang melamun, memikirkan Kak Edo tepatnya.

”Kira-kira Kak Edo tahu apa tidak ya? Nis, kalau dia tahu hari ulang tahunmu dan mengucapkan selamat kepadamu, aku yakin kalau dia benar-benar menyukaimu.” Kata-kata Lia barusan sangat mewakili apa yang kupikirkan, jangan-jangan Lia bisa membaca pikiranku.

”Oh ya, tapi aku rasa dia tidak tahu. Kalaupun dia tahu dan mengucapkan selamat kepadaku, itu tidak dapat dijadikan alasan bahwa dia benar-benar menyukaiku,” kataku kemudian sambil memandang gambar presiden yang tergantung  di atas papan tulis.

” Jadi menurutmu apa indikasinya bahwa dia benar-benar menyukaimu?”

”Entahlah. Aku nggak mengerti hal-hal seperti itu. Aku rasa kita masih terlalu kecil untuk memahami hal-hal seperti itu.” Pandanganku kualihkan ke Lia. Dia memandangiku dengan tatapan serius.

Yah! Aku juga berpikir demikian.Entahlah,” katanya kemudian.

§§§

”Karena hari ini Nisa ulang tahun, nanti malam kita akan makan di restoran,” kata ayah ketika kami bersantai sore di teras rumah.

”Asyik!!” Kata adikku Evi sambil melahap pisang gorengnya.

”Benarkah!! Terima kasih Yah!” Kataku gembira, jarang-jarang kami sekeluarga bisa makan di restoran, keluargaku bukanlah keluarga kaya, ayahku hanya seorang pegawai swasta biasa, tapi aku merasa hidupku sudah bahagia.

”Apa tidak terlalu boros Yah? Keperluan kita kan masih banyak,” kata ibuku kemudian.

”Proyek yang Ayah kerjakan telah sukses, perusahaan sangat berterima kasih pada ayah sehingga mereka menaikkan jabatan ayah. Anggap saja ini sebagai syukuran. Oh ya Bu, hari minggu buat juga nasi urap untuk dibagikan ke tetangga, syukuran.”

”Oh, restoran yang mana Yah?” Tanyaku.

”Hmmm, Restoran Cemara di Plaza Indah saja.”

”Ayah, Ibu dan Evi mengendarai sepeda motor saja, Nisa  bisa naik becak motor, bagaimana?” Aku memberi tawaran.

”Bagaimana mungkin kita tidak pergi bersama-sama?” Ujar Ibu tidak setuju.

”Baiklah kita naik becak saja, dua becak. Semoga nanti malam udaranya bagus.” Kata ayah mengakhiri percakapan, matahari beranjak turun, maghrib akan segera tiba.

§§§

Udara malam begitu nyaman, langit cerah dengan bintang-bintang yang menghiasinya, bulan tampak sebagai sabit yang indah seperti ratu diantara taburan bintang, kadang angin yang lembut menerpa. Aku dan Ibu berada pada becak yang sama sedang Evi dan ayahku pada becak yang lainnya. Pinggiran jalan dihiasi dengan toko-toko yang terang, terkadang rumah makan, ada juga pedagang kaki lima, rumah-rumah mewah dan tukang becak yang memenuhi simpang jalan. Pembatas jalan dihiasi dengan spanduk-spanduk, dan lampu jalan,  sungguh semarak keadaan jalanan pada malam hari.

Aku dan keluargaku makan malam di Restoran Cemara, salah satu restoran di Plaza Indah, menu yang disajikan sebenarnya biasa saja, tetapi tempat yang elit membuat restoran ini menjadi berbeda dibandingkan dengan pedagang kaki lima yang biasa kujumpai di pinggir jalan.

”Tiit…Tiit…Tiit…” Hp-ku berbunyi, ada sms masuk.

Selamat Ulang Tahun ya Nisa ^_^ !! Tadi aku ke rumahmu tetapi nggak ada orang, jadi kadonya aku letakkan di meja teras, maaf ya, aku nggak bisa menundanya sampai besok.

”Kak Edo.” Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, jiwaku rasanya melayang jauh, Restoran Cemara rasanya menjadi sebuah padang rumput yang dipenuhi berbagai bunga, ada bunga mawar, bunga matahari, bahkan bunga tulip, sungguh indah.

”Nisa, kamu ngelamun ya? Ayo pulang.” Ajak Ibuku membuyarkan lamunan sesaatku.

Kami segera keluar restoran, Game Zone yang terletak tepat di depan restoran  sungguh menarik perhatian hingga Evi merengek minta ditemani ke tempat permainan itu. Akhirnya ayahku pun membolehkannya. Aku menemani Evi bermain balap motor yang terletak di sudut kiri ruangan. Dari tempat ini aku dapat memandangi seluruh ruangan dengan bebas, berbagai mesin permainan dengan warna-warna menarik yang dihiasi dengan lampu kelap-kelip akan sangat mengundang anak-anak untuk datang, bahkan orang dewasa sekalipun. Di sisi kanan aku melihat ayah dan ibuku sedang mengamati permainan mengambil boneka dalam sebuah tabung, dan pandanganku terhenti ke arah permainan lempar bola, disana ada Kak Edo.

”Ternyata Kak Edo datang ke sini juga rupanya, kira-kira dengan siapa ya?” Pikirku. Aku tak hendak mendekatinya, aku hanya memperhatikannya dari jauh. Kulihat seorang cewek datang mendekatinya dengan membawakan segelas minumam ringan, mereka tampak akrab. Aku berusaha mengingat-ingat cewek yang bersamanya itu. Kak Reva, ya aku ingat cewek itu adalah Kak Reva, kakak kelasku semasa SMP, seingatku sekarang dia bersekolah di SMU Negri 07, jadi kami memang tidak satu sekolah, pantas saja aku tidak tahu kalau dia kenal dengan Kak Edo.

”Mungkin Kak Reva adalah sepupunya,” pikirku menenangkan diri. ” Tapi, dulu Kak Edo pernah bilang kalau dia tidak punya sepupu karena ibunya adalah anak tunggal sedangkan saudara ayahnya semua ada di Padang,” pikirku lagi. Melihat gerak tubuh mereka aku bisa mengerti bahwa mereka memang pacaran.

Aku tersenyum getir menghadapi kenyataan ini, ada bara yang rasanya masuk ke dalam hatiku, menghantam setiap sudutnya, sangat sakit. Mungkin aku-lah yang terlalu ge-er, mungkin dia hanya menganggapku sebagai adiknya bukan yang lain atau mungkin juga dia ingin mempermainkanku. Ya, segala kemungkinan itu bisa saja terjadi dan aku masih bingung.

”Kak Nisa, pulang yuk! Evi sudah puas bermain.” Ajakan adikku menghentikan pikiranku, walaupun bara itu masih bersemayam di hati aku berusaha tenang dan membawa adikku keluar dari tempat permainan itu untuk menemui Ayah dan Ibu. Kami pulang melewati tempat Kak Edo, tetapi aku tak peduli dengannya, apakah dia melihatku ataupun tidak. Kurasa dia terlalu sibuk untuk sekedar melihat orang lewat.

Disepanjang jalan aku hanya melamun, kenapa aku menjadi begitu ge-er dan kenapa pula kejadian ini harus terjadi pada hari ulang tahunku, aku merasa kalau aku adalah orang yang paling malang malam ini.

Malam telah larut, dan kegelapan mulai menunjukkan wajahnya, untuk menenangkan hati, aku berusaha mengalihkan pikiran dan mataku ke pemandangan jalan, di emperan toko kulihat banyak pengemis dan anak gelandangan, kedinginan dan mungkin lapar tetapi mereka tampak tertawa-tawa. Aku jadi malu dengan diriku sendiri, disekitarku banyak orang yang mengahadapi kesusahan hidup tetapi masih terus bisa tertawa. Sedangkan aku hanya menghadapi masalah yang kecil sudah mengeluh.

Kupandangi bulan yang tengah berlindung di balik awan, tiba-tiba perasaanku menjadi sedikit tenang. Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan bahwa apa yang dilarang ibuku selama ini adalah benar, ibuku hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sekarang aku baru mengerti kata-kata ibu yang sering diucapkannya kalau melihat aku diantar pulang oleh  Kak Edo. Aku memang belum mengerti bagaimana cinta sejati itu dan belum siap menerima kepahitan dalam cinta sesaat.

Sesampainya di rumah kulihat kado itu terletak di atas meja, aku tersenyum lalu kuambil kado tersebut.

”Dari siapa Nis?” Tanya ayahku tiba-tiba.

”Dari teman sekolah Yah,” jawabku singkat. Aku pun langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamar, kututup pintu kamar, tiba-tiba aku ingin sendiri. Kuletakkan kado itu di atas meja belajar, lalu beranjak menuju jendela. Dari jendela bulan masih kelihatan dan juga bintang-bintang, dinginnya malam tak kuhiraukan. Kejadian malam ini adalah kado terindah dari Tuhan yang kuperoleh, walaupun kado itu terbungkus kertas kepahitan. Aku memejamkan mata, kurasakan angin yang hangat datang memelukku.

”Ibu maafkan aku selama ini,” kataku dalam hati, besok aku pasti mengatakannya langsung, tapi bukan sekarang. Aku masih ingin sendiri.

Medan, 20 Mei 2009

About sitiutarirahayu

I am a muslim

3 responses to “KADO TERINDAH”

  1. utarie says :

    okeh deh!!!

  2. cwe manja says :

    nanti lo dalanjutannya kirim k email aku yach,.Angel_love25@rocketmail.com

  3. cwe manja says :

    lanjutannya dunk,.pasti lo dilanjutin nie bakal bagus,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: