HIDUP DI LINGKUNGAN BERACUN

oleh Ika Sari Hartini

Saat menyusuri dasar Lautan Pasifik berkedalaman 8000 kaki ( 2440 m) dari permukaan air laut, tepatnya arah tenggara Acapulco Meksiko, terdapat saluran hidrotermal. Saluran hidrotermaladalah sebuah celah atau retakan di dasar laut yang mengeluarkan air panas yang mengandung asam. Saluran tersebut terbentuk dari lapisan kerak yang perlahan-lahan menyebar sehingga mengakibatkan magma bergerak menuju ke dasar laut untuk membentuk sumur magma. Pada akhirnya terbentuklah gunung laut atau bahkan pegunungan laut. Di saat patahan terbentuk pada pusat penyebaran, air laut akan meresap sejauh satu sampai dua mil ( 1,6-3,2 k m) menuju lapisan batuan panas. Air panas ini lalu kembali mengalir ke atas bersamaan dengan mineral dari batuan tersebut dan membentuk saluran hidrotermal.

Saluran tersebut biasanya terkumpul pada suatu area bawah laut yang dikenal dengan Yellowstone’s geyser basin. Masing-masing saluran biasanya mempunyai garis tengah antara setengah inci ( 1,27 cm) sampai 6 kaki ( 1,83 m). Area tersebut biasanya ditemukan pada kedalaman lebih dari satu mil ( 1,6 km), dan seringkali dijumpai di sepanjang puncak pegunungan laut.

Saluran hidrotermal merupakan oase yang di dalamnya terdapat sejumlah makhluk hidup yang tidak akan ditemukan di daerah bawah laut yang lain. Lebih dari 300 spesies baru ditemukan sejak saluran hidrotermal pertama ditemukan pada tahun 1977.

Salah satu makhluk bawah laut tersebut adalah cacing raksasa yang panjangnya 4 kaki ( 1.22 m). Salah satu ujungnya tertanam pada dasar laut sedang ujung lainnya mempunyai bulu yang bergerak seperti bunga yang tertiup angin. Pertumbuhan cacing raksasa yang mampu mencapai 33 inci ( 84 cm) per tahun ini menjadikannya sebagai binatang laut tak bertulang belakang dengan pertumbuhan tercepat.

Cacing raksasa ini merupakan anggota paling mencolok dari komunitas yang ada di sekitar saluran hidrotermal. Beberapa peneliti berpendapat, tak ada makhluk hidup yang mampu bertahan dengan keadaan lingkungan yang beracun, bersuhu tinggi, bertekanan tinggi serta sangat gelap. Tapi, pada tahun 1977 para peneliti menemukan cacing raksasa dan beberapa makhluk hidup lain di saluran di dekat pulau Gallapagos.

Selain cacing raksasa yang sampai saat ini hanya ditemukan di lautan Pasifik, terdapat pula cacing Jericho yang besarnya hampir sama dengan pensil, serta beberapa cacing berukuran lebih kecil yang hidup di dinding timbunan mineral yang ada di sekitar saluran. Juga terdapat remis, udang, kijing, dan kepiting pada beberapa saluran, namun spesiesnya berbeda dengan yang biasa dimakan manusia. Sampai saat ini para ahli masih melakukan penelitian bagaimana makhluk hidup tersebut mampu hidup dalam air laut yang mengandung racun yang bisa membunuh jenis kerang pada umumnya.

Air yang keluar dari saluran bisa mencapai 4000 C dengan tekanan yang sangat tinggi sehingga air laut tersebut tidak sampai mendidih. Namun intensitas panas hanya berada pada beberapa daerah saja. Beberapa inci saja dari lubang saluran termal suhu air bisa mencapai 20 C yang merupakan suhu bawah laut. Hampir semua makhluk hidup di sekitar saluran hidup pada suhu bawah laut.

Yang menjadikan mereka tetap hidup adalah senyawa kimia yang berasal dari saluran tersebut. Larutan kimia yang umumnya ada pada saluran adalah hidrogen sulfida, yang baunya seperti telur busuk. Larutan ini terbentuk pada saat air laut mencapai batuan yang mengandung sulfat di bawah dasar laut. Bakteri yang ada menggunakan hidrogen sulfida sebagai sumber energi sebagai pengganti sinar matahari.

Cacing raksasa tersebut tidak mempunyai sistem pencernaan, tidak memiliki mulut atau pun usus. Kehidupannya sangat tergantung pada bakteri-bakteri sebagai makanannya. Dalam tubuh cacing terdapat jaringan yang menyerupai bunga karang yang berisi bakteri. Bulu yang ada pada bagian atas tubuhnya berwarna merah, dan berisi darah yang mengandung hemoglobin. Hemoglobin ini mengikat hidrogen sulfida dan menghantarkannya menuju ke bakteri yang ada di dalam cacing. Bakteri mengoksidasi hidrogen sulfida dan mengubah karbon dioksida menjadi senyawa karbon yang merupakan sumber makanan cacing.

Penyelidikan daur hidup makhluk tersebut tidaklah mudah, karena para peneliti hanya bisa melakukan penelitian dengan cara memberikan cahaya pada makhluk tersebut yang biasanya hidup dalam kegelapan. Sejumlah spesies akan mati apabila dipindahkan dari lingkungannya.

Semua hal yang tersebut di atas semakin membuktikan bahwa Allah Maha Besar. Sembarang makhluk tidak mungkin dapat hidup di perairan yang mengandung racun. Akan tetapi bagi makhluk yang memang terdapat di sekitar saluran termal tersebut, zat beracun itu justru menjadi sumber kehidupan mereka. Ini dikarenakan makhluk hidup tersebut memang telah diciptakan bersamaan dengan segala kelengkapan tubuh dan metabolisme yang mampu memanfaatkan ‘zat beracun’ tersebut untuk kelangsungan hidupnya.

sumber: http://www.insight-magazine.com/indo/edisi_4.html#1

About sitiutarirahayu

I am a muslim

2 responses to “HIDUP DI LINGKUNGAN BERACUN”

  1. utarie says :

    ^-^ tulisannya bagus mbak… gag pa pa kan kalo saya posting di blog ini,
    Nama penulis dan sumber memang harus selalu ditampilkan, itu kan etika publikasi suatu tulisan he he…thanks ya mbak buat tulisannya…

  2. yellow star says :

    terima kasih untuk posting ini…, tidak menyangka ternyata nama saya juga masih di cantumkan… ^.^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: