Sekotak Coklat

Oleh: Siti Utari Rahayu

Bila malam tiba

Kuingin kehadiranmu

Menemaniku

Dalam sepi bersama angin

Tapi aku tak bisa

Tulisan itu kutemukan pada secarik kertas yang dikirim bersama dengan rangkaian bunga mawar merah. “Tulisan yang norak,“ pikirku setelah selesai membacanya. Kuletakkan bunga itu diatas meja dan aku pun segera pergi ke kamar menyelesaikan desain yang akan kukirim ke salah satu perusahaan iklan. Sebagai seorang perantauan, aku merasa perlu untuk mencari biaya hidupku sendiri, lagipula aku adalah anak pertama. Sebenarnya aku masih harus membantu orang tuaku untuk membiayai adik-adikku, tapi untuk sementara ini aku belum bisa membantu banyak. Kadang-kadang kalau aku sedang tidak kuliah, aku membantu pakdeku menjaga toko coklat kepunyaannya yang terletak di tengah kota Medan. Sebenarnya aku tidak mengaharapkan upah darinya, tetapi pakdeku selalu memberiku uang  setelah aku selesai menjaga toko dan aku tak bisa menolaknya, uang itu aku tabung dan pada akhir bulan aku kirim ke Barus, kampung halamanku.

Tahun lalu aku lulus di USU jurusan Ilmu Komputer, dan semenjak itu aku tinggal bersama pakdeku, kebetulan rumahnya dekat dengan kampus sehingga aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pergi ke kampus.

“San, bunga ini dari siapa?“ Tanya budeku dari ruang tengah.

Aku segera mendatanginya,“ Nggak tau bude, tadi pengantar bunganya nggak bilang, dan waktu Sandra tanya, dia bilang kalau si pengirim nggak mau diberi tahu namanya.“

“Oh…jangan-jangan dari pacar kamu, hayo ngaku!!“

“Siapa yang pacaran, bude kan nggak ngebolehin aku pacaran.“

“Terus, dari siapa, kalau mas Reza kan nggak mungkin dikirimi bunga ini. Kan nggak mungkin seorang cewek nulis kata-kata kayak beginian.“

“Inikan zaman canggih bude, cewek pun ada yang berani berbuat demikian, apalagi mas Reza ganteng, pasti fansnya banyak.“

“Ya udah, siapa pun yang kirim bunga ini harus kita hargai, bude mau pergi lagi nih.“

“Tok…tok…Tok…“

“Iya sebentar!“ Sahutku dari kamar, aku segera berlari menuju pintu depan. Setelah pintunya kubuka, seorang cowok berdiri di hadapanku, senyuman menghiasi wajahnya.

“Dek, saya mau pesan coklat,“ katanya masih dengan senyuman.

“Maaf mas, tapi kalau mau pesan di toko saja, bukan di sini, saya nggak ngerti,“ kataku kemudian.

“Saya bukan mau pesan sama toko tapi sama kamu.“

Betapa terkejutnya aku mendengar permintaaannya yang sangat aneh itu. “Sejak kapan  aku dikenal sebagai pembuat coklat?!“ pikirku, aku memandanginya dengan serius.

“Mas ini nggak salah orang ya? Saya ini bukan pembuat coklat, tapi seorang mahasiswa!”

“Iya, aku tahu kok, tapi aku ingin sekali mencicipi coklat buatanmu. Aku mohon, mungkin aku nggak akan pernah bisa mencicipi apapun di dunia ini, termasuk masakanmu.”

“Orang ini semakin ngawur,” kataku dalam hati. Aku pun menjadi takut kalau cowok ini sudah tidak waras, tapi penampilannya rapi dan kulihat dia mengendarai sepeda motor besar yang diparkir dihalaman rumah pakde.

“Ya sudah lah, aku akan membuatkannya untukmu, tapi aku tidak bisa menjamin rasa coklatnya enak, minggu depan saja mengambilnya.“

Kulihat senyuman mengembang di wajahnya, wajah yang sepertinya kukenal tetapi entah dimana. Dia pun segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih. Aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menceritakan kejadian ini pada budeku, juga pada mas Reza walaupun aku sangat dekat dengannya.

Ж Ж Ж

Kurindu suaramu memanggilku

Memberiku suatu harapan

Menemuimu kembali

Dalam kesunyian

Yang menjalar hingga ke tulang sum-sum

Namun aku tetap tak sanggup

Puisi aneh itu kembali aku temukan dalam rangkaian bunga mawar kuning yang dikirim ke rumah budeku tanpa ada nama si pengirim. Aku perhatikan bunga itu, persis sama dengan bunga mawar yang kuterima tiga hari lalu, hanya warnanya saja yang berbeda. Kali ini bude tidak lagi mempedulikan perihal bunga itu, hanya mas Reza yang masih penasaran dengan pengirim bunga itu.

“Sepertinya si pengirim sangat mengharapkan cinta dari seseorang, dan mas kira seseorang itu kamu, Sandra,“ Kata mas Reza , kami sedang bersantai di teras rumah.

“Jangan sok tahu deh mas, aku kan dari orok sampai sekarang nggak pernah pacaran dan kayaknya nggak ada teman cowok yang suka samaku.“

“Mungkin kamunya aja yang merasa begitu, kamu kan rada-rada nggak punya hati, tapi kamu harus hati-hati San, kalau cowok ini benar-benar suka sama kamu, pastinya sudah dari dulu dia utarakan perasaannya itu dan nggak dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini.“

“Lho kok jadi Sandra yang disidang, kan belum tentu bunga itu ditujukan untuk sandra, mana tahu itu dari fansnya mas Reza, mungkin aja si Tuti yang kirim bunga itu, dia kan suka banget sama mas Reza.“

Percakapan kami terhenti, sebuah sepeda motor berhenti di depan pagar dan aku mengenali pemiliknya, cowok aneh itu lagi, bahkan aku tidak tahu namanya. Dia segera memarkir motornya di situ dan masuk, kulihat senyuman itu lagi, sama seperti senyumnya pada saat pertama bertemu.

“ Maaf mas, saya Fandi, temannya Sandra,“ katanya sambil menyalami mas Reza.

“Oh, silahkan duduk, ada perlu dengan Sandra ya? Ayo masuk dulu, San, tolong ambilkan teh.”

Aku segera menuju dapur dan membuatkan teh untuknya. “Mengapa dia mengaku sebagai temanku, padahal aku tidak mengenalnya, dasar cowok aneh!“ kataku sambil membuat teh. Tak berapa lama kemudian aku sudah duduk di ruang tamu dengan cowok itu, mas Reza duduk di ruang tengah, aku tahu dia tetap mengawasi kami.

“Coklatnya belum jadi, janjiku kan empat hari lagi, kenapa kamu datang sekarang,“ kataku memulai percakapan, suaraku sengaja kupelankan agar mas Rzea tidak mendengarnya, bagaimanapun aku tidak mau kalau dia tahu tantang kejadian itu.

“Itulah makanya aku kemari, aku pikir waktu yang  kamu berikan terlalu lama, aku merasa waktuku sudah tak banyak. Bisakah dipercepat?“

“Orang ini benar-benar aneh, waktu apa maksudnya?“pikirku

“Ya sudah, aku akan mempercepat waktunya kalau kau menjawab pertanyaanku, key!“Kataku kemudian memancingnya agar memberi tahuku  tentang maksudnya selama ini.

“Aku mohon, kalau kamu ingin mengetahui tentang apa yang kuperbuat ini, kamu pasti nanti akan tahu sendiri.“

Aku memandanginya, sepertinya aku melihat kesunyian menyelimuti pandangannya, aku jadi teringat puisi aneh di karangan bunga itu, apakah cowok ini si pengirim bunga itu? Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya aku bisa saja mengorek keterangan darinya. Tapi aku tak sanggup untuk menolak permintaannya itu, wajahnya menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam.

“Baiklah, dua hari lagi, bagaimana?“kataku kemudian.

“Ok!Kalau begitu aku pulang dulu ya!Dua hari lagi kita bertemu!“Balasnya, Dia pun segera pamit pulang. Saat aku menuju kamar, aku melihat mas Reza sudah tidak ada di ruang tengah, dia sudah masuk kamar, aku yakin bahwa dia tidak mendengar percakapan kami tadi.

Ж Ж Ж

“Hari ini mas Reza tidak bisa menjemput Sandra pulang dari mengajar les, nanti tunggu saja di simpang biar pakde yang menjemput, karena pakde tidak tahu rumahnya,“ Kata pakde saat kami sedang sarapan. Hari ini mas Reza akan pergi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah pasca sarjana di sana, berarti mulai hari ini aku tidak akan dijemput olehnya lagi.

Aku terburu-buru masuk ke ruangan kuliah, aku baru saja pulang dari bandara mengantarkan mas Reza. Kulihat suasana masih sepi padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, seharusnya  kuliah sudah dimulai. Tiba-tiba Andra, teman satu jurusan, menghampiriku.

“San, ada surat nih buat kamu, dari seorang cowok, tadi dia kemari, karena kamu nggak ada jadi dia titip ini sama aku,“ kata Andra sambil menyerahkan surat itu.

Aku menerimanya dengan penuh tanda tanya.

“Kamu kenal cowok itu?“

“Nggak, emangnya kamu nggak kenal ya? Aku pikir dia itu pacar kamu.“

Aku hanya menggeleng, percakapan terhenti, Pak Galang, dosen mata kuliah Bahasa Pemrograman sudah datang.

Ж Ж Ж

Aku sudah tak bisa beranjak

Mimpiku terlalu jauh

Aku sebenarnya tak mau bangun

Aku ingin terus begini

Tapi aku harus pergi dengan sedikit kenangan.

Begitulah isi Surat yang kuterima, hanya puisi itu saja menghiasi kertas putih itu. Kulipat kertas itu dan kusimpan dalam tasku, aku segera menuju rumah Ani, murid lesku.Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara malam yang sangat dingin memaksaku untuk mengenakan jaket pemberian mas Reza, sambil jalan kurapatkan jaketku. Jalan itu sangat sepi, sebenarnya aku takut berjalan sendiri  tapi keadaan memaksaku untuk tetap berani. Tiba-tiba seorang lelaki menghadangku, gerakannya tampak sempoyongan sepertinya dia berada dalam pengaruh alkohol.

“Heh! Serahkan dompetmu, ayo! cepat!“ katanya sambil berusaha memegang tanganku, tapi aku berhasil mengelak.

Tiba-tiba dari arah belakang, seorang bapak menangkapku. Aku berusaha lepas darinya, tapi tidak berhasil.

“Tolong!!Tolong!“ Aku berteriak minta tolong sambil meronta-ronta berusaha lepas dari genggamannya. Sementara bapak itu menarikku, lelaki pertama tadi mengikutinya dengan sempoyongan. Keadaan jalan  saat ini memang sangat sepi, jalan ini memang jauh dari jalan besar yang ramai dan lagi di sekitar jalan ini lebih banyak tanah kosong dibanding rumah penduduk, sangat cocok bagi preman-preman untuk beraksi.

“Lepaskan gadis itu!” Teriak seorang cowok dari salah satu sudut jalan yang gelap.

“Siapa itu!” Balas bapak itu lagi sambil terus memegangiku.

Cowok itu muncul dan segera mengahajar lelaki yang mabuk tadi dan setelah itu dia menghajar bapak itu. Aku segera berlari ke tempat yang aman setelah lepas dari genggaman bapak itu. Kulihat dari jauh cowok itu tampaknya berbadan sedang, tidak tegap tetapi dia dapat menghajar bapak itu dengan mudah padahal bapak itu sangat berotot. Aku masih harus berhati-hati. Setelah mengikat kedua preman itu dibawah pohon mahoni, dia mendekatiku. Dalam gelap aku berusaha memandangi wajahnya dan sepertinya aku kenal wajah itu. “Ya ampun! Dia adalah cowok aneh itu, kenapa dia ada disini?Tapi wajahnya pucat sekali.“Pikirku.

“Kamu nggak apa-apa kan?“ katanya setelah dekat denganku.

“Nggak, kenapa kamu ada disini? Eh, maaf aku nanyanya nggak sopan, tapi aku sangat berterima kasih padamu“

“Nggak apa-apa kok dulu juga aku pernah melindungimu kan? Kamu pasti nggak ngerti, tapi biar waktu yang menjawabnya, aku kebetulan lewat aja, kamu kok pulang sendiri?“

Aku memandanginya, bicaranya tetap ngawur. Tiba-tiba dia mengipas-ngipaskan tangannya di depanku.

“Hallo…!!”
“Eh, iya maaf, mas Reza pergi ke Bandung jadi tidak menjemputku lagi, aku akan dijemput pakdeku di simpang itu, Dia tidak mengetahui rumah murid lesku.”

“Ya udah aku temani kamu di simpang depan itu sampai pakdemu datang.”

“Bagaimana dengan mereka?” Tanyaku sambil menunjuk kedua orang yang tadi menyerangku.

“Biarkan saja mereka,”

Kami berjalan ditemani bulan yang bersinar di atas kepala kami, sunyi, tak ada percakapan lagi antara kami. Aku memandangi jalan di depanku berharap akan segera sampai di simpang. Kanan kiri jalan dihiasi dengan pohon-pohon mahoni, mereka seakan-akan memperhatikan kebekuan diantara kami. Tapi aku tak peduli dengan lirikan pohon itu, aku tidak mempunyai bahan percakapan, dan entah mengapa aku merasa lebih dingin berada di sampingnya daripada ketika aku berjalan sendiri, mungkin itu hanya perasaanku saja.

Akhirnya kami tiba di simpang, kendaraan tak banyak yang berlalu lalang, malam sudah semakin larut.

“Jam berapa pamanmu menjemput?” Tanyanya memecah kesunyian.

“Sekitar jam setengah sebelas, mungkin sebentar lagi akan datang. Oh ya, coklatnya besok siang bisa diambil.“

“Oh, bisakah kamu mengantarkannya ke rumahku, ini alamatnya,“ katanya sambil menyodorkan selembar potongan kertas kecil.

“Ok!“ Kataku sambil mengambil kartu itu. Aku tidak bisa menolaknya karena dia telah melindungiku. Aku merasa berhutang budi padanya.

Pakdeku datang dengan mobilnya, beliau segera menghampiri kami. Fandi tersenyum padanya, aku segera menceritakan kejadian tadi pada pakdeku, beliau mengatakan sangat berterima kasih pada Fandi, mereka pun saling bersalaman, setelah itu aku dan pakde pulang.

“Tangan temanmu tadi sangat dingin, pakde tidak pernah berjabat tangan dengan orang yang tangannya sedingin temanmu itu, tapi kamu baik-baik aja kan San, ya sudah besok langsung pakde jemput dari rumah murid lesmu itu,“ kata pekdeku.

Aku mengangguk pelan. Aku sangat mengantuk dan berniat untuk tidur sebentar dalam mobil sambil berusaha melupakan kejadian tadi.

Ж Ж Ж

“Krincing…Krincing…“ Bunyi mainan ikan-ikanan yang  kugantung di atas tempat tidurku, mainan itu aku peroleh dari seorang cowok yang membelaku dari ejekan teman-teman sekolahku saat aku masih SD. Aku jadi teringat masa laluku, saat itu aku juga bersekolah di Medan, aku berteman akrab dengan cowok itu, namanya Arif, kami berpisah saat aku kembali pulang ke Barus. Saat itu aku berjanji bahwa aku akan datang ke Medan pada saat aku kuliah dan Arif berjanji padaku untuk mencariku jika aku kembali ke Medan, namun cowok itu nggak pernah datang. Mana mungkin dia bisa mencariku, pakdeku pindah rumah sejak aku pulang ke Barus sedang Arif hanya tahu rumah pakde yang lama, kota Medan begitu luas atau mungkin dia pun sudah lupa pada janjinya. Aku pun sudah lama berusaha melupakan janji itu tapi aku selalu teringat dan entah kenapa aku merasa dia bisa menepati janjinya. Namun wajahnya aku sudah agak lupa.“Apa mungkin cowok aneh itu si Arif ? Ah nggak mungkin kalau memang dia  pasti dia sudah mengatakannya dari awal. Mungkin aja, wajahnya memang terlihat familiar bagiku, ah pasti tidak!“Pikirku ragu.

Lamunanku dibuyarkan oleh bunyi mainan itu lagi. Aku sebenarnya heran dengan bunyi mainan itu karena setahuku aku telah menghilangkan lonceng-lonceng kecilnya, tapi aku tak mau ambil pusing, aku harus segera menyiapkan coklat pesanan itu dan mengantarkannya ke rumah Fandi, cowok aneh itu. Kebetulan hari ini memang aku tidak ada kuliah, aku pun sudah minta izin kepada pakdeku untuk tidak membantunya hari ini karena ada urusan.

Setelah dua jam bergumul dengan coklat, gula dan teman-temannya, akhirnya aku berhasil menyelesaikan coklat berbetuk hati yang manis dihiasi kacang mete dan keju diatasnya. Aku menyusunnya dalam kotak kertas berwarna merah jambu dan mengikatnya dengan pita, manis sekali. Sepertinya aku mulai menyukai cowok itu, walaupun dia itu aneh dan sangat misterius.

“San, ada bunga lagi nih, sekarang jelas untukmu, ada nama pengirimnya juga!“ Teriak budeku dari ruang tamu. Aku terkejut dan segera berlari kesana.

Aku mengambil rangkaian bunga itu, bunga mawar putih persis sama dengan rangkaian bunga yang dikirim beberapa hari yang lalu. Ada secarik kertas kecil yang diikatkan pada rangkaian bunga itu, dan lagi-lagi ada puisi aneh tapi jelas sekali bahwa puisi itu ditujukan kepadaku karena ada tulisan ’For Sandra’ di sudut kanan atas kertas dan tulisan ’From Fandi’ di kanan bawah, aku sudah menduga bahwa dialah yang mengirim bunga itu, aku heran atas apa yang dilakukannya. Aku membawa bunga itu ke kamarku dan membaca puisinya.

Kini aku sudah benar-benar kehabisan tenaga

Seperti bunga-bunga mawar ini

Yang kehabisan warna

Angin sudah meninggalkanku

Aku yakin saat ini kesunyian abadi telah memelukku

Suaramu tak terdengar lagi

Mimpiku telah usai

Tapi biarlah ini semua berakhir

Aku akan memikul  tanggung jawabku di dunia keabadian

Sekotak coklat itu mewakili hatiku.

Kuharap engkau menerimanya.

Aku merinding membaca puisi itu, seperti puisi kematian saja. “Pasti Fandi hanya bercanda, tadi malam aku masih bertemu dia kok,” pikirku. Aku pun memikirkan bunga-bunga mawar yang dikirimnya. Merah, kuning, putih, urutannya itu seperti menggambarkan orang yang akan segera kehabisan darah, Darah yang banyak disimbolkan dengan mawar merah, darah yang semakin berkurang disimbolkan dengan mawar kuning, dan darah yang habis disimbolkan dengan mawar putih. Jika seseorang kehabisan darah berarti itu menandakan kematian. Aku jadi semakin takut namun tidak mungkin, tadi malam dia masih tampak sehat walaupun agak pucat bahkan dia bisa menghajar dua preman.

Aku segera pergi menuju alamat yang tertulis di potongan kertas kemarin malam itu. Akhirnya aku sampai di sebuah gang kecil, gang mawar, seperti yang tertulis di kertas itu. Hatiku sedikit terkejut melihat bendera merah di depan gang itu. Tapi aku tetap berjalan dengan tegar menuju rumah nomor tujuh.

Aku celingukan mencari rumah dengan nomor tujuh, tapi akhirnya aku menyerah dan bertanya pada seorang ibu yang lewat. Dan betapa terkejutnya aku bahwa rumah yang kutuju sedang kemalangan, anaknya meninggal tadi malam. Aku semakin takut.

“Fandi meninggal kemarin, dia meninggal karena sakit kanker darah, sebelumnya dokter sudah meramalkan bahwa umurnya tinggal dua minggu lagi, tapi dia meninggal lebih cepat dari ramalan dokter itu,“ kata ibu Fandi sambil menangis setelah aku berhasil masuk ke dalam dan menyampaikan tujuanku datang ke rumah ini. Aku sangat terkejut, padahal dia kelihatan baik-baik saja tadi malam, mungkin itulah sebabnya wajahnya pucat kemarin. Aku jadi teringat dengan warna bunga mawar yang berbeda-beda, mungkin hal itu menyimbolkan sakit kanker darah yang dideritanya. Aku merasa sangat sedih, aku telah menantinya selama 7 tahun, namun saat ini dia telah pergi, rasanya air mataku hendak tumpah namun kutahan.

“Dia telah lama mengenal kamu, sewaktu kalian masih SD, kamu pasti mengenalnya, Ariffandi, kamu biasa memanggilnya Arif dulu, sejak dia tahu kalau dia menderita kanker, dia seperti kehilangan semangat hidup. Namun dia kembali bersemangat saat dia tahu kalau kamu kembali ke Medan, tepatnya tiga bulan yang lalu dia bilang kalau dia melihatmu di toko coklat saat dia mengantarkan temannya ke sana, dan saat itu dia terus berusaha mencari alamat kamu dan akhirnya berhasil juga,“ Ibu Fandi bercerita sambil terus menangis.

Sekarang aku jadi mengerti ucapan Fandi bahwa dulu dia juga melindungiku. Oh, mengapa aku begitu bodoh sampai tidak dapat menangkap maksudnya itu. Namun mengapa dia tidak mengatakannya langsung?

“Sandra juga turut berduka cita Bu, Sandra tidak akan pernah berjumpa lagi dengan orang sebaik Fandi, Ibu sabar ya…Tapi kenapa dia tidak langsung mengatakan bahwa dia itu Sahabat Sandra?“ Suaraku agak bergetar karena menahan rasa sedih.

“Itu karena dia takut kalau kamu juga ikut dalam dunianya yang sepi kalau kamu tahu bahwa dia Arif, sahabatmu yang selalu membelamu kalau kamu diejek teman sekolah kalian.“ Air matanya terus mengalir dan suaranya agak serak, kelihatan sekali kalau dia sangat bersedih. Aku hanya bisa diam, kupandangi foto Fandi yang dipajang di ruangan itu, aku merasa sangat bersalah karena tidak mengenali wajahnya saat pertama bertemu, namun wajahnya memang sangat berbeda, wajahnya tidak seperti wajah Fandi yang kukenal dulu.

“Arif meninggal semalam jam berapa Bu? Dia sempat menolong Sandra  dari gangguan preman pada jam sepuluh tadi malam dan kelihatannya dia baik-baik saja hanya kelihatan agak pucat,“ Kataku sambil memandangi wanita itu. Dia tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Apa aku salah bicara?“ Pikirku.

“Tapi itu tidak mungkin…“ Kata-katanya tidak dapat dilanjutkannya, wajahnya menjadi pucat, sweaternya dirapatkan, aku semakin sedih melihatnya sehingga aku pun memeluknya, namun aku masih heran dengan ucapannya barusan. Aku biarkan orang tua itu menangis sambil memelukku, samar-samar kudengar suaranya.

“Tidak mungkin itu Fandi, dia meninggal tadi malam jam sembilan lewat lima belas menit…“ Tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku sangat terkejut, aku yakin aku tidak sedang bermimpi tadi malam, bulu kudukku  pun berdiri. Sekotak coklat itu pun kuserahkan kepada ibunya, tapi ibunya menolaknya, dia bilang kalau Fandi berpesan agar coklat itu untukku saja, sebagai kenangan terakhir, perjuanganku membuat coklat itu adalah kenangan darinya. Ibunya juga menyerahkan surat terakhir dari Fandi.

Ж Ж Ж

Dear Sandra,

Aku tahu kalau selama ini kamu menantiku, mungkin kamu pikir aku sudah lupa pada janjiku. Ketahuilah bahwa aku tidak pernah melupakan kamu, kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Maafkan aku karena tidak bisa memberitahumu dari awal, aku tahu kalaua kamu pasti lupa pada wajahku, memang aku telah banyak berubah.

Aku sebenarnya tidak mau membawamu ikut dalam kesedihan yang kurasakan ini. Namun aku juga tak mau dirimu sedih karena aku tak menepati janjiku, jadi inilah caraku.

Sandra, aku harap kamu tidak sedih karena aku, ingatlah aku sebagai sahabatmu namun jangan biarkan waktumu larut dalam kesedihan. Maafkan aku…

Ariffandi

Begitulah isi surat yang kuterima, tak terasa air mataku menetes membasahi surat itu, kupeluk kotak coklat itu dengan erat,  semilir angin yang menembus masuk kamarku membelai rambutku, sepertinya angin itu hendak menghiburku. Kupandangi luar jendela, bunga mawar merah yang ditanam budeku menari-nari bersama angin malam, bulan purnama hanya terdiam, menyatu dalam lukisan alam di jendela kamarku itu. Aku sadar bahwa kini penantianku usai sudah.

“Krincing…Krincing…“ Mainan itu kembali berbunyi disertai goyangannya yang dipermainkan angin, padahal loncengnya telah hilang. Anehnya aku tidak takut, aku malah semakin merasa aman.

Medan, 2008

About sitiutarirahayu

I am a muslim

One response to “Sekotak Coklat”

  1. cwe manja says :

    widih aku mpe mrinding kak,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: