Simpang Siur Rekaman kriminalitas KPK

JAKARTA–Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia, Patrialis Akbar, mengimbau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)agar mempublikasikan bukti rekaman dugaan rekayasa kasus hukum yang menyeret dua nama pimpinan KPK. “Lebih baik rekaman tersebut dipublikasikan agar masyarakat tidak menduga-duga kronologi kasus yang sebenarnya,” kata Patrialis ketika ditemui di sela-sela diskusi National Summit 2009 di Pacific Place, Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat.

Patrialis Akbar mengatakan publikasi ke publik bisa menjadi jalan bagi pihak berwenang untuk menyelidiki kebenaran isi rekaman tersebut dan kaitannya dengan kasus hukum yang saat ini sedang dihadapi dua pimpinan KPK nonaktif Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Dalam beberapa hari terakhir ini, media massa memuat transkrip rekaman yang berisi percakapan untuk mengkriminalisasi pimpinan KPK.

Sejumlah pejabat Kejaksaan Agung dan Polri disebut-sebut dalam rekaman itu. Ada beberapa nama yang disebut-sebut dalam rekaman yang diduga terlibat upaya untuk mengkriminalisasi pimpinan KPK. Bahkan, nama RI1 (sebutan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) juga muncul dalam transkrip itu.

Rekaman ini beredar seiring dengan penetapan Chandra dan Bibit sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang yakni pengajuan dan pencabutan cekal terhadap Anggoro Widjoyo dan Djoko Tjandra. Setelah rekaman itu menyebar, maka Polri langsung menahan kedua tersangka di Mabes Polri pada 28 November 2009.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (30/10), telah memerintahkan penyidik Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) untuk mengusut beredarnya transkrip rekaman yang berisi dugaan adanya rekayasa untuk mengkriminalkan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Bambang Hendarso Danuri mengatakan, Polri tidak saja akan mengusut kasus beredarnya rekaman tapi juga substansi isi yang ada dalam pembicaraan. “Kita akan melibatkan saksi ahli dalam kasus ini,” katanya. Polri akan juga meneliti keabsahan dari rekaman itu.

Tetapi di sisi lain, mantan Ketua MK Jimly Ashiddiqie meminta agar KPK tidak untuk menyerahkan dokumen rahasia termasuk rekaman dugaan rekayasa kasus dua pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, tanpa perintah pengadilan.

Jika Mabes Polri memaksa melakukan penyitaan, polisi telah bertindak sewenang-wenang. Apalagi rekaman tersebut akan menjadi bukti dipersidangan Mahkamah Konstitusi Selasa (3/11).

Hal itu ditegaskan mantan Ketua MK Jimly Ashiddiqie kepada Media Indonesia, di Jakarta, Sabtu (31/10). “KPK jangan menyerahkan dokumen bukti apapun kecuali atas perintah pengadilan,” ujarnya seraya menambahkan sebaiknya bukti rekaman tersebut didengar secara lengkap di persidangan MK.

Jimly mengaku mendukung upaya penangguhan penahanan Bibit dan Chandra. Ia juga berharap pemeriksaan harus dilakukan secara cepat agar dapat segera dibawa ke pengadilan yang independen dan terbuka.

Menurut Jimly sebaiknya Kapolri dan Jaksa Agung menugaskan tim khusus untuk menangani kasus in. “Karena tim polisi dan jaksa yang ada sekarang sudah bias” imbuhnya.

Senada dengan Jimly, Hakim Konstitusi Akil Mochtar meminta KPK agar menolak jika kepolisian ingin menyita rekaman. Kalau kepolisian tetap memaksa, menurut Akil justru akan menimbulkan kesan polisi takut rekaman itu dibuka di persidangan MK.

“Kalau pihak kepolisian memaksa untuk menyita rekaman, berarti takut rekamannya dibuka di MK. Ada apa dibalik itu. Kalau mereka tetap ngotot, MK bisa memerintahkan untuk tetap dibawa ke persidangan MK atas perintah pengadilan,” tegas Akil.(rie-Dari Republika dan mediaindonesia.com)

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: