Cerita Pendek

KANTONG PLASTIK MBOK JAMU

Oleh : Siti Utari Rahayu

Sudah dua hari ini Ani, anak Bu Murni sakit. Sebenarnya bukan masalah yang besar karena biaya pengobatan sudah ada, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini perasaan Bu Murni tidak enak. Hatinya seperti terganjal sesuatu, pikirannya pun selalu kacau, padahal Dia merasa tidak ada masalah dengan orang lain. ”Apa aku punya hutang yang belum terlunasi ya? Sepertinya tidak ada, jadi apa ya?” Pikir Bu Murni  sambil memandangi panasnya minyak di wajan penggorengan.

“Bu, mau minum jamu?” Tawar seorang wanita tua penjual jamu Membuyarkan lamunan Bu  Murni. Wanita itu berkebaya hijau, dipunggungnya tergantung keranjang jamu yang berisi botol-botol jamu, wajahnya dipenuhi kerut-kerut, namun matanya yang bersinar membuatnya kelihatan lebih muda.

“Boleh lah mbok,” ujar Bu Murni singkat.

“Ini Bu jamunya,” Kata mbok jamu itu sambil menyodorkan segelas jamu.Bu murni menerimanya dan membayarkan uangnya.

“Besok minum lagi Bu?”

“Boleh Mbok, Kalau bisa pakai beras kencur, saya sering masuk angin.”

“Iya Bu, makasih ya Bu.” Mbok jamu itu pun pergi dengan membawa beban yang berat di punggungnya.

¤¤¤

Sudah dua minggu ini Bu Murni menjadi langganan mbok jamu, wanita tua itu selalu datang dengan tersenyum walaupun tubuhnya sudah termakan waktu tapi semangatnya untuk hidup tak luntur. Sebenarnya Bu Murni agak kasihan melihat mbok jamu itu tetapi dia tidak bisa membantu banyak, hanya bisa membeli jamunya.

Seperti biasa mbok jamu datang ke rumah Bu Murni sore itu, udara sore begitu lembab dan mendung, agaknya hujan akan segera turun. Mbok jamu  meletakkan  keranjang jamunya di teras rumah Bu Murni, sore itu pengunjung kedai pisang goreng Bu Murni agak sepi, hanya ada dua orang tukang becak yang sedang menikmati gorengan dengan secangkir kopi.

“Ini Bu jamunya,”kata mbok jamu itu sambil merapikan barang-barangnya.        “Kok sepertinya buru-buru Mbok, nggak bawa payung ya?”Tanya Bu Murni, dilihatnya mbok jamu itu mengemasi beberapa kantung plastik warna hitam, berisi jamu-jamu bungkusan dengan terburu-buru.

“Nggak Bu, saya mau tukar uang di kedai sana, mau dikirim ke Jawa, untuk uang sekolah cucu saya,”ujar mbok jamu polos.

“Oh, begitu.”

¤¤¤

“Bu, nggak ikut pengajian?” Tanya Bu Sumarni, tetangga Bu Murni pada senin sore, senin itu akan diadakan pengajian mingguan Ibu-Ibu.

“Nggak Bu, lagi banyak pembeli,” jawab Bu Murni sekenanya sambil menggoreng pisang yang dibaluri tepung terigu. Pisang itu mengepul-ngepul di minyak yang panas, menebarkan aroma khasnya.

“Oh, ya sudah, kalau bisa minggu depan ikut ya Bu, libur sehari untuk ngaji kan tidak mengganggu, tambah ilmu, untuk menjaga diri dari godaan setan Bu. apalagi zaman sekarang ini, godaan banyak Bu.”

Bu Murni hanya tersenyum simpul, dia agak kurang senang dinasehati, apalagi di depan para pelanggannya, yang rata-rata juga tidak pernah mengikuti pengajian. Memang sudah 2 bulan ini dia tidak lagi mengikuti pengajian mingguan ibu-ibu, jangankan mengaji, shalat saja sering ditinggalkannya karena sibuk jualan pisang goreng. Di Lingkungan Sukaraya II ini sangat jarang orang mengikuti pengajian, paling delapan atau sebelas orang yang ikut pengajian. Tetapi, banyak sekali orang yang ikut arisan, selain bisa pamer baju dan perhiasan sekaligus sebagai sarana diskusi mingguan yang menu utamanya adalah gossip.

Sore itu, mbok jamu pun datang menawarkan jamunya kepada Bu murni. Dan seperti biasa mbok jamu itu menurunkan keranjang jamunya dan menuang beberapa jenis jamu ke gelas belimbing milik Bu Murni. Setelah menerima uang, mbok jamu itu pun pergi.

Bu Murni masuk ke dalam untuk meletakkan jamunya di meja, dia biasanya minum jamu selepas maghrib, saat jamunya sudah tidak hangat lagi. Dia pun kembali teras untuk menggoreng pisang, dilihatnya kantung plastik hitam tergeletak di teras rumahnya itu, diambilnya kantung itu dan setelah dilihat ternyata isinya uang.

Tangan Bu Murni gemetar memegang kantung plastik itu, dilihatnya kiri dan kanan seperti seorang pencuri sedang mengamati keadaan. Para pelanggannya tampaknya tidak ada yang memperhatikannya, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, ada yang sedang menghirup harumnya kopi, beberapa sedang asyik ngobrol membicarakan para calon presiden yang tidak sesuai dengan hati mereka.

Bu Murni pun segera beranjak dari tempatnya berdiri dan masuk ke dalam rumah, diletakkannya kantung plastik itu di atas lemari di ruang tengah, dan dia pun kembali ke teras untuk melanjutkan pekerjaannya.

¤¤¤

Kantung plastik itu biasa saja seperti kantung plastik murahan lainnya, hitam dan memiliki bau yang agak kurang sedap karena hasil daur ulang yang tidak sempurna. Tetapi, Bu Murni terus memandanginya, dia sedang mempertimbangkan isi kantung platik tersebut layaknya sedang menerima suap.

Uang yang ada di dalam kantung itu sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah, semuanya berupa uang pecahan seribu rupiah dan beberapa lembar pecahan lima ribu rupiah. Mungkin mbok jamu mau menukarkan uang ini ke kedai, pikir Bu Murni.

“Mak, ini uang Emak ya, banyak ya, adek kan baru sembuh, adek mau dibelikan hp dong, di sekolah Cuma adek yang nggak punya hp, teman-teman yang lain udah punya semua,” kata Ani, anak bungsunya Bu Murni manja sambil bergelayut di pangkuannya. Ani baru saja sembuh dari sakit demam berdarah, dan uang Bu Murni hampir habis untuk pengobatan anaknya itu.

“Emak kok diam aja?”

“Kamu minta sama ayah aja ya!’

“Kalau minta sama ayah nggak akan dikasih Mak, katanya adek masih kecil, padahal hp itu kan perlu, nanti kalau adek ada masalah di jalan, kan bisa telepon Mak.”

“Hmmm, ya sudah, besok ya jangan sekarang.”

“Hore, terima kasih Mak.” Ani pun segera berlari ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil, lagunya lagu cinta, lagu yang sebenarnya tak pantas dinyanyikan seorang anak kelas satu SMP.

Bu Murni kembali bimbang, sebenarnya dia ingin mengembalikan uang itu kepada Mbok jamu besok, tapi uang di dalam kantung plastik itu sangat menggodanya, dengan uang itu dia bisa membelikan hp Ani. ”Tak apa aku pakai sekarang uangnya, toh nanti bisa aku kembalikan, anggap saja aku sedang meminjam uang mbok jamu itu,” pikir Bu Murni.

”Tapi, kasihan mbok jamu itu, uangnya kan akan dikirim ke jawa untuk sekolah cucunya, lagipula nanti semua orang akan anggap aku mencuri,” hati kecil Bu Murni berbicara. ”Sudahlah, tidak usah menanggapi omongan orang tak akan ada habisnya, lagipula uang mbok jamu kan masih banyak, setiap hari jamunya habis terjual, ambil saja uang itu,” pikirannya kembali mengeluarkan pendapat. ”Jangan, kasihan mbok jamu itu sudah berjalan keliling kampung menggendong beban berat untuk mencari uang itu,” hatinya kembali memberontak.

“Mak, kok dari tadi melamun sih, lagi memikirkan apa?” Tiba-tiba Pak Bram, suami Bu Murni datang dan duduk disampingnya. Malam itu hujan turun begitu deras, petir menyambar dimana-mana, menimbulkan kilatan cahaya dan menggetarkan gendang telinga.

“Nggak apa-apa kok Yah. Sudah malam, kita istirahat saja.”

¤¤¤

“Bu, kemaren lihat ada kantung plastik nggak disini? Kantung plastik saya hilang, lupa meletakkannya dimana, seingat saya disini,” Tanya Mbok jamu itu sambil tersenyum.

“Kantung plastik apa mbok?warnanya apa?” Tanya Bu Murni kembali sambil sibuk mengupas Pisang kepok, dia berpura-pura tidak tahu mengenai kantung plastik itu. Langganan Bu Murni pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada wanita tua penjual jamu itu.

“Warnanya hitam, isinya uang Bu, mau saya kirim ke jawa, kemaren mau saya tukarkan karena hari sabtu lalu nggak jadi menukarnya, kedainya sudah tutup,” jawab mbok jamu itu polos, dari wajahnya tergambar harapan yang sangat dalam bahwa kantung plastik itu masih bisa didapatkannya.

“Sepertinya nggak ada mbok, kalau ada orang-orang disini pasti tahu, saya sendiri nggak melihatnya kemaren, mungkin bukan disini mbok meletakkannya,oh ya mbok hari ini saya nggak minum jamu,” kata Bu Murni berkelit, hal yang biasa dilakukan pejabat-pejabat kantor pemerintah.

“Nggak ada ya Bu, seingat Saya sih disini, tapi kalau nggak ada ya sudah saya cari di tempat lain saja, saya lupa meletakkannya dimana, maklum Bu, sudah tua,” Kata wanita tua sambil tersenyum, senyum untuk mengobati kekecewaaannya.

”Lain kali hati-hati Mbok kalau meletakkan uang,” kata salah satu langganan Bu Murni.

Mbok jamu itu pun pergi dengan perasaan kecewa ditambah lagi beban berat jamu yang digendong di punggungnya yang kurus. Bu Murni memandangi kepergiannya sampai menghilang di tikungan jalan. Ada perasaan bersalah hinggap di hatinya, menambah ganjal yang selama ini masih menghantui perasaannya. Tapi dia sudah terlanjur berbicara bohong, apalagi  Ani merengek-rengek minta dibelikan hp. Dia tidak sanggup melihat anaknya yang baru sembuh dari sakit itu harus menderita lagi karena tidak memiliki hp. Tiba-tiba Bu Murni merasa bahwa pikirannya itu terlalu egois dan tidak adil untuk mbok jamu itu. Nasi telah menjadi bubur dan hidup masih harus berlanjut.

¤¤¤

”Bu, si Ani hp-nya baru ya? Harganya berapa Bu? Saya mau beli juga, punya istri saya sudah rusak, jatuh di kamar mandi,” tanya Parmin, tukang becak langganan tetap Bu Murni.

Yang ditanya terkejut, perasaan bersalah itu kembali datang, seperti seekor burung gagak yang hinggap di cabang hatinya. Bu Murni berusaha menenangkan diri, dan mengatur ekspresi wajahnya, dia tidak ingin kelihatan gugup karena hal itu hanya akan menyebabkan orang lain curiga padanya. Berita tentang uang Mbok jamu itu telah menyebar dengan cepat di lingkungan Sukaraya II. Dan dia tidak ingin perbuatannya itu diketahui orang lain, apalagi oleh Bu Sumarni yang sering mengajaknya ke pengajian, gengsi.

”Bu! Ngelamun ya?”

”Ah, nggak kok. Iya, Ani saya belikan hp baru, cuma dua ratus lima puluh  ribu kok Min, belinya di jalan Seraya, pusatnya hp. Sekarang kan hp seperti itu lagi murah karena ada keluaran terbaru yang lebih canggih.”

”Saya sih nggak perlu yang canggih Bu, yang penting ada.” Percakapan pun terhenti, Parmin segera pergi setelah membayar uang pisang goreng.

¤¤¤

”Bu!!Jamu!!” Teriakan Mbok jamu itu membuat Bu Murni segera meninggalkan tempat tidurnya dan berlari ke teras rumahnya, sudah dua hari ini dia tidak enak badan sehingga tidak dapat berjualan pisang goreng, dan sudah seminggu ini Mbok jamu tidak pernah datang lagi  ke rumahnya, aneh. Padahal tiga hari setelah kejadian itu, mbok jamu itu masih datang.

Setelah sampai di teras, Bu Murni tidak menemukan mbok jamu itu, dia pun berlari ke pagar untuk melihat kalau-kalau mbok jamu itu masih ada di ujung tikungan, ternyata tidak ada.

”Mbok jamunya sudah pergi ya Ni?”Tanya Bu Murni pada Ani yang sedang menyiram bunga.

”Mbok jamunya nggak ada datang kok Mak.”

”Tapi tadi dia manggil-manggil?”

“Nggak ada yang yang datang kok Mak, mungkin perasaan Emak saja, kan lagi nggak enak badan.”

”Ya Allah!! Sampai seperti inikah perasaan bersalah itu,” pikirnya. Suara itu memang terdengar sangat nyata di telinganya, tapi ternyata hanya imajinasinya saja, suara-suara yang muncul dari bayang-bayang ketakutan. ”Bagaimana pula pejabat-pejabat yang mengambil uang rakyat itu bisa hidup seperti ini bertahun-tahun,” pikiranya lagi.

Selepas shalat isya, Bu Murni  tidak beranjak dari tempatnya shalat, pandangannya kosong menatap sajadah shalat yang bergambar kubah mesjid.

¤¤¤

Hari senin ini Bu Murni memutuskan untuk kembali mengikuti pengajian mingguan, dia tersadar bahwa perasaan gundah yang selama ini dialaminya terjadi karena dia tidak pernah lagi memikirkan kehidupan jiwanya. Jiwanya telah terperangkap dengan embel-embel materi sehingga menjadi ganjal yang menyesakkan , mengotori setiap alirah darah dan sel-sel otaknya. Tak seharusnya dia menjauhkan diri dari Allah, Sang Pencipta. Karena sakit selama tiga hari itu, dia jadi memiliki kesadaran untuk shalat dan berdoa, dan akhirnya Allah memberinya hidayah.

Sepulangnya dari pengajian, Bu Murni memutuskan untuk mengunjungi rumah Mbok jamu itu untuk meminta maaf dan mengembalikan uang yang telah diambilnya. Semuanya terasa begitu  ringan setelah mengikuti pengajian.

Wanita berumur 40-an itu berjalan menyusuri gang sempit, matanya memandangi setiap rumah, mancari rumah no.14, tempat mbok jamu itu tinggal. Alamat mbok jamu diperolehnya dari Minah, penjual sayur keliling tetangganya mbok jamu.

Akhirnya Bu Murni dapat menemukan rumah itu, rumah yang sangat sederhana dengan cat hijau yang sudah terkelupas disana-sini.

”Assalamu’alaikum.”

”Wa’alaikumsalam,” suara seorang lelaki menjawab dari dalam, kemudian lelaki itu keluar.

”Ada Mbok jamunya Pak?” Tanya Bu Murni langsung setelah lelaki itu berdiri di depan pintu.

”Maksud Ibu, nenek tukang jamu yang dulunya tinggal disini? Nenek itu sudah pindah Bu, kalau nggak salah kata orang sini, dia pulang ke Jawa, saya baru seminggu pindah ke rumah ini.”

Medan, 27 Mei 2009

About sitiutarirahayu

I am a muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: